Beranda > Ruang Pers

Press Release : Meyda Meluncurkan Autobiografi 'Hujan Safir'

16 Jun 2014

Meyda Sefira pemeran tokoh Husna dalam film Ketika Cinta Bertasbih Karya Habiburrahman El Shirazy, meluncurkan Songbook Hujan Safir. Buku terbitan MCM Publising dan bekerja sama dengan ACT ini merupakan buku autobiografi karyanya.

Tema yang diangkat dalam launching kali ini adalah; “Hujan Safir Melipur Hujan Pasir Kelud”, sengaja mengambil tema itu, karena dalam acara tersebut juga dilakukan penggalangan bantuan untuk korban letusan gunung Kelud.

Meyda mengambil judul Hujan Safir, karena munurutnya hujan itu mempunyai arti filosofis perjuangan. Proses menjadi hujan adalah proses perjuangan dimulai dari awan turun ke gunung, mengalir ke lembah mengalir ke tempat lebih rendah, solokan, kali, sungai dan pada akhirnya bermuara di laut.

“Proses itu perlu perjuangan, sehingga melalu proses tersebut menimbulkan manfaat bagi alam sekitar, saya ingin bermanfaat seperti hujan,”ungkapnya. Sedangkan safir menurutnya diambil dari nama terakhirnya dia, yaitu  Safira sehingga terciptalah judul buku ini.

Rencananya 100 persen hasil dari penjualan buku ini seluruhnya akan didonasikan untuk pembangunan pabrik roti di Suriah, dalam upaya membantu korban perang saudara di sana.

Menurut Nurman Priatna, Direktur CSC (Creative Stratgic Communication)-ACT, Meyda Sefira adalah sosok humanis, public figur yang bagi generasi muda sangat di butuhkan sosoknya. Kenapa seperti itu? Karena anak muda biasanya sering dicap cuek, individualistis, ababil dan hal lainnnya yang kesannnya mengukung untuk berbagi dengan orang lain.

“Meyda adalah salah satu brand ambassador ACT, seorang sahabat kemanusiaan yang sangat peduli, karena setiap berbagai aksi kemanusiaan biasanya dia ikut, menghibur anak-anak pengungsi dan kepeduliannnya terhadap warga Suriah, serta berbagai hal dalam kesehariannnya itu menujukkan betapa dia sangat peduli,” terangnya.

Sebelum acara launching, undangan yang hadir dihibur dengan empat lagu religi yang di sajikan Band Religi DEBU. Mustofa vokalis Band Religi DEBU sangat mengapresiasi kegiatan yang di gelar ACT bersama Meyda Sefira.

“ACT benar-benar cepat tanggap, banyak sekali acara yang di gelar ACT. Acara launching dan penggalangan bantuan untuk korban bencana letusan gunung Kelud ini keren, momennya tepat sekali,”tuturnya.

------------------


Review Hujan Safir

'Selalu ada impian di balik hujan'

Hujan adalah rahmat yang besar. Setiap rintiknya membawa inspirasi luar biasa bagi seorang Meyda Sefira. Bagi dara yang kini menjadi duta kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap ini, setiap peristiwa sesungguhnya selalu ada hujan. Baik itu 'hujan rahmat' maupun ‘hujan musibah’. Lewat hikmah hujan, lembar-lembar peristiwa ditulis Meyda.  Akhirnya,  menjadi sebuah buku yang diberi judul “Hujan Safir”.

“Hujan” adalah rahmat, dan “Safir” adalah filosofi dari keindahan. Dalam buku ini, sosok Meyda melihat hidup ini berkepribadian penuh rahmat dan indah bagi sekitar. Dalam istilah agama, rahmatan lil ‘âlamîn. Meyda berharap, catatan ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya.  Tentu ia berharap, buku ini menjadi bahan pengingat diri untuk senantiasa mewaspadai setiap ledakan peristiwa kehidupan yang tentu misteri.

Buku dengan konsep songbook ini  berisi lima buah lagu yang dinyanyikan langsung oleh Meyda Sefira dengan Lutfiah Hayati. Di antaranya Hujan Safir, Kulihat Dunia Menangis, Hijabku Impianku, Untukmu Calon Imamku, dan Rindu Ayah Ibu. Semua lagu dinyanyikan dengan cinta yang tulus untuk memberikan kerinduan akan kehidupan yang Allah rahmati.

Banyak hikmah yang dapat diambil dari songbook setebal 187 halaman ini. Songbook yang ditulis di Bandung ini menceritakan bagaimana Meyda kecil harus mengalami lumpuh layuh dan dirawat di rumah sakit. Juga bagaimana Meyda yang tidak dapat masuk universitas yang diinginkannya. Saat kuliah, Meyda harus bekerja paruh waktu di restoran cepat saji sebagai pelayan. Dari pengalamannya ini, Meyda mendapat hikmah selama bekerja. Ia bisa belajar ramah dan sabar.

Termasuk saat Meyda menemukan jati dirinya dan menemukan nikmat iman dan Islam.  Allah menuntunnya untuk menjadi manusia baru dengan mengenakan hijab. Meyda yang saat itu terbilang tomboy merasa kenyamanan yang tidak dapat dilukiskan saat memutuskan untuk menutup aurat.  Dalam buku ini, Meyda menunjukkan identitasnya tanpa rasa malu dan takut. Inilah yang diharapkan Meyda agar seorang muslimah menjadi garda terdepan dalam nilai-nilai agama di keluarga, mencetak generasi terbaik. 

Pelbagai situasi buruk menerpa gadis kelahiran tahun 1988 ini. Namun bagi sosok wanita berdarah minang ini, tidak ada yang buruk dalam situasi seburuk apapun. Tidak ada yang merugikan dalam situasi sekurang beruntung apapun. Baik dan tidak, beruntung dan kurang beruntung, adalah soal mindset, bukan pada situasinya.

Di dalam buku ini, bercerita sebuah kisah dimana hikmah menjadi benang merah atas rasa syukur yang kita panjatkan. Buku ini pun menceritakan mengenai betapa manis dan pahit perjuangan Meyda menjadi publik figur yang dapat menginspirasi. Bangkit dari keterpurukan, tetap tersenyum meski tertekan, bersabar atas musibah, dan tentu saja bersyukur atas semua berkah. 

Bagi Meyda, hidup itu peduli. Peduli itu hidup dan menghidupkan. Kepedulian yang sudah dipupuk kedua orang tuanya sejak kecil membuat Meyda lebih peka dan tersentuh hati. Kepeduliannya terhadap saudara-saudara muslim yang dianiaya di berbagai belahan dunia mengantarkannya menjadi duta kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap. Atas jiwa kepeduliannya ini, Meyda mendidikasikan royalti buku untuk saudara-saudara muslim yang terkena bencana termasuk para pengungsi di Suriah.