Beranda > Berita Terbaru
Pemulihan Pascabencana

Nostalgia Meunasah Pidie Jaya

27 Feb 2017
Nostalgia Meunasah Pidie Jaya

ACTNews, PIDIE JAYA -  Kisah mengenai meunasah masih terus bergulir dari mulut para warga desa di Kabupaten Pidie Jaya. Di salah satu sudut Gampong Plandeuk Tunong, obrolan ringan bersama beberapa warga setempat berujung pada sebuah nostalgia.
 
Nostalgia itu terlantun dari seorang ibu rumah tangga yang tinggal persis di depan Meunasah Plandeuk Tunong. Ketika dijumpai pada Sabtu (18/2), Nuraini (35) tengah duduk santai di sebuah kursi rotan, memandangi meunasah yang tengah dibangun itu.
 
“Saya jadi ingat, dahulu itu saya sering ke meunasah buat mengurus acara pernikahan tetangga. Biasanya ibu-ibu sini kan suka diundang rapat panitia pernikahan sama yang punya hajat. Kalau yang sudah berkeluarga kayak kita mah, ditempatin di belakang dapur (masak -red). Kalau yang muda, biasa jadi penerima tamu atau yang memonitor ketersediaan makanan,” jelas ibu beranak tiga ini sambil terkekeh.
 
Jika melihat raut santai yang Nuraini tampakkan, tak akan ada yang mengira ia tengah dirundung kalut. Pasalnya, dua per tiga bagian rumahnya hancur total. Yang tersisa hanya sepetak ruang tamu yang juga dijadikan kamar tidur. Sementara area terbuka di sebelahnya ia jadikan dapur sementara. Walaupun hampir seluruh rumahnya kolaps, Nuraini merasa beruntung karena ia bersama suami dan tiga anaknya tidak terkena reruntuhan gempa.
 
Tak mau berlarut mengenang kejadian naas hari itu, di mana gempa 6,5 SR hampir menewaskan ketiga anaknya yang sedang sakit, Nuraini melanjutkan nostalgianya tentang meunasah. Baginya, acara yang paling menarik adalah ketika Maulid Nabi Muhammad SAW. “Kalau sudah Maulid, ramai sekali di sini. Warga desa pada kumpul, belum lagi warga desa-desa tetangga yang sering diundang untuk datang dan menyajikan hidangan kenduri yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Ramai dan semarak sekali deh pokoknya,” ujarnya.
 
Sulaiman (44), Keuchik atau Kepala Gampong Plandeuk Tunong pun mengungkapkan hal yang sama. Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi agenda wajib meunasah yang dikelolanya. Tak peduli meunasah mereka rubuh, acara Maulid tetap harus berjalan. Tidak lama setelah gempa saja, Plandeuk Tunong mengadakan acara Maulid di seberang meunasah dengan menggunakan tenda. 
 
“Kemarin itu ramai sekali acaranya. Saya juga hampir tidak percaya. Semuanya menghadiri Maulid dengan khidmat, bertukar sapa, menikmati kenduri mereka―seperti tidak pernah terjadi gempa saja,” kenang Sulaiman.
 
Berbeda dengan Nuraini dan Sulaiman, Sartika (29) punya nostalgia lain tentang meunasah. Di salah satu balai tak jauh dari tenda pengungsian yang dihuninya, istri Keuchik Gampong Kuta Pangwa ini memulai kisahnya.
 
Gampong Kuta Pangwa menjadi desa yang terkena dampak gempa terparah se-Kabupaten Pidie Jaya. Hampir seluruh pemukiman warga hancur total, sementara 15 jiwa terenggut. Satu di antaranya adalah mertua Sartika.
 
“Kalau Ramadhan itu, saya, Mamak, dan ibu-ibu di sini suka buat makanan untuk berbuka puasa bersama di meunasah. Yang biasa berbuka puasa di meunasah itu kan bapak-bapak dan anak-anak. Nah, kita sore-sorenya sudah menyiapkan nasi dan lauk-pauk untuk mereka bawa ke meunasah,” ungkap Sartika.
 
Kini, dengan tidak adanya sosok “Mamak”, Sartika merasa Ramadhan beberapa bulan ke depan tidak akan lagi sama. Tidak ada lagi teman untuk beribadah maupun teman untuk menyiapkan hidangan berbuka bagi keluarganya.
 
 
Proses Pembangunannya Cepat
 
Bagi Sartika dan warga Aceh pada umumnya, Ramadhan menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hampir sebagian besar ibadah di bulan Ramadhan, dilakukan di meunasah tak jauh dari rumahnya itu. Mulai dari salat wajib berjamaah, salat tarawih berjamaah, hingga buka puasa bersama. Oleh karenanya, ia sangat berharap Ramadhan nanti, meunasah desanya yang tengah dibangun ulang dapat segera digunakan kembali.
 
“Tapi saya optimis sekali ya, meunasah ini insyaAllah sudah bisa dipakai pas puasa nanti. Lihat saja pembangunan tempat produksi batu bata di sana, yang sama-sama dibangun oleh ACT, dua minggu selesai. Ini juga meunasah kelihatannya sudah hampir jadi. ACT itu cepat ya, sesuai namanya,” tawa Sartika.
 
Sambil memandang kosong rangka barak yang tengah disusun oleh para pekerja bangunan, Sartika bergumam lirih. “Tidak apa-apa untuk sementara ini kita masih di tenda pengungsian. Tapi setidaknya meunasah di sana sudah mau jadi, sehingga kami bisa salat tarawih Ramadhan nanti,” harapnya.

Sesuai rencana, pembangunan ulang meunasah di beberapa wilayah di Pidie Jaya ditargetkan selesai sebelum Ramadhan tiba. Hingga saat ini, sudah ada lima meunasah yang tengah direkonstruksi, di antaranya Meunasah Grong Grong Krueng, Meunasah Rhieng Krueng, Meunasah Plandeuk Tunong, Meunasah Meue, dan Meunasah Kuta Pangwa. Tidak hanya itu, sejumlah meunasah yang mengalami kerusakan kecil turut direnovasi. Misalnya saja, dua meunasah di Uteun Bayu, Meunasah Sawang, Meunasah Blang Iboih, dan Meunasah Nhangroe Timur.

Melalui program Wakaf Meunasah, ACT terus berupaya membangun kembali sejumlah meunasah lainnya yang hancur diguncang gempa. Membangun meunasah, membangun kembali salah satu pusat peradaban masyarakat Aceh. [] 

Penulis: Dyah Sulistiowati