Beranda > Berita Terbaru
Tepian Negeri

Suara Anak SD Negeri Folangkai, Alor

01 Mar 2017
Suara Anak SD Negeri Folangkai, Alor

ACTNews, ALOR - Bagi siswa yang bersekolah di daerah urban maupun kota besar, pemandangan lautan dan pegunungan yang dapat dilihat dari balik jendela sekolah adalah suatu hal yang jarang atau bahkan langka. Bagi murid SD Negeri Folangkai, pemandangan seperti itu dapat mereka nikmati dengan mudahnya. Hanya perlu keluar ruangan kelas, birunya lautan dan pegunungan terpampang begitu saja. Kondisi sekolah yang dekat dengan alam ini mungkin banyak diidamkan oleh para murid di kota besar, di mana bangunan berhimpit tanpa celah. Namun, jika melihat kondisi fisik SDN Folangkai, sangsi rasanya bahwa sekolah itu akan diidamkan.
 
Bukan berdinding beton, bukan beratap genting ataupun berlantai keramik seperti kondisi fisik sekolah di kota besar pada umumnya. Lapisan anyaman bambu masih menjadi dinding dan sekat yang memisahkan kelas. Tak ada lantai keramik sebagai alasnya, tak ada pula genting yang menutup atap sekolah dari panas dan hujan. Yang ada hanya alas tanah dan atap rumbia.
 
SD Negeri Folangkai menjadi salah satu dari sekian banyak sekolah di pelosok Indonesia yang masih cukup tertinggal. Letaknya nun jauh di Kampung Pancoran, Desa Wolwal Tengah, Kecamatan Abad, Kabupaten Alor. Dari Desa Wolwal saja, siapa pun harus menempuh jarak lebih kurang 5 km untuk mencapai sekolah tersebut.
 
Sebelum sekolah ini didirikan di Kampung Pancoran, anak-anak setempat menuntut ilmu di dua sekolah induk yang berada di pusat desa, yaitu MIs Babul Jihad dan SD Inpres Matap. Otomatis, setiap harinya mereka harus menempuh jarak 5 km untuk bersekolah.
 
“Kalau sekarang, anak-anak tinggal jalan sekitar 1 km dari rumah mereka. Lumayan, daripada sebelumnya harus jalan jauh sekali,” ungkap Usman, salah satu relawan ACT di Kabupaten Alor.
 
Sejak didirikan pada 2013, SDN Folangkai belum mendapatkan renovasi sedikit pun. Ruang kelas hanya ada tiga dan ketiganya cuma bisa digunakan untuk kegiatan belajar kelas 1 hingga 3. Sementara untuk kegiatan belajar kelas 4, para murid harus menumpang di rumah warga sekitar.
 
Bagaimana dengan ruang guru dan kepala sekolah? Demi kelancaran kegiatan belajar muridnya, para guru dan kepala sekolah rela mengalah dan berkantor di luar “gubuk bambu” itu. Ruangan mereka ada di bawah pohon asam, tak jauh dari kelas murid.
 
Lebih memprihatinkan lagi, ketika hujan deras, siswa-siswi seringkali harus dipulangkan karena kondisi sekolah yang rawan roboh. Di beberapa bagian terdapat lubang yang cukup mengaga, sehingga khawatir membahayakan siswa yang sedang belajar.
 
“Padahal, semangat belajar mereka itu luar biasa. Kalau bukan karena hujan deras, mereka selalu masuk sekolah. Pulang sekolah jam satu, lalu lanjut mengaji sampai jam tiga di masjid. Kira-kira 200 meter dari sini lah lokasi masjidnya,” ujar salah satu guru.
 
Para guru pun tak pernah kehilangan semangat membagi ilmu kepada 47 murid mereka. Dari 10 guru yang mengajar, 9 di antaranya adalah guru honorer yang berpenghasilan 50 rupiah per tiga bulan. Namun, terlepas dari keterbatasan yang ada, mereka senantiasa menyalakan semangat belajar para siswa.
 
Keinginan memiliki gedung sekolah yang layak adalah impian bagi para guru dan juga siswa SD Negeri Folangkai. Dengan kondisi gedung yang baik, mereka tidak perlu khawatir lagi ketika kayu penyangga bangunan berderit di saat jam belajar. Mereka juga tidak perlu lagi absen masuk sekolah setiap kali hujan deras mengguyur. Dan ini adalah suara dari mereka yang tak putus asa menuntut ilmu di tepian negeri. []
 
Penulis: Dyah Sulistiowati