Beranda > Ruang Pers

Press Release : Humanity Warehouse

16 Jun 2014
Global itu besar, luas, kompleks. Global itu universal. Pada kesempatan lain, global disebut ‘naik kelas’, bukan ‘kelas’ nasional apalagi lokal, tapi ‘kelas global’. ACT sebagai lembaga kemanusiaan meneguhkan ke-global-annya. Apa buktinya. Bukti awal, di tataran visi. Sebagai visi, global menjadikan seluruh dunia sebagai area sasarannya: ya sasaran edukasi kepedulian (yang targetnya mengundang partisipasi sumberdaya dana, natura juga personal), juga sasarannya sebagai wilayah yang perlu dibantu (area distribusi). Itu ditunjukan dengan menjadikan sejumlah negara sasaran penerima manfaat. Palestina, Somalia, Suriah, Mesir, Irak, hingga Bangladesh dan Filipina. Tahap berikutnya, menjadikan sejumlah negara sebagai kawasan edukasi kepedulian dan sinergi. Sejumlah negara di Eropa disapa, juga negeri tetangga terdekat Malaysia.
 
Kadang merangsek ke atas, tidak selalu dengan bergerak meluas. Karena keglobalan itu datang ke negeri sendiri. Sejak dunia menyepakati berbagai perjanjian hubungan multilateral, sejak itu negara itu bermetamorfosa menjadi ‘kawasan global’ di mana lintasbangsa, lintasnegara hadir menunaikan urusannya. Termasuk di Indonesia. Perjanjian-perjanjian perdagangan mengubah cara dagang di sebuah negara. Indonesia pasar terbuka dunia, Indonesia ‘satu aturan dagang’ dengan bangsa-bangsa Asia Tenggara. Gerak bisnis dan ekonomi global ini, segera dilibati ACT dengan menebar ‘jala-jala kepedulian sosial’ global. ACT tanpa ragu berinteraksi dengan berbagai elemen dunia yang hadir di Indonesia. Hasilnya, korporasi multinasional mewarnai daftar donor terutama dalam skim tanggungjawab sosial korporat (CSR).
 
Penanda keglobalan ACT, tak cukup dengan masuknya donasi multinasional. Kalau sudah begitu, perlu fasilitas pendukungnya. Ketika kepedulian global menggelora, tanpa menyediakan sarana dan prasaranya, luaan itu bisa “menenggelamkan” ACT. ACT dengan visi globalnya, telah menyiakan diri degan kanal global, baik kelembagaan maupun  fasilitasnya. Tahun 2013, ACT membentuk departemen Global Philanthropy & Communication (GPC) yang didalamnya terdapat direktorat Global Partnership Network (GPN). Satu dua negara baru mulai tersapa dan menitipkan amanahnya, meski belum masif. Beberapa lembaga kemanusiaan luar negeri bersinergi dengan ACT. Meneruskan gelagat global ini, akhir Januari 2014 ACT mewujudkan Humanity Warehouse (HW).
 
Apa itu HW? Ini program global ACT, berupa manajemen dan fasilitas layanan penampung dan pengelola donasi natura global. HW menerima donasi barang dari publik dan korporat. Secara fisik, humanity warehouse berwujud sebuah bangunan megah di kawasan bisnis. ACT mengeksekusi kepemilikan asset satu unit gudang di Sentra Bisnis Terpadu Sawangan Megah, Depok. Baru saja transaksi kepemilikan dilakukan dan ACT bisa mendayagunakan gudang, bantuan natura berupa 12 kontainer susu dari PT Frisian Flag Indonesia datang untuk didistribusikan kepada korban bencana di Indonesia.
 
Aktivitas Humanity Warehouse “tahap awal”: memasukkan donasi ke gudang, lalu mengatur distribusinya ke kantong-kantong penerima manfaat. Sesuai amanah, bantuan didistribusikan kepada korban banjir Jakarta dan sekitarnya, simultan dengan pemberian bantuan untuk korban bencana di Surabaya dan Medan. Kesibukan luar biasa menyerat banyak sumberdaya relawan di Jakarta, Surabaya dan Medan. Humanity Warehouse tahap ideal yang dicita-citakan ACT, beneficiaries tidak harus menerima di pengungsian atau lokasi bencana. Mereka akan memilih kebutuhannya di Humanity Warehouse. Humanity Warehouse pada saatnya didesain berpenampilan layaknya hypermart di mana beneficiaries memilih aneka kebutuhannya. Tapi itu perlu waktu. Kini, dengan konsep dan gagasan humanity warehouse sebagai social market, di mana beneficiaries dimuliakan dengan memilih sendiri barang kebutuhannya, dan barang-barang itu dalam kondisi terbaiknya: bersih, dikemas bagus dan ditata dalam rak-rak tematik sesuai jenis barangnya. Saat ini, keragaman barang itu belum semasif dan sekomplit yang ACT impikan. Sejenak setelah Anda membaca artikel ini, Anda kian faham: humanity warehouse harus kita isi barang apa saja. Tentu beragam kebutuhan pokok pangan, ditambah sandang dan kebutuhan harian selayaknya isi hypermart, layak untuk negeri dengan beragam bencana.
 
Fasilitas serupa ini, sudah berlangsung sangat baik di Turki, dipersembahkan masyarakat donor sejumlah lembaga swadaya masyarakat Turki. Dari gandum hingga pakaian penganti untuk dhuafa, mereka sediakan. Indonesia yang besar, penduduknya punya kepedulian sosial tinggi, tradisinya gotong-royong dan tolong-menolong, pasti bisa mewujudkannya. Indonesia hanya perlu karya nyata, selebihnya, semua menjadi mudah dan terwujud dengan baik, insyaAllah.
 
Maka, humanity warehouse bukan “gudang” tetapi program pasar sosial, di mana beneficiaries dihadirkan dengan kendaraan-kendaraan penjemput, untuk membelanjakan voucher yang disediakan ACT. “Wisata belanja kemanusiaan” menjadi relaksasi mental, pengusir kejenuhan dan stress korban bencana yang terlalu lama hidup di tenda atau kamp pengungsian. Bersama Anda semua, ACT sanggup mempercepat mewujudkan Humanity Warehouse ideal. Bukan berpenampilan gudang seperti sekarang. Itu baru awalnya, karena kebaikan-kebaikan global itu datang lebih cepat dari proses menyempurnakan tampilannya.  Bersama tepis nestapa korban bencana: bisa!