Beranda > Ruang Pers

News Release, 3 Februari 2014 : Besar, Potensi Gerakan Kemanusiaan Jateng

01 Jul 2014
ACTNews, Semarang. Tantangan berkarya kemanusiaan ke Jawa Tengah, bukan tanpa peluang. Semarang dan sejumlah kota di provinsi ini menunjukkan perkembangan ekonomi yang sehat. “Saya siap mengaktivasi potensi kemanusiaan yang begitu besar di sini,” ujar Komandan Disaster Emergency Relief & Management (DERM) ACT Foundation, Jakarta, Senin, 3/2.

Aksi Cepat Tanggap (ACT), institusi kemanusiaan yang telah berdiri sejak 2005 dan telah berkiprah di seluruh Indonesia dan tak kurang 20-an negara, merespon sejumlah bencana yang menyapa Indonesia. Setelah menetapkan Januari lalu masa siaga untuk merespon banjir Jakarta, kali ini Jawa Tengah menuntut perhatian lebih. “DERM sebagai unit aksi ACT, mengorganisasi lebih masif relawan melalui Masyarakat Relawan (MRI) Indonesia dari Semarang ini, merespon berlanjutnya bencana di Jawa Tengah,” jelas Andhika Purbo Swasono. 
 
Bersama MRI, Andhika menyiapkan tiga hal. “Pertama, tentu saja menggencarkan pelibatan lebih masif relawan Jawa Tengah. Sejumlah pegiat kemanusiaan telah menyatakan kesediaannya mendukung aksi ini. Antara lain  komunitas dari Pesantren Basmalah yang diinisiasi Kang Abik (novelis Ayat-ayat Cinta), organisasi ekstra dan intra kampus, komunitas profesi dan hobbies. Kedua, menggalang kepedulian untuk berdonasi. Yang ini tak harus uang, natura juga boleh. Ketiga, assesment program pascabanjir,” jelas Andhika.
 
Hadirnya Andhika, tak sekadar menunaikan mandat kemanusiaan sebatas fase emergency banjir Jawa Tengah. “Sejatinya, kita sedang mengedukasi bukan saja Jawa Tengah, tapi negeri ini dan dunia, bahwa partisipasi masyarakat atau civil society, bisa melipatgandakan energi dan mendorong pemulihan sosial pascabencana,” ungkap Andhika. 
 
Menurutnya, stimulan ACT menggerakkan MRI, upaya nyata menguatkan modal sosial. Andhika menyaksikan fenomena itu cukup kuat, merujuk fakta sosial yang muncul saat ACTR mendirikan Posko Bencana Banjir di Pati, pertengahan Januari lalu. Penanggulangan krisis apapun, perlu dukungan nyata masyarakat. Kemauan bersama mengatasi masalah, diasah dan diperkokoh oleh terpaan bencana. “Dengan begitu, pascabencanam masyarakat Jawa Tengah, juga bangsa Indonesia, lebih kuat dari sebelumnya,” pungkas Andhika. (*)