Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Orang-orang yang Menolak Menyerah

25 Jan 2017
Orang-orang yang Menolak Menyerah

Iqbal Setyarso | VP Communications Network ACT Foundation
 
REYHANLI, kota kecil Turki berbatas langsung dengan Suriah, menerima tetamu pengungsi Suriah. Tetap aman, meski penduduk kota itu melejit lebih dua kali lipatnya. Warga setempat menduga, pengungsi melebihi jumlah penduduk dan gelombang pengungsi tetap diterima laksana saudara. Maka Reyhanli seperti menjadi teladan kota kemanusiaan, menguatkan perspektif lain sebuah konflik.
 
Selasa siang, 24/1 perjalanan cerah berjam-jam memantau situasi kemanusiaan terkini di perbatasan Turki - Suriah, menjadi modal tim untuk merancang langkah-langkah strategis ke depan. Apa yang sebelumnya hanya bersifat karitatif, kini saatnya meningkat menjadi ikhtiar lebih permanen dan berkesinambungan. Untuk itu, perlu energi besar: sumberdaya manusia, juga dana. 
 
Legalitas bekerja sudah didapat, kemitraan hebat sudah dirintis - salah satunya dengan IHH sebagai lembaga kemanusiaan global dengan pengaruh dan jangkauan kerja terbesar dari Turki‎. Seperti apa wajah penanganan pengungsi Suriah? Pemikiran ini kemudian terurai sedikit demi sedikit, beroleh jawab lewat persuaan hati ke hati dengan penyintas krisis Suriah. Bersua orang-orang yang kehilangan Tanah Air-nya.
 
Menjelang kunjungan ke sebuah kamp terabai yang masih sepi bantuan, kami singgah berbelanja kebutuhan harian untuk pengungsi di Reyhanli. Di sini benar tak ada kamp, tapi ada banyak pengungsi ‎yang hidup di rumah-rumah, berwirausaha menyatu dengan warga Reyhanli dan tak ada masalah. Kemanusiaan meruntuhkan batas "pengungsi" dan "pemilik kota". Mendengar keseharian tentang mereka, siapa mereka, dan menelusuri permukiman di sekitarnya, kita mafhum inilah orang-orang yang sadar hidupnya hanya sementara. Kebaikan Allah segera diwujudkan dengan keterbukaan menerima pengungsi.
 
Di sebuah toko bahan makanan, ‎kami mencoba bertransaksi. Said - relawan kami, membantu mengurus pembelian. Rupanya pemiliknya, bukan orang Turki, tapi pengungsi Suriah. Ibrahim, relawan driver kami, dilibatkan. Bahasa Arab memudahkan prosesnya. Lalu seseorang yang juga sedang ‎di area toko, menyapa ramah. 
 
"Malaysia? Assalamu'alaikum."
"Indonesia. Wa'alaykum salam."
 
Lalu kami berbincang. Huzaifah Aboaiman namanya, alumnus Universitas Islam Internasional Malaysia, sarjana ekonomi. 10 tahun sudah meninggalkan Suriah, ayahnya seorang doktor‎ syariah dan ia diajak meneruskan studi pula. "Sampai kemudian Suriah bergolak, dan saya tidak tahu apa-apa tentang kota kami, Hama. Tahun 2002 sampai 2012, saya di Malaysia, terus ke Reyhanli," kata ayah satu putri usia satu tahun ini. 
 
Ia hadir bersua kami di toko itu, karena ia rekanan dagang si pemilik toko. "Saya usaha kecil-kecilan. Bikin keju tradisional Suriah. Silakan cicip," ungkapnya. "Dia, enjiner. Ahli teknik, tapi para ahli terutama dokter dan teknik apapun, tak bisa menggunakan ilmunya di Turki. Ada persyaratan ketat bekerja di bidang itu," ungkap Huzaifah menunjuk Rusan Çakir, si pemilik toko. Sang enjiner baru dua tahun merintis bisnis bahan makanan di Reyhanli ini. Ya, mereka berusaha survive salah satunya dengan berdagang. Termasuk Huzaifah dan sahabatnya sarjana teknik itu. 
 
Di sini terpikir gagasan menarik. Begitu banyak tenaga ahli tak teberdayakan karena birokrasi, tapi sejatinya mereka meolak menyerah. Ini jalan membangun solusi. Selama pekerjaan itu digarap untuk keperluan "nonstruktural", bahkan bersifat nonpemerintah, sangat mungkin energi intelektual dan berkeahlian ini bisa diperankan. "Di Reyhanli saja ada sekitar 70 ribu pengungsi Suriah, dan mereka banyak yang bukan orang-orang kebanyakan," katanya. 
 
Sangat mungkin, masyarakat Reyhanli karena menerima pengungsi, orang-orang pekerja keras yang tak mau menyerah ini, menuai keberkahan dengan hadirnya pengungsi Suriah. ACT berharap bisa mengelola energi hebat ini sebaik-baiknya. Bekerja dengan kaum penuh pengharapan, meski hari ini mereka di titik nadzir ekonomi, tak masalah. Bukankah Abdul Rahman bin Auf biasa "menghabiskan harta" untuk menolong sesama, dan Allah segera ganti dengan perdagangan yang dilakukan Abdur Rahman, sesuai keahliannya. 

Reyhanli, sebuah kisah pembangun harapan. Juga narasi indah persaudaraan, di saat kita mendengar di banyak tempat pengungsi harus terlunta, tertolak, bahkan Rohingya yang sejatinya sudah ingin dipersaudarakan dengan rakyat Aceh. Ya Allah, ampuni kelalaian kami, menampik rahmat, kesempatan bersyukur dengan menolong sesama manusia.[]