Beranda > Ruang Pers

Press Release, 3 Februari 2014 : Potensi Gerakan Kemanusiaan di Jateng Besar

16 Jun 2014
ACTNews, SEMARANG - Awal Januari menjadi pertanda awal musim banjir yang kembali melanda beberapa wilayah di tak hanya di ibukota, banjir pun menyapa pesisir wilayah utara Jawa. Banjir juga melanda wilayah Jawa Tengah. Di Semarang, Pati, Kudus, Kebumen dan sekitarnya ketinggian air mencapai 4 meter. Ribuan rumah terendam air, sebanyak 45.250 kepala keluarga (KK) terpaksa harus mengungsi.

Berbagai elemen bahu membahu menolong korban banjir. Mulai dari menyumbangkan donasi, natura, hingga menjadi relawan rescue. Menurut Komandan Disaster Emergency Relief and Management (DERM) ACT Foundation, Jakarta, Senin, (3/2), potensi gerakan kemanusiaan saat ini sangat besar. Begitu pula yang terjadi di Jateng.

"Tantangan berkarya kemanusiaan ke Jawa Tengah, bukan tanpa peluang. Semarang dan sejumlah kota di provinsi ini menunjukkan perkembangan ekonomi yang sehat, kami siap mengaktivasi potensi kemanusiaan yang begitu besar di sini,"kata dia.

Aksi Cepat Tanggap (ACT), institusi kemanusiaan yang telah berdiri sejak 2005 dan telah berkiprah di seluruh Indonesia dan tak kurang 20-an negara, merespons sejumlah bencana yang menyapa Indonesia. Setelah menetapkan Januari lalu masa siaga untuk merespons banjir Jakarta, kali ini Jateng menuntut perhatian lebih.

“DERM sebagai unit aksi ACT, mengorganisasi lebih masif relawan melalui Masyarakat Relawan (MRI) Indonesia dari Semarang ini, merespon berlanjutnya bencana di Jawa Tengah,” jelas Andhika Purbo Swasono. 

Bersama MRI, ungkap Andhika, ACT menyiapkan tiga hal. Pertama, tentu saja menggencarkan pelibatan lebih masif relawan Jawa Tengah. Sejumlah pegiat kemanusiaan telah menyatakan kesediaannya mendukung aksi ini. Antara lain  komunitas dari Pesantren Basmalah yang diinisiasi Kang Abik (novelis Ayat-ayat Cinta), organisasi ekstra dan intra kampus, komunitas profesi dan hobbies.

Kedua, menggalang kepedulian untuk berdonasi. Yang ini tak harus uang, natura juga boleh. Ketiga, assesment program pascabanjir. Namun demikian, kata dia, tentu tak sekadar menunaikan mandat kemanusiaan sebatas fase emergency banjir Jawa Tengah.

“Sejatinya, kita sedang mengedukasi bukan saja Jawa Tengah, tapi negeri ini dan dunia, bahwa partisipasi masyarakat atau civil society, bisa melipatgandakan energi dan mendorong pemulihan sosial pascabencana,” ungkap Andhika. 

Menurutnya, stimulan ACT menggerakkan MRI, upaya nyata menguatkan modal sosial. Andhika menyaksikan fenomena itu cukup kuat, merujuk fakta sosial yang muncul saat ACTR mendirikan Posko Bencana Banjir di Pati, pertengahan Januari lalu. Penanggulangan krisis apapun, perlu dukungan nyata masyarakat. Kemauan bersama mengatasi masalah, diasah dan diperkokoh oleh terpaan bencana.
 
“Dengan begitu, pascabencanam masyarakat Jawa Tengah, juga bangsa Indonesia, lebih kuat dari sebelumnya,” pungkas Andhika.
Presiden ACT Ahyudin mengatakan, perlunya menguatkan kesiapsiagaan masyarakat sipil. Saat bencana terjadi simultan, masyarakat perlu stimulan untuk bangkit bersama mengatasi problem kemanusiaannya. "Saya yakin gerakan kemanusiaan di Semarang bisa berkembang signifikan di tengah masyarakat Jawa Tengah yang terkenal sukses secara ekonomi dan welas asih,” papar Ahyudin.

----------------

Banjir Mulai Surut

Sementara itu, banjir yang melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah, perlahan mulai surut. Namun, ratusan desa masih banjir sekitar satu meter. Hingga saat ini korban banjir Pati masih sangat membutuhkan bantuan logistik (makanan siap saji, makanan ringan, air mineral), pakain, selimut, dan keperluan yang lainnnya.

Menurut Rivai salah satu Komandan Pusat Tim DERM, banjir di Pati saat ini merupakan banjir terbesar selama banjir yang biasa terjadi. “Biasanya tiap setahun sekali Pati dilanda banjir sekitar 1 betis orang dewasa, namun saat ini banjir sudah menacapai, 1,5 sampai 2 meter” ungkap Rivai.

Selain mengevakuasi korban Tim DERM bersama relawan lokal MRI saat ini terus mendistribusikan logistik, ke daerah atau desa terilsolir yang sulit sulit di jangkau.

“Kita terus mendistribusikan bantuan logistik ke desa-desa yang terisolir, seperti ke desa Tondomulyo Kecamatan Pati, Desa Minto Basuki dan Desa Banjarsari Kecamatan Gabus, proses pendistribusian  bantuan dibantu oleh bidan setempat, “ ungkap Rivai.