Beranda > Berita Terbaru
#IndonesiaDaruratBencana

Fakta dan Analisis 214 Kali Rentetan Gempa Sumatera Utara

01 Mar 2017
Fakta dan Analisis 214 Kali Rentetan Gempa Sumatera Utara

ACTNews, MEDAN - Dua bulan terakhir, kekhawatiran akan gempa bumi dirasakan betul oleh sebagian besar warga di Provinsi Sumatera Utara. Berkali-kali gempa berkategori kecil sampai sedang menggetarkan permukaan, membuat goyang benda-benda yang tergantung dan tinggi menjulang. Semua berawal dari gempa Sumatera Utara 5,6 Skala Richter, 16 Januari 2017 silam. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah 1 Medan mencatat ada lebih dari 214 kali gempa susulan, namun trennya cenderung menurun.

Gempa-gempa susulan yang terjadi setelah 16 Januari 2017 lalu umumnya mengguncang wilayah-wilayah yang serupa dengan besar getaran yang bervariasi. Episentrum gempanya menyebar dari titik Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Karo, sampai dengan Kepulauan Nias di sebelah timur Pulau Sumatera.  

Apa sebetulnya yang memicu perulangan gempa bumi dalam jumlah lebih dari 214 kali kejadian di Sumatera Utara?

Bicara fakta dan analisis, BBMKG Wilayah 1 Medan menghitung setidaknya sejak 16 Januari sampai dengan 14 Februari lalu, Sumatera Utara sudah diguncang gempa sebanyak 214 kali. Gempa terjadi siang dan malam, sifat gempa yang terasa sampai ke permukaan adalah gempa tektonik. Artinya gempa terjadi karena pergerakan tektonik lempeng atau patahan atau sesar di bawah permukaan Bumi.

Rinciannya, di hari 16 Januari lalu ada 22 kali gempa, 17 Januari 27 kali gempa, 18 Januari 24 kali gempa, 19 Januari 26 kali gempa, dan 14 Februari 32 kali gempa.

Analisis awal BBMKG Wilayah 1 Medan mengatakan rentetan 200 kali gempa bumi di Sumatera Utara dalam rentang sebulan terjadi karena aktivitas kerak bumi dangkal (shallow crustal earthquake) yang memicu sesar atau patahan di sekitar wilayah Sumatera Utara untuk bergerak aktif.

Namun demikian, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono memastikan bahwa rentetan gempa Sumatera Utara terjadi karena sesar lokal. Meskipun letak episentrumya berada relatif dekat dengan zona sesar besar.

BMKG punya catatan, di sepanjang garis sesar wilayah Gunung SIbayak, Sibolangit, dan sekitarnya memang terdapat sebaran beberapa struktur sesar lokal. Sayangnya banyak sesar lokal ini belum memiliki nama sehingga menyulitkan untuk dianalisis lebih jauh.

Untuk diketahui, dalam kajian tentang gempa bumi di Indonesia, wilayah Pulau Sumatera berada persis di atas pertemuan dua lempeng besar dunia, yakni Lempeng Eruasia dan Lempeng Indo-Australia. Kedua lempeng besar ini bertemu di satu titik di sepanjang pesisir barat Sumatera dari Aceh di Barat Laut sampai ke Lampung di Tenggara.

Seorang pakar kegempaan dari bagian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja menjelaskan, setidaknya di tanah Sumatera ada tiga zona sesar gempa bumi yang terbentuk akibat subduksi Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Tiga zona besar ini patut diwaspadai pergerakannya juga titik-titik seismic gap yang mengitarinya.

Tiga zona ini meliputi megathrust Andaman, Patahan Semangko, dan Patahan Mentawai.

Bicara fakta lainnya, 214 kali gempa tektonik di Sumatera Utara dalam sebulan terakhir “hanya” menimbulkan guncangan maksimal skala III-V MMI (Modified Mercally Intensity). Skala yang dilihat dari peta guncangan ini tidak berpotensi menimbulkan kerusakan bangunan. Meski memang guncangannya bisa membangunkan warga yang terlelap dan membuat kepanikan keluar dari rumah.

Menyikapi deretan kabar tidak jelas yang telanjur beredar dan disebar ulang di sejumlah lini masa, BBMKG Wilayah 1 Medan menegaskan bahwa masyarakat harus tetap tenang. Ikuti kabar valid dari portal BPBD dan BMKG setempat.

“Jangan terpengaruh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” kata Syahnan selaku Kabid Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah 1 Medan.

Sepekan terakhir, ada sejumlah pesan tidak bertanggung jawab yang beredar luas di masyarakat. Pesan itu menyatakan “bakal ada gempa besar enam bulan ke depan (sekitar tanggal 8-9 Agustus 2017). Kekuatan gempa diperkirakan antara 5 hingga 9 SR. Kota Medan diperkirakan akan mengalami dampak terberat”.

Benarkah demikian?

Padahal kenyataannya sampai hari ini belum ada teknologi sama sekali yang bisa tepat memprediksi tentang gempa yang bakal terjadi di masa depan. Apalagi sampai mengeluarkan kemungkinan tanggal kejadian gempa di masa depan.

Faktanya getaran gempa berada jauh di dalam permukaan bumi. Alat seismograf hanya membaca kekuatan gempa yang dilepaskan energinya sampai ke permukaan Bumi. Getaran itu yang kemudian dicatat dalam skala hitungan “Richter”. []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal