Beranda > Berita Terbaru
#IndonesiaDaruratBencana

Banjir 2017: Penyebab dan Cakupan Wilayah Terdampak

28 Feb 2017
Banjir 2017: Penyebab dan Cakupan Wilayah Terdampak

ACTNews, JAKARTA - Frekuensi bencana banjir, longsor, dan puting beliung di penghujung Februari 2017 terus meningkat seiring dengan tingginya curah hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah di Indonesia. Lantas, apa saja faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka bencana banjir dan longsor tersebut?
 
Peningkatan potensi curah hujan di Indonesia dinilai sebagai faktor utama penyebab meningkatnya aktivitas kebencanaan di Indonesia selama musim hujan. Laman detik.com sendiri memaparkan, tingginya potensi curah tersebut disebabkan adanya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang menyelimuti hampir seluruh wilayah Indonesia. MJO merupakan suatu fenomena atmosfer yang mempengaruhi adanya penambahan curah hujan di daerah yang dilaluinya.
 
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia menambahkan adanya faktor lain yang menyebabkan banyaknya bencana banjir yang ada. Melalui laman detik.com, Yuliarto selaku Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS KLHK, memaparkan, buruknya kondisi hulu dan hilir di beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) turut mempengaruhi bencana tersebut.
 
Menurutnya, hulu DAS memiliki fungsi sebagai resapan air. Sebagian air hujan diserap oleh hulu DAS, sementara sebagian lainnya dialirkan dalam bentuk banjir. Jika air yang dialirkan lebih banyak dari yang diserap, maka kemungkinan suatu daerah terendam banjir itu ada.
 
Sementara itu, kapasitas pengaliran hilir DAS juga menentukan apakah suatu wilayah terdampak banjir atau tidak. Jika kapasitas pengaliran/saluran sungai besar dan mampu mengalirkan air ke laut, maka wilayah tersebut akan aman dari banjir. Masalahnya adalah, imbuh Yuliarto, beberapa kapasitas pengaliran hilir DAS lebih kecil daripada kapasitas sungai, baik itu secara alami maupun ada campur tangan manusia dalam penyempitan saluran sungai. Sehingga, banjir tidak dapat dielakkan.
 
Tentang frekuensi kebencanaan sendiri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, hingga Februari ini setidaknya sebanyak 654 bencana terjadi di musim penghujan ini. 
 
Dikutip dari Detik.com, Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, memaparkan bahwa sejumlah wilayah di 25 provinsi dan 121 kota/kabupaten di Indonesia terendam banjir. Bersamaan dengan itu, longsor juga melumpuhkan beberapa daerah di 13 provinsi dan 69 kota/kabupaten.
 
Massifnya peristiwa bencana tersebut menyebabkan puluhan jiwa meninggal, ratusan orang luka-luka, dan ratusan ribu warga mengungsi. Tidak hanya itu, ribuan rumah warga serta ratusan fasilitas umum mengalami kerusakan ringan hingga berat. Kabar buruknya, Sutopo berpendapat, bencana seperti itu diperkirakan akan terus meningkat hingga April 2017. Berikut adalah sejumlah wilayah di Indonesia yang terdampak banjir maupun longsor.
 
 
Kabupaten Kendal, Jawa Tengah
Banjir bandang menerjang Kabupaten Kendal pada Minggu (26/2). Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir yang terjadi di Dusun Kenjuran, Desa Purwosari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal tersebut setidaknya menewaskan dua warga dusun.
 
Selain memakan korban jiwa, banjir bandang tersebut juga merendam ratusan rumah di Dusun Kenjuran dengan. Sembilan belas unit di antaranya rusak ringan dan berat. Sementara dua rumah lainnya hanyut dibawa banjir. Dari kejadian ini, sebanyak 982 warga terpaksa mengungsi di masjid dusun.
 
 
Dieng, Wonosobo
 
Di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, banjir bandang menghantam sejumlah wilayah pada Minggu (26/2). Menurut warga setempat, banjir bandang tak terelakkan akibat meluapnya aliran Sungai Kalijaran dan Sungai Serayu. Parahnya, banjir bandang selama beberapa jam tersebut juga disertai longsor di area lereng Gunung Prua, Desa Parikesit.
 
Dari kejadian tersebut, Diengpos melaporkan banyak warung atau toko di rest area 007 Parikesit luluh lantak. Tidak hanya itu, banjir bandang tersebut juga menghanyutkan sekitar lima ton bibit kentang milik para petani. Banyak warga kehilangan harta benda mengingat banjir hampir menyapu bersih rumah, toko, dan lahan pertanian mereka. Namun, hingga saat ini, jumlah kerugian materi yang dialami warga masih belum bisa dipastikan.
 
 
Pamekasan, Madura
 
Awal Januari lalu, BPBD sempat melaporkan bahwa enam kelurahan di Pamekasan, Jawa Timur, terendam banjir dengan ketinggian satu hingga dua meter. Selang beberapa pekan, banjir kembali menggenangi perumahan warga pada Senin (27/). Keenam kelurahan tersebut antara lain Kelurahan Gladak Anyar, Patemon, Jungcangcang, Barurambat Kota, Parteker, dan Kelurahan Patemon. Luapan Kali Semajid dan Kali Jombang ditengarai menjadi penyebab musibah banjir tersebut, setelah sebelumnya hujan deras mengguyur bagian utara Pamekasan sejak pagi hingga sore hari.
 
 
Karawang
 
Selama beberapa pekan terakhir, sudah lima kali Karawang diterjang banjir. Senin (27/2), ketinggian banjir dilaporkan mencapai 1,5 meter. Diberitakan oleh Antara, Desa Karangligar menjadi lokasi terparah yang terkena dampak banjir akibat meluapnya Sungai Cibeet. Di sana, setidaknya 460 rumah terendam dan lebih kurang 1.702 warganya mengungsi di posko-posko pengungsian.
 
 
Garut
 
Minggu (26/2), Garut kembali dihempas banjir. BPBD Garut melaporkan, hingga Senin (27/2), setidaknya 60 rumah di dua desa di Kecamatan Sukaresmi, yakni yakni Desa Sukamulya dan Desa Sukalilah, terendam air berlumpur hingga ketinggian satu meter. Adapun penyebab dari banjir bandang tersebut adalah tingginya curah hujan yang mengguyur Garut selama tiga hari, sehingga membuat Sungai Cikeruh meluap dan membanjiri dua desa tersebut.
 
BNPB memperkirakan bencana banjir dan longsor masih akan terus bertambah mengingat musim hujan masih akan berlangsung hingga April. Sementara itu, beragam bantuan kesehatan, pangan, air bersih, dan pakaian layak pakai menjadi kebutuhan utama para pengungsi banjir. []
 
Editor: Dyah Sulistiowati
Sumber Foto: Okezone, Detik, Tribunnews, Merdeka, Kompas