Beranda > Features

Kemiskinan Tak Tepis Jiwa Dermawan Mereka

19 Jul 2014

Kemelut di Republik Afrika Tengah (CAR) menjadi isu dunia. Tekad membantu korban konflik di CAR tak mudah. Proses keimigrasian pelik, ditambah ketiadaan kedutaan atau konsulat Indonesia di wilayah ini, menghambat upaya menunaikan mandat kemanusiaan ACT. Akhirnya akses itu dirintis dari Kamerun, negeri dengan ribuan pengungsi CAR di dalamnya.
 
Kalau kita membantu karena kita berpunya, biasa. Bahkan, sekadar membantu sudah sangat biasa. Dalam kondisi susah dan tetap membantu, baru luar biasa. Ini ditunjukkan warga Kamerun. Negeri ini termasuk kelompok negara miskin dengan hutang luar negeri yang besar. Menurut Indeks Pembangunan Manusia (HDI) UNDP, negara ini di peringkat 150 dari 187 negara miskin pada tahun 2013. Kondisi separah ini tak mengurangi keterbukaan Kamerun menerima pengungsi. Pemerintah Kamerun memberikan perlindungan dan suaka bagi orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR melalui alokasi lahan untuk kamp pengungsi di Nandoungué dan Minawao. Hal ini juga memfasilitasi akses anak-anak pengungsi ke sekolah-sekolah lokal dan pusat-pusat kesehatan, dengan dukungan dari UNHCR.
 
Sejatinya, situasi keamanan Kamerun stabil. Kondisi itu berubah seiring melonjaknya jumlah pengungsi dan pencari
suaka yang lari dari negara sekitar Kamerun, terutama CAR, Nigeria dan Chad. Menurut data Badan Penanganan Pengungsi PBB (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR atau lebih dikenal sebagai UN Refugee Agency), pengungsi dari CAR tersebar di lebih dari 308 lokasi dengan di kawasan seluas tak murang dari 50.000 kilometer persegi. Sebaran seluas itu diperparah oleh jalan yang buruk sehingga akses menjangkau pengungsi kian sulit. ACT sendiri menyalurkan bantuan di Garoua Boulai, wilayah perbatasan CAR – Kamerun.
 
Kamerun menanggung lebih dari 100.000 pengungsi. Negara ini tetap membuka perbatasannya untuk pencari suaka, termasuk untuk semua instrumen hukum internasional dan regional yang menangani poengungsi. Maklum saja, Kamerun mengadopsi platform Hukum Perlindungan Pengungsi, sejak Juli 2005 yang diaplikasikan dengan sebuah dekrit yang ditandatangani pada bulan November 2011.
 
Pengungsi CAR masuk Kamerun sejak 2006. Itu berawal dari anjloknya rasa aman karena aktivitas kriminal massif di wilayah Utara dan Barat CAR. Gelombang besar pengungsi terjadi Maret 2013 dan menjadi isu internasional serius karena memicu gelombang baru instabilitas politik dan keamanan kawasan. Kamerun sangat terpengaruh sebagai negeri relatif  stabil. Rakyat Nigeria juga lari ke Kamerun menghindari konflik pasukan pemerintah dan pemberontak di negerinya. Kamerun menjadi wilayah aman pengungsi perkotaan dari negara sekitarnya. Pencari suaka berdatangan dari berbagai negara, memenuhi Yaoundé dan Douala (selain dari Chad dan Nigeria, juga dari Republik Kongo, Pantai Gading dan Rwanda).
 
Sekolah Semak dan Zaraguina di CAR Krisis mengeras di bagian utara CAR. Tak urang dari 295.000 orang dipaksa keluar dari rumah mereka sejak pertengahan 2005. Diperkirakan 197.000 mengungsi. Dari jumlah itu, 98.000  pengungsi ke Chad, Kamerun atau Sudan. Mereka korban pertempuran antara kelompok pemberontak dan pasukan pemerintah. Banyak dari pengungsi internal hidup di semaksemak dekat desa mereka, membangun hunian darurat berbahan jerami, menanam sayuran dan bahkan membuka “sekolah semak” untuk anak-anak mereka.
 
