Beranda > Features

Di Urum Al Kubra, Bantuan Anda Sangat Bernilai

19 Jul 2014

Untuk keenam kalinya ACT mengirimkan Tim Aksi Kemanusiaan Global ke Suriah. Perjalanan berliku menjangkau pengungsi, mematangkan batin sekaligus mengundang rasa syukur bagi kita yang hidup di negeri aman tenteram dan damai.
 
Aksi kemanusiaan di Suriah kali ini, ACT dipandu Munawar, mahasiswa Indonesia yang faham wilayah Suriah. Akses ke Suriah ditempuh dari perbatasan Turki. Pembahasan rencana aksi berlangsung di Gaziantep. Perbincangan berlangsung hangat. “Insya Allah, bantuan dari ACT kali ini akan disalurkan di Urum Al Kubra. Kita akan belanja di Sarmada," ujar mitra kami. Saya membuka peta. Wah, Urum Al Kubra letaknya di barat daya kota Aleppo. Kabarnya di sana sedang ada pertempuran hebat.
 
“Kenapa masuk ke sana?” “Di sana, bantuan ACT akan sangat bernilai. Pengungsi di sana sangat membutuhkan makanan. Perhatian lembaga internasional terlalu banyak menyasar pengungsi di tenda-tenda di perbatasan Bab Al Salamah. Bab Al Salamah sudah banyak menerima bantuan karena mudah dijangkau dan aman. Jarang sekali bantuan
masuk ke Urum Al Kubra karena letaknya di dalam dan agak sulit menjangkaunya karena memasuki wilayah perang,” jelas mitra lokal ACT ini.
 
Jarak ke lokasi yang disasar, menunut beberapa kali rehat. “Hari ini kalian bersiap-siap, insya Allah besok pagi kita ke Reyhanli. Semoga Allah mengizinkan kita masuk Suriah,” kata mitra lokal kami. Esoknya, kami pun bergerak menuju Reyhanli. Dari Kirikhan ke Reyhanli, sekitar satu jam. Jelang pintu perbatasan, banyak truk kontainer mengantri untuk mendapat izin masuk. Antriannya sekitar 4 km!
 
Sampai di perbatasan, mitra lokal ACT mendapat izin masuk Suriah, namun polisi perbatasan melarang Tim ACT masuk. Saya mencoba menjelaskan tujuan saya, tapi sia-sia. Nyaris bentrok dengan preman setempat karena bermaksud buruk terhadap saya, syukurlah Munawar datang menolong. Mitra local kami meminta maaf gagal meloloskan Tim ACT masuk Suriah via Bab Al Hawa.
 
Untuk Kemanusiaan
Terminal Otogar, Reyhanli. Pagi itu Global Action Team-ACT bergegas menumpang minibus menuju Kilis. Kendaraan yang kami tumpangi hanya sampai Aktepe, kami pindah ke bus kecil lain untuk ke Kilis. Sekitar 2,5 jam kami tiba di Otogar Kilis. “Kita harus cepat, Pintu perbatasan akan tutup pukul 17.00,” kata mitra kami. Di pintu perbatasan Kilis–Bab Al Salamah, polisi hanya sekilas melihat paspor saya dan bertanya, ”Untuk apa Anda ke Suriah?” Tim menjelaskan, kami mendistribusi pangan dan bantuan untuk rakyat Suriah. Polisi itu mengizinkan. Dua kilometer kami berjalan kaki dari pintu keluar Kilis sampai Bab Al Salamah.
 
Awalnya, semua lancar. Di pintu Bab Al Salamah, seorang petugas mencegah kami masuk. Ia panggil rekannya yang bisa bahasa Inggris. Kami digiring ke kantor perbatasan, dihujani sejumlah pertanyaan sambil menghubungi beberapa orang untuk mengklarifikasi kedatangan kami. Penjaga perbatasan menjelaskan, akhir-akhir ini banyak orang datang ke Suriah untuk bergabung dalam faksi-faksi yang berperang di Suriah, khususnya orang Indonesia. Ia hanya memastikan, kami benar-benar untuk aksi sosial bukan aksi militer.
 
Setengah jam, urusan beres. Kami meneruskan langkah. Di kiri jalan tampak tenda-tenda pengungsi bantuan lembaga
sosial Turki. Di sini ada sekitar 4.000 jiwa. Dapur umumnya pemberian makanan sehari satu kali.
 
Tegang: Ke Urum Al Kubro
Jarak Bab Al Salamah ke Urum Al Kubra sekitar 70 km. Jika kecepatan mobil rata-rata 60km/jam, seharusnya kami bisa tiba sekitar satu jam lebih sedikit. Namun perjalanan tidak semudah yang dibayangkan. Kami menempuhnya selama 2,5 jam. Kendaraan kami melewati banyak pos penjagaan. Di beberapa pos, pengemudi kami berhenti untuk menanyakan arah dan situasi keamanan di jalur yang akan ditempuh. Di beberapa pos, penjaga menanyakan maksud kami.
 
“Anda tak usah takut dan tidak usah bicara. Biar kami yang urus,” kata pemandu kami. Jalanan mulai gelap. Kenderaan terus melaju. Pengemudi kami memilh jalur-jalur alternatif, bukan jalan utama saat melintasi satu desa ke desa lain. Mobil kami seringkali masuk dan keluar perkebunan. "Di jalur yang tadi kita lalui, pernah ada penyergapan dan penembakan," kata mitra kami. Selama perjalanan menempuh jalanan kosong tak berlampu itu, mobil kami juga tak menyalakan lampu. "Seringkali pesawat jet melintas dan menembak setiap kendaraan yang melaju dengan menyalakan lampunya. Biasanya mereka melakukannya secara acak. Kendaraan apapun yang
terlihat, bisa langsung ditembak,” jelas mitra kami.
 
Meskipun perjalanan sangat menegangkan, mitra kami selalu menghibur kami, mencairkan suasana. “Anda senang, Andhika," kata mitra kami dalam bahasa  Arab. Mau tak mau, saya katakan, "Tentu, saya senang bersama Anda semua. Perjalanan ini takkan pernah terlupakan." (Andhika)