Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity

Tentang Kelaparan, Somalia Tak Ingin Jatuh ke Lubang yang Sama

02 Mar 2017
Tentang Kelaparan, Somalia Tak Ingin Jatuh ke Lubang yang Sama

ACTNews, JAKARTA - Setelah sebelumnya PBB memperingatkan adanya kemungkinan bencana kelaparan di Somalia, kini negara tersebut telah dinyatakan dalam status bencana nasional. Mohamed Abdullahi Farmajo, Presiden Somalia yang baru saja terpilih, mengumumkan pernyataan tersebut pada Jumat (28/2), menyusul meningkatnya dampak kekeringan panjang yang berimbas pada krisis pangan di negara yang dijuluki sebagai Tanduk Afrika itu.
 
Sudah tiga tahun lamanya intensitas hujan menurun drastis di Somalia. Keadaan kering kerontang hampir dipastikan ditemukan di seluruh wilayah ini. Tanah kian tandus dan retak, sulit untuk bisa ditanami dengan berbagai tanaman pangan.
 
World Food Program baru-baru ini menyebutkan, produksi sereal di Somalia terjun sebanyak 75%. Sementara itu, tiga perempat hewan ternak mati kelaparan. Harga pangan mau tak mau terus meroket, diikuti dengan melambungnya harga air hingga tiga kali lipat menjadi 200 ribu rupiah per barel. Air dan pangan menjadi kian tak terjangkau bagi jutaan masyarakat Somalia yang hidup di bawah garis kemiskinan. 
 
Kondisi ini membawa Somalia pada ambang kelaparan akut. Dalam laporan terbarunya, WHO memberikan paparan gamblang bagaimana gizi buruk akut menggerogoti tubuh 363 ribu anak Somalia. Sementara itu, lebih dari 6,2 juta jiwa―atau setengah dari populasi masyarakat Somalia―terancam mati kelaparan jika bantuan pangan tidak diberikan sesegera mungkin.
 
 
Tak Ingin Mengulang Bencana Kelaparan 2010-2012
 
Apa yang kini terjadi di Somalia membuat khawatir sejumlah lembaga dan aktivis kemanusiaan internasional. Pasalnya, krisis pangan hebat pernah menewaskan sekitar 260 ribu penduduk Somalia dalam kurun waktu 2010 hingga 2012 dengan Lower Shabelle sebagai wilayah yang mendulang korban jiwa tertinggi saat itu (25 ribu jiwa). Lebih lama lagi, kelaparan akut juga pernah merenggut 250 ribu jiwa pada periode 1991-1992, seperti yang dilaporkan oleh BBC.
 
Parahnya, krisis pangan yang ada diperburuk dengan kondisi konflik horizontal yang telah berlangsung sejak 1988. Abdurahman Sharif, Direktur Somalia NGO Consortium berpendapat, keterbatasan akses bantuan akibat ulah kelompok agresif di Somalia turut memperparah krisis pangan di sana.
 
Seperti yang dilaporkan oleh AlJazeera, seorang warga pengungsi bahkan baru bisa mendapatkan bantuan pangan dan air bersih setelah 11 hari lamanya. Menurutnya, keluar mencari bantuan di tengah konflik yang ada hampir tidak mungkin karena adanya ancaman dari kelompok agresif.
 
“Rawan pangan sudah parah di sini, belum ditambah dengan terbatasnya akses bantuan. Kini, dunia khawatir bencana kelaparan yang menewaskan ratusan ribu jiwa di Somalia pada 2010-2012 akan terulang lagi. Kita tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama hanya karena tidak bertindak sesegera mungkin,” ungkap Abdurahman.
 

Bersama Hadapi Krisis Pangan di Somalia

Akses penyaluran maupun perolehan bantuan boleh dibilang sulit, namun bukan berarti tidak mungkin. Dengan bekerja sama dengan mitra lokal, sejak 2011 Aksi Cepat Tanggap konsisten membantu mengurangi krisis pangan di Somalia. Melalui berbagai program kemanusiaan seperti Global Qurban dan Paket Pangan Ramadhan, ACT dan masyarakat Indonesia telah menjangkau ribuan pengungsi internal di Mogadishu, ibukota Somalia.

Di tengah usaha PBB dalam memaksimalkan pencapaian SDG, khususnya di bidang ketahanan pangan dan penyediaan air bersih, tentu krisis yang terjadi di Somalia saat ini menjadi tantangan masyarakat global. Dan kini, organisasi internasional kembali memanggil masyarakat global untuk turut menggulirkan aksi nyata untuk Somalia. Sudahkah kita siap menjadi bagian dari aksi nyata ini? []

Penulis: Dyah Sulistiowati