Beranda > Ruang Pers

Press Release, 17 Februari 2014 : Aksi Trauma Healing ACT Hibur Pengungsi Kelud

16 Jun 2014
ACT.KEDIRI - Bencana alam kian akrab dengan bangsa ini. Selain menelan korban jiwa, berbagai penyakit pasca bencana mengancam para pengungsi. Ancaman penyakit seperti diare, ISPA dan penyakit lainnya lebih berbahaya dari banjir itu sendiri. Selain penyakit tersebut, stres pasca trauma bencana harus ditangani segera. 

Ini menjadi ide bagi Fuad dan rekan-rekannya dari STIKES Karya Husada Kediri dalam menjalankan program trauma healing bersama lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di lapangan. Trauma healing dipercaya dapat mengkondisikan anak-anak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru di pengungsian.
 
Relawan Trauma Healing ACT mengajak anak-anak pengungsi yang berusia sekolah dasar menuju lapangan di sebelah gedung Serbaguna kecamatan Pare. Anak-anak menerima menu permainan edukasi untuk pengusir trauma dan beban psikologi yang disandangnya.
 
"Sekarang Kak Fuad tanya yaa, siapa mau jadi Presiden?" Sontak, kerumunan 70 anak ini menjawab berteriak,"Saya!"
 
Besarnya dampak erupsi Keluad, mendorong Fuad bersama 13 kawan sekampusnya tak berdiam diri saja. Dengan semangat tulus berbagi, ia bergabung bersama Tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dan ACT untuk berbuat sesuatu sesuai kemampuan mereka.
 
"Kami merasa terpanggil. ACT yang jauh dari Jakarta saja mau membantu korban di Kediri, masa kami ini warga Kediri hanya diam dan jadi penonton," ungkap Fuad yang saat ini didaulat menjadi Ketua Tim Trauma Healing ACT untuk Bencana Gunung Kelud.
 
Sebuah lontaran sontan anak muda Indonesia. Tentu kita meyaniki, masih banyak anak-anak muda negeri ini, memiliki semangat serupa. Indonesia, dengan anak-anak muda idealis seperti Fuad dan kawan-kawannya, terlihat penuh harapan. Kuatnya jiwa kemanusiaan kaum mudanya, menjadi pertanda negeri ini bakal sukses mengatasi ujian peradaban.
 
“Usai mengikuti Trauma Healing, anak-anak tampak tersenyum ceria dan senang, seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa,” ujar Ruli Renata, Relawan ACT.
 
Selain itu, tim Disaster Emergency and Relief Management (DERM) – ACT, juga melakukan assesment untuk pendataan dampak erupsi gunung Kelud tersebut dan pendirian Posko di 10 titik.
 
 -----------------
 
Cici Tegal Hibur Anak-anak Korban Banjir Bekasi
 
Di tempat berbeda, aksi trauma healing juga dilakukan oleh artis yang juga komedian cici Tegal. Cici menghibur anak-anak di Posko Ramah Anak Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kampung Tambun, Desa Buni Bakti, Babelan, Bekasi Utara.
 
Cici yang kini aktif menjadi produser memulainya dengan canda. "Banjir itu karena air masuk ke rumah, aduh siapa yang ngundang airnya?" serentak anak-anak tertawa mendengar candaan Cici.
 
Kesunyian anak-anak terpecah, keceriaan mereka seiring dengan Salawat Nabi yang dipandu oleh Cici Tegal.
 
"Salatullah salamullah, ala thoha rosulillah,"pandu Cici kepada anak-anak.
 
Sebuah salawat yang didengungkan, tidak hanya untuk menghibur namun agar harapan tetap ada di hati anak-anak korban bencana. Cici Tegal luar biasa!Haru tersirat dari wajah Cici Tegal. Bergetar hatinya lantaran sampah pasca bencana sangat menyengat. Sawah-sawah terendam air. Sumber pendapatan masyarakat terputus.
 
Meski tertimpa bencana, Cici merasa ketegaran anak-anak bisa dijadikan pelajaran. Meski sedang dirundung kesulitan, anak-anak layaknya anak-anak.
 
"Pelajaran untuk orang dewasa bahwa bagaimana anak-anak menghadapi kesulitan. Anak-anak mudah beradaptasi, sepatutnya orang dewasa belajar dari anak-anak,"ungkap Cici.
 
Pelajaran berharga pun seharusnya dapat dipetik oleh semua pihak. Menurut dia, Allah tidak memberikan hal-hal buruk kepada manusia. Manusialah yang berbuat kerusakan di muka bumi.
 
"Ayatnya sudah jelas, yang bagus-bagus datangnya dari Allah, yang jelek-jelek dari kita. Misalnya, Allah memberi air, tapi kita kurang bisa mengelola air,"kata Cici yang sempat bercerita, ketika menuju tempat syuting, ia harus dipanggul satpam untuk bisa sampai ke tempat tujuan.
 
Cici Tegal juga sangat mendorong adanya posko ramah anak yang diinisiasi ACT ini. Ia meminta agar posko yang dibangun oleh siapapun harus tuntas dan tidak setengah-setengah.
 
"Kalau mau menolong haruslah tuntas. Muliakan mereka dengan memberikan yang terbaik. Apa yang kita makan, kita kasih ke dia,"kata Cici.
 
Program pasca bencana pun tak boleh dilupakan. Ia berharap, program edukasi terhadap masyarakat agar lebih mencintai lingkungan harus terus dilakukan.
 
Sementara itu, Lurah Buni Bakti, Dayatullah mengucapkan ribuan terimakasih kepada relawan ACT dan Cici Tegal yang jauh-jauh datang ke Babelan. Ia juga berharap agar aksi kepedulian ini terus ditingkatkan.
 
"Terima kasih karena telah mencurahkan kepedulian kepada masyarakat Babelan,"kata dia.
 
Adapun Posko Ramah Anak ini merupakan kolaborasi antara Wardah dan ACT. Kolaborasi ini ini untuk merespons bencana di masa tanggap darurat dengan tajuk Berbagi Cahaya Peduli.
 
Vice President ACT M. Insan Nurrohman mengatakan, posko pengungsian ramah anak akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengelolaan posko dan penanganan pengungsi korban bencana.
 
Menurutnya, posko ini dirancang untuk menjamin hak-hak anak seperti Tenda Ceria, home schooling yang akan mengkondisikan anak-anak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru di pengungsian.
 
"Ada tenda dapur umum yang memerhatikan gizi anak dan orang tua berkebutuhan khusus, tidak dicampur antara menu anak-anak dan ada sarana bermain untuk anak-anak,"kata dia.