Beranda > Features

Sedekah Air Bersih untuk Nelayan Pulau Kera

18 Jul 2014

Dari kejauhan nampak hamparan pasir putih mempesona, sebuah pulau yang dihuni lebih dari 100 KK (400 jiwa). Begitu eksotis. Tak jarang, para pelancong asing maupun domestik dating ke pulau ini sekadar untuk mandi di pantainya yang indah atau berjemur diri di atas hamparan pasir putih. Warga Kupang menyebutnya Pulau Kera, letaknya persis di depan Teluk Kupang, NTT. Kalau alamnya indah dan pelancong suka ke sana, mengapa ACT perlu ke  sana?
 
Pulau ini terlihat seperti garis putih di tengah laut dan di atasnya terdapat tumpukan warna hijau. Pulau dengan dengan penduduk yang sedikit dan mayoritas muslim ini tidak akan ditemukan satu ekor pun kera (monyet). Karena arti pulau Kera ini sendiri (baca: kea) artinya penyu. Pulau ini sangat panas, karena tidak ada pepohonan yang tinggi yang bias dijadikan sebagai tempat berteduh. Hanya padang semak belukar yang terhampar luas. Di pulau ini juga terumbu karang sedang bertumbuh dan bagus untuk dijadikan salah satu sport snorkling di Kupang. Sungguh sangat disayangkan bila pulau yang begitu masih alami ini tidak dijaga dan dikelola dengan baik.
 
Namun, di balik keindahan pulau itu hidup para nelayan yang jauh dari kelayakan. Tak ada listrik, tak ada air bersih dan tak ada KTP. Pemda Kabupaten Kupang belum mengakui mereka sebagai warga negara yang sah, karena dianggap penghuni liar. Bahkan mereka disuruh hengkang dari pulau itu. Padahal mereka sudah puluhan tahun hidup di pulau itu. Ketiadaan sarana prasarana pendidikan yang layak menambah terbelakang masyarakat di sini. Hanya ada satu masjid di tempat ini sebagai tempat belajar mengaji anak-anak. Pada malam hari, terpaksa mereka tak bisa belajar karena tak ada penerangan, kalaupun ada lampu petromak digunakan untuk mencari ikan di laut. Untuk keperluan air bersih, mereka terpaksa harus bolak-balik ke Kupang untuk membeli air minum dan masak.
 
Harga air bersih Rp 2.500/jerigen berisi 5 liter ditambah ongkos perahu jadi Rp 5.000/jerigen. Sedangkan untuk mandi, jangan ditanya? Mereka hanya bisa mandi di air laut atau air payau jika air laut pasang. Itu pun hanya bisa satu dua kali dalam seminggu. Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama mitra LAZ Yaumil PT Badak NGL Bontang membangun sarana instalasi air bersih untuk masyarakat penghuni Pulau Kera di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Eksekusi program air bersih itu dikerjakan selama kurang dari satu minggu sejak sosialisasi program kepada masyarakat hingga selesai air mengalir, pertengah Maret 2014 lalu.
 
Menurut Dede Abdul Rohman, coordinator implementasi program tersebut, masyarakat nelayan Pulau Kera sangat aktif berpartisipasi dalam pengerjaan program air bersih itu. “Antusias masyarakat Pulau Kera luar biasa. Mereka bahu-membahu bergotong royong sejak pengadaan bahanbahan material dari Kupang, kemudian diangkut kapal kayu bermesin ke pulau hingga pembangunan instalasi air tersebut,” ujar Dede. Masyarakat penghuni Pulau Kera sebanyak
lebih dari 100 kepala keluarga (KK) atau 400 jiwa, selama ini terisolir dan tertinggal serta kurang mendapat perhatian pemda setempat. Selain mereka tak memiliki KTP, mereka juga terdiri para dhuafa. Di pulau ini tidak ada air bersih, tidak ada listrik (penerangan) dan tidak ada rumah yang layak huni.
 
Muhammad Ramli, tokoh masyarakat dan pembina keagamaan di Pulau Kera ini sangat gembira dan menyambut baik kehadiran ACT untuk membantu masyarakat Pulau Kera. Sebagai tokoh masyarakat dan Pengurus
Dewan Dakwah NTT, ia menyampaikan terimakasih kepada ACT atas supportnya untuk membantu masyarakat Pulau Kera. “Atas nama warga masyarakat Pulau Kera, kami sangat berterima kasih yang tak terhingga atas bantuan ini. Di pulau ini belum pernah ada. Alhamdulillah, dengan adanya kedatangan tim ACT dan LAZ Yaumil kami sangat senang dan bahagia ada yang sudi dan peduli untuk warga kami. Mudah-mudahan sinergitas yang terbangun dengan landasan ukhuwah bisa membangun soliditas ummat,” ucap Ustadz Ramli atau air payau jika air laut pasang. Itu pun hanya bisa satu dua kali dalam seminggu.
 
Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama mitra LAZ Yaumil PT Badak NGL Bontang membangun sarana instalasi air bersih untuk masyarakat penghuni Pulau Kera di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur  (NTT). Eksekusi program air bersih itu dikerjakan selama kurang dari satu minggu sejak sosialisasi program kepada masyarakat hingga selesai air mengalir, pertengah Maret 2014 lalu. Menurut Dede Abdul Rohman, coordinator implementasi program tersebut, masyarakat nelayan Pulau Kera sangat aktif berpartisipasi dalam pengerjaan program air bersih itu. “Antusias masyarakat Pulau Kera luar biasa. Mereka bahu-membahu bergotong royong sejak pengadaan bahanbahan material dari Kupang, kemudian diangkut kapal kayu bermesin ke pulau hingga pembangunan instalasi air tersebut,” ujar Dede.
 
Masyarakat penghuni Pulau Kera sebanyak lebih dari 100 kepala keluarga (KK) atau 400 jiwa, selama ini terisolir dan tertinggal serta kurang mendapat perhatian pemda setempat. Selain mereka tak memiliki KTP, mereka juga terdiri para dhuafa. Di pulau ini tidak ada air bersih, tidak ada listrik (penerangan) dan tidak ada rumah yang layak huni.
 
Muhammad Ramli, tokoh masyarakat dan pembina keagamaan di Pulau Kera ini sangat gembira dan menyambut baik kehadiran ACT untuk membantu masyarakat Pulau Kera. Sebagai tokoh masyarakat dan Pengurus Dewan Dakwah NTT, ia menyampaikan terimakasih kepada ACT atas supportnya untuk membantu masyarakat Pulau Kera.
 
“Atas nama warga masyarakat Pulau Kera, kami sangat berterima kasih yang tak terhingga atas bantuan ini. Di pulau ini belum pernah ada. Alhamdulillah, dengan adanya kedatangan tim ACT dan LAZ Yaumil kami sangat senang dan bahagia ada yang sudi dan peduli untuk warga kami. Mudah-mudahan sinergitas yang terbangun dengan landasan ukhuwah bisa membangun soliditas ummat,” ucap Ustadz Ramli sumringah. Ia juga berharap, mudah-mudahan bantuan ACT tidak sampai di sini, ada kelanjutanya karena warga kami tidak ada yang memperhatikan baik pemerintah atau pun LSM lain. “Dengan adanya bantuan ini, Alhamdulillah kemarin langsung dibentuk pengurus RT dan RW di Pulau Kera, biarpun belum diakui sebagai warga yang sah dari pemerintahan Kabupaten Kupang, “ pungkas Ramli. (Sudayat Kosasih)