Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Gempa Nepal dan Kemanusiaan Kita

27 Apr 2015
Gempa Nepal dan Kemanusiaan Kita

Sabtu, 25 April dunia berduka. Gempa 7,9 SR mengguncang Nepal dan getarannya terasa hingga di India, China juga Bangladesh. Pusat gempa di dekat Kathmandu, ibukota Nepal dan kota Pokhara. Lalu datang gempa susulan Minggu 26 April pukul 1 siang waktu Nepal, Minggu siang berkekuatan 6,7 SR. Pusat gempa berada 80 kilometer timur kota Kathmandu. Menurut NY Times, gempa susulan ini menambah jumlah kroban tewas menjadi 2.263 jiwa, dan korban luka 5.900 orang.
 
‎Tak ada kepedihan yang sangat--sebagaimana dunia tersentak menghadapi tsunami Aceh Desember 2004--kecuali ia mengundang kepedulian dan bergegasnya dukungan konkret untuk para korban. Kerusakan akut, bisa disimpulkan membuat pemerintah Nepal, ketika Ibukota pemerintahannya juga dihentak gempa, menjadi tak berdaya. Pemerintah menyuarakan permintaan bantuan kepada dunia. Kita di sini juga mendengarnya, dengan atau tanpa permintaan resmi.
 
Di Kathmandu sendiri, puluhan ribu warganya memenuhi jalanan kota, membuat shelter-shelter mandiri. Pemerintah setempat sudah menyiapkan 16 Posko Bantuan di penjuru Kathmandu. "Posko ini dibuat untuk memudahkan distribusi air bersih, makanan dan obat-obatanan bagi warga yang selamat," kata Laxmi Prasad Dhakal, jubir Kementerian Kementerian Dalam Neger Nepal, sebagaimana dikutip NY Times.
 
‎Merespon hal itu, ACT segera menyiapkan tim. "Tim pertama, dua orang, untuk menyampaikan bantuan darurat obat-obatan, pangan dan sandang. Tim  berangkat paling lambat Senin malam," ungkap Presiden ACT, Ahyudin. Sembari melepas tim, ACT mengedukasi rakyat Indonesia untuk unjuk peduli, berdoa dan mengulurkan bantuan konkret sebagaimana banyak bangsa humanis di seluruh dunia membantu kita saat tsunami. "Tim pertama kami bekali bantuan senilai 300 - 500 juta rupiah, yang akan disalurkan bertahap sesuai kondisi di lapangan," Ahyudin melengkapi.
 
Dua orang yang dikirimkan kali ini, Wahyu Novyan-yang kini memimpin Disaster Management Institut of Indonesia/DMII - ACT dan Bambang Triyono yang kini memimpin Media Development Management - Direktorat Komunikasi ACT. "‎Keduanya dipandang pas, akan saling melengkapi dalam peran mengelola situasi dan bantuan kemanusiaan. Berbekal pengalamannya, keduanya didorong bersinergi dengan segenap elemen terutama elemen lokal, mengoptimasi bantuan yang ada," jelas Senior Vice President ACT, N. Imam Akbari. Imam menambahkan,"Kami coba jalin hubungan dengan Home Minister Nepal, semacam kementerian dalam negeri, selain membuka jalur sinergi dengan rekanan sejumlah Lembaga nonpemerintah Nepal yang pernah kita temui." Menilik situasinya, ‎’ACTion Team for Nepal’ kata Imam, akan bertolak ke India dulu mengingat Bandara Kathmandu masih ditutup sampai waktu yang tak ditentukan. Demi kemanusiaan, sejumlah skenario menunaikan bantuan akan dijajaki. "Termasuk menjajaki perjalanan darat, meski penuh risiko," jelas Imam. 
 
Aroma KAA
 
Baru usai peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, di mana sejumlah bangsa dua benua bertemu kembali menyegarkan 'kemanusiaan'. Ya: diplomasi bangsa-bangsa, sejatinya adalah memanusiakan manusia, entah ia berpintu ekonomi, budaya, politik, bahkan ketahanan antarbangsa. Semua berlandaskan kemanusiaan sebagaimana kumandang KAA 60 tahun lalu: menolak imperialisme-kolonialisme atas bangsa ‎Afrika dan Asia. 
 
Indonesia tak sekadar gagah dengan perhelatan. Kita mampu lebih dari seremoni akbar di Jakarta dan puncaknya di Bandung. Monumen KAA yang hadir menyemarakkan KAA, kita sempurnakan dengan monumen sikap kemanusiaan: membantu Nepal, negara yang berduka, di kawasan Asia ini. Meneguhkan kemanusiaan bangsa besar ini, ACT mengajak rakyat Indonesia bersikap, sebagaimana dunia pernah bersikap begitu humanis, mengirim bantuan untuk korban tsunami Aceh. Inilah wujud syukur bangsa, meneruskan kebesaran hati Indonesia tatkala Bung Karno memimpinnya dan melahirkan KAA, dan menginspirasi dunia dengan lahirnya Non Aligned Movement‎/Gerakan Non Blok (1961). 
 
Sebagai penerus semangat KAA, Indonesia tak boleh kendur sikap humanisnya. Diplomasi kemanusiaan menjadi penyempurna event-event pertemuan para kepala negara. Di sini, kesungguhan merespon Nepal perlu diperlihatkan dengan tulus. Situasi ini mendorong ACT - seperti biasa - melibatkan emosi kemanusiaan Indonesia, mengibarkan merah putih di medan kemanusiaan dunia. Bukan seberapa besar nilai bantuan yang dibawa, tetapi lebih dari itu, nilai strategis apa yang ditimbulkannya. Bagi ACT nilai strategis itu, sebagai dampak respon cepat, teredukasinya rakyat Indonesia, terbangunnya kepedulian banyak bangsa, banyak manusia lainnya. 
 
Di tengah 'kelelahan politik' di dalam negeri, obati semuanya dengan kemanusiaan. Melebur perbedaan dengan membantu sesama. InsyaAllah, jalan terang membentang, membuat bangsa Indonesia gagah melangkah, tegar mencabar, gemilang masa depannya. (Iqbal Setyarso| Direktur Komunikasi ACT Foundation)