Beranda > Ruang Pers

Press Release, 18 Februari 2014 : Peran Sosial Masjid An-Nur Saat Bencana Kelud

16 Jun 2014
ACT. KEDIRI - Masjid An-Nur Pare menjadi representasi penting untuk masyarakat setempat. Landmark masjid yang megah ini pernah memenangkan penghargaan Raja Saudi karena desainnya. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang dibangun pada tahun 1996 ini, juga memiliki peran sosial yang besar. Terutama saat bencana letusan Gunung Kelud.
 
Masjid yang menelan biaya sekitar Rp 200 miliar dalam pembangunannya ini sekarang menjadi salah satu kamp pengungsian besar pascaerupsi Kelud di Kediri. Berdasarkan laporan tim Disaster Emergency and Recovery Management Aksi Cepat Tanggap (DERM), masjid menampung sekitar 3.000 jiwa pengungsi.
 
Di masjid inilah ACT bersama TNI membuka Posko dan Dapur Umum yang tak hanya melayani pengungsi di kamp ini, tetapi mendistribusikannya ke sejumlah lokasi pengungsian lainnya seperti Gedung Serbaguna Kecamatan Pare. Dapur umum mengirim antara 200-600 paket menyesuikan kondisi pengungsian saat akan didistribusikan.
 
"Ini menunjukkan, masjid dan rumah-rumah ibadah lainnya, tempat ideal yang sangat besar peran sosialnya. Masjid bukan semata area ritual, tapi konkret berperan sosial," jelas Andhika Purbo Swasono, Komandan Disaster Emergency Relief Management (DERM) ACT.

Masjid An Nur, dengan struktur megah dua lantai dan masih akan terus dikembangkan. Nampak lantai atas yang masih terbuka, area berkeramik tertutup pasir vulkanik. rena masjid pasca erupsi, terpapar berkubik-kubik pasir Kelud. Pengungsi menempati teras-teras masjid. Meski demikian, halaman yang masih luas dimanfaatkan dua Dapur Umum ACT dan TNI.
 
Elid Liradianta, relawan MRI-ACT asal Surabaya mengatakan, masjid memang cocok dijadikan tempat pengungsian. Meski ini sarana ibadah, ruang-ruang yang ada sebagian besar masih bisa didayagunakan untuk mengelola pengungsi.
 
"Disebut mengelola, karena pengungsi membutuhkan dampingan agar tidak stress, anak-anaknya dibimbing, yang dewasa juga menerima terapi healing," jelasnya.
 
Adapun pengungsi di masjid ini fluktuatif, antara 900-an hingga 1200-an jiwa.  Di siang hari, pengungsi lebih sedikit dibanding malam. Pagi hingga siang, sebagain pengungsi meneruskan mencari penghidupan sesuai profesinya.Ketika malam tiba, pengungsi belum bisa menghuni rumahnya di zona merah dekat Kelud, mereka menginap di pengungsian.
 
Pengungsi anak-anak dan manula pun cukup banyak. Bantuan diberikan  untuk yang terlihat benar-benar memerlukan. Sebagian pengungsi menempati area ruang shalat yang bersih dan tertutup. "Tapi saat shalat, pengungsi otomatis minggir dan menunaikan shalat berjamaah," jelasnya.