Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity

Krisis Pangan Meledak di Sudan Selatan

02 Mar 2017
Krisis Pangan Meledak di Sudan Selatan

ACTNews, SUDAN SELATAN - Sebuah negara paling muda di dunia, baru saja memerdekakan diri bulan Juli tahun 2011. Pisah dari salah satu negeri terbesar di tanah Afrika, negeri baru yang rapuh ini kemudian memproklamirkan dirinya sebagai Sudan Selatan, pecahan dari negeri Sudan.

Menjadi negeri baru bukan berarti semuanya serba mudah, hanya hitungan dua tahun setelah proklamasi negerinya, Sudan Selatan pecah perang saudara Bulan Desember tahun 2013. Politik dan perseteruan antar etnis yang berbeda menjadi pemicnya. Empat semester setelah perang saudara meletus, kalimat perdamaian sempat terucap tahun 2015.  

Namun damai yang terjadi tahun 2015 itu nyatanya hanya sebuah retorika semu. Tak ada artinya sama sekali bagi warga Sudan Selatan yang rapuh. Sejak pecah perang tahun 2013, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan Sudan Selatan berada di ujung tanduk genosida.

Sejak pecah perang saudara, tiga kali pula Sudan Selatan ditetapkan sebagai negeri di tapian jurang kelaparan massal. Ekonomi negeri anom itu kolaps, ambruk karena perang terus berlangsung bahkan sampai hari ini.

Di ujung jurang kelaparan massal

Hingga akhirnya, Februari 2017 sekali lagi Sudan Selatan ditetapkan berada dalam kasus kelaparan akut. Krisis pangan meledak di seluruh wilayah negeri itu.

Melansir kontributor PBB untuk Sudan Selatan, sejak perang saudara meletus tahun 2013 lalu, Ekonomi Sudan selatan pun anjlok tak karuan. Bayangkan sebuah negeri baru dengan pemerintahan baru harus menghadapi kemerosotan ekonomi ratusan persen hanya dalam tiga tahun terakhir. Angka inflasi di Sudan Selatan remuk terpuruk mencapai angka 800%!

Artinya mata uang yang berlaku di Sudan Selatan sudah tak ada lagi harganya. Inflasi ini pun terus bertambah sampai hari ini, makin memperluas krisis pangan ke seluruh wilayah negeri gersang itu. Harga makanan tak lagi mampu ditebus karena pekerjaan yang nihil, mata uang makin ambruk karena inflasi hampir menyentuh 1000 persen.

PBB menuliskan dalam sebuah laporan terkini di Bulan Februari 2017 lalu, sedikitnya 1 juta anak-anak Sudan Selatan hari ini berada dalam kasus malnutrisi. Setengah populasi dari warga Sudan Selatan tak punya cukup makanan untuk bertahan hidup. Berapa jumlah seluruh warga Sudan Selatan? sensus tahun 2013 menghitung ada 11,3 juta penduduk negeri itu. Artinya setengah dari populasi atau sekitar 5,65 juta warga Sudan Selatan tidak punya makanan untuk menyambung hidup.

Mereka yang tak kuat dengan kondisi nelangsa di negerinya, akhirnya memilih untuk pergi menjadi pengungsi. Pelarian pengungsi asal Sudan Selatan mengarah ke Uganda.
Pemerintah Uganda baru-baru ini juga merilis data, sekitar 670.000 jiwa warga Sudan Selatan kini ditampung menjadi pengungsi di Uganda.

Sementara itu data lainnya dari Dewan PBB untuk Pengungsian mencatat ada 1,5 juta warga Sudan yang terpaksa lari dari kampung mereka. Lari dari krisis kemanusiaan, lari dari kekerasan konflik saudara yang makin menjadi-jadi. Lari dari kemungkinan kelaparan akut di dalam negerinya sendiri.

Di atas kertas putih, Sejuta lima ratus ribu jiwa pengungsi ini memang hanya hitungan statistik semata, bisa jadi tak ada artinya bagi warga Indonesia yang jauh di timur Afrika.
Tapi satu hal perlu diingat, bahwa 1,5 juta pengungsi yang lari dari Sudan Selatan telah memecahkan status sebagai kejadian krisis pengungsi terbesar di Afrika.

Dan angka ini terus bertambah setiap harinya, selama damai dan gencatan senjata masih berupa retorika semu di Sudan Selatan.

Buka mata, krisis Afrika tak hanya terjadi di Somalia. Hari ini, ada jutaan warga Sudan Selatan menatap nanar dalam terik. Mungkin hari ini adalah hari ke sekian mereka tidak menemukan makanan sama sekali. []


Penulis: Shulhan Syamsur Rijal
Sumber foto: reuters, shutterstck