Beranda > Ruang Pers

Press Release : Tim Ke Lima - ACT Kirim Tim Rekonstruksi ke Myanmar

16 Jun 2014
Jakarta, ACTnews.  Konsisten dengan rencana jangka panjang pemulihan krisis kemanusiaan di Myanmar – yang memicu gelombang eksodus etnik Rohingya, lembaga kemanusiaan ACT kembali mengirim tim kemanusiaan kelima kalinya. Kali ini, Ketua Tim ANDHIKA PURBO SWASONO bersama YUSNIRSYAH SIRIN, akan mengawal proses pembangunan satu blok (100 Unit Shelter) Tahap III  dari 10 blok (1000 unit) shelter - setelah tim sebelumnya menyelesaikan 200 unit shelter (dua blok).
 
“Keberangkatan tim kelima kali ini, bukan sekadar mengawal pembangunan 100 unit shelter, atau satu blok shelter dari 10 blok yang direncanakan, tetapi juga memastikan 200 unit shelter yang rampung dibangun, benar-benar ditempati dengan nyaman oleh pengungsi,” ujar Ahyudin, sebelum melepas Tim Kemanusiaan ke Myanmar. ACT tidak ingin bekerja dengan target-target statistik semata, bahwa sekian unit terbangun, selesai, tetapi pastikan apakah pekerjaan fisik itu mencapai sasaran-sasaran kemanusiaan yang seharusnya.
 
Melengkapi penjelasannya, Ahyudin menyatakan, bangunan shelter selesai, tentu tak memadai sebagai penopang hidup. “Tinggal di bangunan yang relatif nyaman saja, perlu penopang kehidupan lainnya. Mereka perlu bahan pangan, perlengkapan tidur bahkan pakaian layak pakai dan kebutuhan untuk anak-anak. Betapa banyak anak-anak di pengungsian. Membantu korban krisis kemanusiaan, perlu tuntas, dan kita akan berusaha berbuat sebaik-baiknya, meskipun tentu tidak bisa seketika menuntaskan semuanya,” jelas Ahyudin.
 
Diplomasi Kemanusiaan
 
Andhika P. Swasono, sebagai ketua tim, menegaskan, informasi fakta kemanusiaan Myanmar menjadi konsumsi dunia, dan situasi kian kondusif untuk meningkatkan tahap pemberian bantuan kemanusiaan. “Fase pemulihan, bisa dilanjutkan. Apalagi pemerintah Indonesia secara resmi sudah menerima undangan pemerintah Myanmar. Kita sebagai elemen masyarakat Indonesia sangat mengapresiasi perkembangan ini. Kalau kerja-kerja ‘diplomasi kemanusiaan’ sudah disusul  diplomasi formal dua bangsa atau dua negara, artinya, proses membangun dan memulihkan kondisi kemanusiaan di Myanmar semakin terbuka,” jelas Andhika yang beberapa kali menerima mandat untuk bekerja di kawasan krisis kemanusiaan di sejumlah negara.
 
Tak hanya itu. Dalam soal krisis kemanusiaan ini,  pada pertemuan Menlu RI Marty Natalegawa dengan Menteri Urusan Perbatasan Mayjen Thein Htay 8 Januari lalu di Myanmar, terungkap permintaan pemerintah Myanmar agar Indonesia membantu membangun shelter. “ACT sudah melakukannya sejak Oktober tahun lalu, sehingga harapan itu sangat relevan dengan kerja kemanusiaan yang secara berkelanjutan dilakkan ACT di Myanmar,” tegas Andhika.
 
Perjalanan kemanusiaan Tim ACT untuk Myanmar kelima kalinya – dan pertama untuk tahun ini, meneruskan standar kerja ACT di ranah global. “Begitu menjejak negeri orang, termasuk di Myanmar, kami membawa nama baik Indonesia. Merah-putih, menjadi payung diplomasi kemanusiaan, sehingga di negeri manapun kami berkoordinasi dengan KBRI atau konsulat jenderal kita. Kami merepresentasi wujud kepedulian bangsa Indonesia karena amanah yang kami bawa, mayoritas dari masyarakat Indonesia ,” jelas Andhika.
 
Kemanusiaan, adalah bahasa universal yang menautakn semua bangsa. ACT  merilis tema kerja setahun ini (2013) “Let’s Build Humanity for the Human being”, sebuah ungkapan yang melandasi setiap helaan nafas semua tim ACT dan pendukungnya.
 
Kontak lebih lanjut: Feri Kuntoro (0877 880 53264)