Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity

Ekonomi Remuk yang Membuat Sudan Selatan Terpuruk

02 Mar 2017
Ekonomi Remuk yang Membuat Sudan Selatan Terpuruk

ACTNews, SUDAN SELATAN - Jelang akhir bulan Februari 2017, lagi-lagi bukan kabar baik tentang Afrika yang didengar oleh masyarakat Indonesia. Jauh dari tanah Afrika yang gersang, Badan Kemanusiaan PBB menyatakan Februari 2017 adalah titik klimaks tingkat kelaparan akut atau krisis pangan terburuk bagi Sudan Selatan. Sebuah negeri paling anyar yang diakui internasional, baru saja dibentuk tahun 2011 lalu.

Setidaknya sampai dengan bulan Juli 2017, Sudan Selatan akan mengalami masa-masa terburuk dalam kasus krisis pangan. Bahkan PBB memprediksi, angka kelaparan di negeri itu akan melonjak luar biasa dan menjadi krisis kemanusiaan terbesar di Afrika sekian dekade terakhir. Krisis kemanusiaan yang kemungkinan bakal terjadi lebih besar dibanding krisis Somalia. Sebab jumlah populasi penduduk Sudan Selatan berada sedikit di atas populasi Somalia.

Sampai hari ini, di Sudan Selatan ada 1 juta anak-anak berusaha melanjutkan hidup dengan kondisi malnutrisi akut. Tulang mereka kering, tatapan mereka lemah. Bahkan sejak dalam kandungan, mereka terlahir sebagai anak prematur, sebab Sang Ibu pun hamil tanpa nutrisi yang terjamin.

Mereka, anak-anak balita di Sudan Selatan terlahir justru sebagai anak perang. Lahir di masa konflik Sudan Selatan meletus tahun 2013 lalu, hanya berselang dua tahun sejak negeri itu merdeka.

Mengutip Aljazeera, seorang Ibu di Juba Ibukota Sudan Selatan tidak mampu berbuat apa-apa. Anaknya terlahir prematur hanya bergeming di ranjang. Si bayi kelaparan tanpa susu dari Sang Ibu apalagi nutrisi bayi. Terlalu mahal harganya di tengah remuknya ekonomi Sudan Selatan.

Risiko krisis pangan ini bukan sekadar mengada-ada. Konflik antar etnis yang terus dikipasi sepanjang hari berdampak pada remuknya ekonomi negeri itu. Permulaan tahun 2017 ini saja, Sudan Selatan dikabarkan menghadapi angka inflasi sebesar 800%!

Sejak merdeka tahun 2011, seluruh perputaran ekonomi di Sudan Selatan sangat mengandalkan ekspor minyak. Negeri itu pada dasarnya memang kaya, minyak Sudan Selatan melimpah-ruah. Tapi konflik antar etnis yang dikompori urusan politik tahun 2013 membuat semuanya berantakan.

Ekspor minyak merosot tajam, dari yang tadinya 300.000 barrel per hari, menjadi hanya setengahnya yakni 160.000 barrel per hari. Itu pun masih dihadang dengan ambruknya harga minyak dunia, juga tak adanya pengendalian pasar, dan korupsi.

Ekonomi terpuruk berarti melonjaknya harga-harga. Semua harga kebutuhan pokok melambung signifikan, biaya transportasi dan bahan bakar berkali lipat lebih mahal ketimbang sebelum konflik terjadi. Kini harga-harganya sudah di atas rata-rata penghasilan 11,3 juta populasi Sudan Selatan.

Mengutip Antara, di akhir November 2016 lalu rata-rata harga sorgum eceran di Kota Aweil, Wau, dan Juba menjadi US 7,7 Dollar Amerika per kilogaramnya. Atau sekitar Rp. 102.864/kg (kurs Rp. 13.359).

Harga Sorgum semahal itu lebih tinggi empat kali lipat dibanding setahun sebelumnya. Dan harga semahal itu lebih tinggi 10 sampai 15 kali lipat dibandingkan harga pada November 2013, bulan di mana konflik Sudan Selatan pertama kali meletus.

Padahal sorgum bagi warga Sudan Selatan adalah sumber pangan utama. Biji-bijian sorgum dikonsumsi warga Sudan sebagai makanan sumber karbohidrat. Namun kini, segenggam sorgum saja harganya mahal sekali.

Karena ekonomi yang remuk, Sudan Selatan sedang berada di ambang krisis kemanusiaan terbesar di Afrika. Laporan PBB menuliskan, setengah dari jumlah populasi warga Sudan Selatan tak punya stok makanan untuk dimakan setiap bangun pagi.

Sementara itu, hingga Februari 2017 1,5 juta orang Sudan Selatan memilih lari dari negerinya, menjadi pengungsi di negeri orang. Lari dari kekejaman konflik. Pelarian yang sebenarnya pun sama sekali bukan pilihan baik. Menjadi pengungsi tanpa jaminan apapun, termasuk tanpa rumah dan makanan yang layak. []


 
Penulis: Shulhan Syamsur Rijal