Problem serius menganga: air bersih dan pelayanan kesehatan. Banyak anak terjangkit diare dan malaria tetapi orangtua, tapi orangtuanya terlalu takut untuk membawa mereka ke rumah sakit atau klinik untuk perawatan. Ancaman lainnya, Mbororo, suku nomaden penggembala ternak dari Republik Afrika Tengah, mulai melarikan diri sejak 2005. Sapi-sapi gembalaan itu komoditas penting wilayah ini, dihantui Zaraguina, bandit penculik anak-anak. Kalau anakanak Mbororo diculik, warga Mbororo harus menjual ternak untuk menebus anak mereka.
 
Mbororo pelarian, kehilangan penghidupan aslinya, gembala sapi. Pengungsi yang selamat membangun hidup baru di Kamerun, negeri pengungsian mereka. Para pengungsi Mbororo ini masuk ke provinsi Timur dan Adamaoua, Kamerun, tanpa membawa apa-apa. Teladan bagi dunia, rakyat Kamerun yang tidak lebih makmur dari pengungsi CAR ini, menyambut pendatang baru dari CAR dan berbagi sumber daya mereka sedikit itu.Kemurahan hati warga setempat, karena sungguh tak seimbang dengan banyaknya pengungsi, berekses kematian di tengah pengungsi karena kelaparan atau penyakit yang tak diobati.
 
Dua tahun pasca gelombang pengungsian ini, tahun 2007, baru muncul bantuan internasional dari UNHCR dan sejumlah lembaga kemanusiaan lainnya. Pengungsi dicatat dan didaftar serta mendapatkan bantuan kemanusiaan. Ada mutasi pencaharian sebagai wujud adaptasi sebagai kemampuan umat manusia: Mbororo sebagai etnik penggembala, di Kamerun belajar berdagang, mendirikan koperasi pertanian. Awalnya tentu terseok-seok, sampai perlahan-lahan sebagian keluarga mulai menikmati hasil panen mereka.
 
Keberhasilan yang baru kuncup ini, harus dihadapkan fakta baru setahun belakangan. Pengungsi Mbororo terus berdatangan di Republik Afrika Tengah. Kondisi pengungsi ini, bukan hanya tak membawa apa-apa, sebagian malah lukaluka, bahkan ada yang tewas dalam pelariannya. Mengawali tahun 2014, situasinya memuncak. Tak kurang dari 10 ribuan Muslim menyeberang ke Kamerun Timur. Banyak pendatang baru melaporkan, mereka telah berulang kali diserang dalam pelariannya. Milisi Anti-Balaka memblokir jalan-jalan utama ke Kamerun, memaksa pengungsi menemukan rute alternative melalui semak-semak. Pelarian sampai dua tiga bulan, membuat mereka kekurangan gizi dan menanggung luka-luka baik akibat bacokan parang, tembakan, atau tergores onak di perjalanan. Gelombang pengungsi belakangan, lapisan manusia malang penyandang kesedihan dan kesakitan. Ladang amal terbaik manusia manapun yang hidupnya jauh lebih nyaman dibanding mereka.
 
ACT bersama berbagai lembaga internasional, hadir di Kamerun. Nampak anak-anak  di shelter tak layak huni. Merekapun diprioritaskan segera dipindahkan untuk mendapat layanan kesehatan lanjutan di klinik kesehatan yang saat ini juga membludak pasiennya di kota perbatasan Gbiti, di mana ada 20.000-an dari 80.000 pengungsi Afrika Tengah di Kamerun. Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam, bukan sikap sektarian melainkan karena fakta kemanusiaan dunia menunjukkan nasib umat Islam di berbagai belahan dunia, paling menderita. Dunia bisa sibuk membela nasib ikan paus, orangutan atau harimau; dan kami memilih mengajak dunia peduli nasib komunitas muslim di beberapa negeri yang juga bisa punah karena kekerasan sesamanya.  (Iqbal Setyarso)