Beranda > Berita Terbaru
#IndonesiaDaruratBencana

Trauma Banjir Garut Terulang, Warga Lari Terbirit Bedol Desa

01 Mar 2017
Trauma Banjir Garut Terulang, Warga Lari Terbirit Bedol Desa

ACTNews, KABUPATEN GARUT - Apa hal paling sulit dilupakan setelah pulih dari bencana dahsyat yang menggulung di hari kemarin? Tiap mereka yang pernah merasakan nestapa diterjang bencana, tentu jawabannya hanya rasa takut dan trauma. Takut itu membekas, trauma itu enggan pergi dalam ingatan.

Ini cerita tentang trauma banjir Garut yang menggulung hebat bulan September tahun kemarin. Ratusan warga yang tinggal tidak jauh dari Sungai Cimanuk, Kabupaten Garut Jawa Barat tiap hujan lebat masih menyimpan rasa takut dan trauma, perasaan itu membekas dalam memori kolektif warga Kabupaten Garut.

Selasa malam (28/2) hujan lebat mengguyur Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Warga di Kampung Paris, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul melihat hujan dalam kecemasan yang menjadi-jadi.

Ketika debit sungai Cimanuk mulai meluap hampir sekian senti lagi dari bibir sungai, seratusan warga Kampung Paris terpaksa bedol desa untuk sementara waktu. Mereka lari mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Dalam hujan deras, warga yang panik berlarian memanggil tetangga di kanan-kiri rumahnya. Tujuan mereka sama, ada sebuah bangunan masjid cukup besar di sebelah atas Kampung Paris.

Fachrul, salah seorang tokoh pemuda Kampung Paris menceritakan, malam kemarin Selasa (28/2) tetangga-tetangganya di kampung teringat lagi dengan trauma dan takut mereka karena banjir Garut September tahun lalu. Warga takut air Sungai Cimanuk akan kembali menggenangi rumah mereka.  

“Mereka mengungsi karena takut banjir bandang datang lagi seperti tahun kemarin. Trauma yang sulit dilawan,” kata Fachrul seperti dikutip dari Antara.

Kata Fachrul, kurang lebih ada 150 orang tetangganya dari berbagai usia ikut berlarian kabur sejauh mungkin dari bibir sungai. Banyak pemuda dan laki-laki Kampung Paris menyelamatkan terlebih dahulu ibu-ibu, lansia dan anak-anak keluar dari rumah masing-masing.

“Ibu, anak-anak terutama lansia kami dahulukan. Baru kemudian kami kembali ke rumah menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan sebelum banjir betulan terjadi,” kisah Fachrul. Sampai sekian jam berikutnya, Alhamdulillah debit air Sungai Cimanuk perlahan mulai surut.

Dalam beberapa hari ke belakang intensitas dan curah hujan di Garut berada pada puncaknya. Serupa dengan wilayah lainnya di Indonesia, deras hujan terjadi juga di Garut dan sekitarnya.

Masih teringat betul sebuah trauma, bulan September tahun lalu banjir dahsyat menggulung tujuh kecamatan sekaligus. Merusak lebih dari 500 bangunan. Dan menelan 26 korban jiwa, juga 23 korban hanyut lenyap tidak ditemukan. Padahal di tahun-tahun lalu, Garut atau dikenal sebagai Swiss van Java merupakan wilayah yang jarang sekali digulung bencana banjir. Kontur Garut berada di ketinggian, daerah hulu sungai yang mengalir jauh sampai ke Waduk Jatiluhur maupun di Pantai Utara Jawa. []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal