Beranda > Berita Terbaru
Obituari

Obituari untuk Mas Irul, Ia yang Mengabdi Sampai Akhir

26 Jan 2017
Obituari untuk Mas Irul, Ia yang Mengabdi Sampai Akhir

ACTNews, BANYUWANGI - Bisa jadi, setiap mereka yang punya komitmen luarbiasa atas ikhtiar dunia yang dilakukannya, tentu akan berharap dan bermimpi suatu hari nanti bisa mengakhiri cerita hidupnya selagi mengabdi sampai napas terhenti. Pengabdian sampai akhir, sebuah cita yang betul-betul mulia.

Ketika ajal memang tak pernah bisa diduga, manusia hanya bisa beribadah dan berikhtiar sampai ujung napas. Selagi berdoa agar fisik mampu mengimbangi, sampai Allah betul-betul memanggil untuk kembali.

Bisa jadi pula, hanya segelintir mereka di dunia ini yang mampu merasakan nikmatnya ikhtiar sampai di penghujung umur. Langka, ketika raga dan hati ini masih bisa bermanfaat luas untuk orang lain, meski raga sebenarnya sedang merasakan sakit dan kepayahan.

Sebuah kisah perjalanan hidup di masa-masa terakhir dari Mas Irul menjadi pelajaran hebat yang patut ditiru.

Selasa, (24/01) setengah jam sebelum tengah malam, Mohammad Masrul Rohimahullah atau yang akrab disapa Mas Irul, menghembuskan napasnya yang terakhir, meninggalkan luasnya kisah Mas Irul sepanjang pengabdian hidupnya. Menyisakan pelajaran hebat tentang pengabdian dan ikhtiar sampai Allah memanggil.

Sudah tiga bulan terakhir, Mas Irul menjadi bagian dari tim relawan Aksi Cepat Tanggap wilayah Jawa Timur. Ia berasal dari Banyuwangi, kota paling ujung dari Provinsi Jawa Timur. M.R Warang Agung, selaku kawan dekat dari Mas Irul berkisah, awalnya Ia yang mengajak Mas Irul untuk bergabung bersama ACT sebagai relawan. “Dari sekian nama yang terdaftar, ada tiga orang yang mewakili Banyuwangi untuk ikut seleksi relawan di Surabaya, kira-kira tidak lama setelah aksi 411 bulan November lalu,” kata Agung.

Setelah melewati seleksi, hanya Mas Irul satu-satunya orang Banyuwangi yang terpilih sebagai relawan. Kemudian, Mas Irul mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dasar relawan ACT di Kota Bandung, bulan Desember lalu.

“Dari cerita-cerita yang selalu dikisahkan Mas Irul, Ia menyampaikan kebanggaannya bisa bergabung bersama keluarga besar ACT, bahkan seringkali Mas Irul berceloteh bahwa dirinya siap dan sanggup untuk dikirimkan sebagai relawan ke Palestina suatu hari nanti,” kisah Agung mengenang kembali masa-masa beberapa bulan silam.

Pengabdian terakhir Mas Irul terekam nyata di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Akhir Desember kemarin, Bima nyaris lumpuh diterjang banjir dua kali berturut-turut. Saat itulah, Mas Irul mendapatkan tugas untuk berangkat ke Bima melakoni tugas mulia sebagai relawan kemanusiaan.

Khairul Juhdy, relawan ACT asli anak Bima tak pernah lupa fragmen-fragmen kisah pertemuannya pertama kali dengan Mas Irul. Ia berkisah, Mas Irul datang ke Bima menggunakan bus dari Banyuwangi menuju Denpasar. Dari Denpasar, beliau menumpang pesawat langsung menuju Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Bima.

“Tiba di posko ACT banjir Bima, Posko masih dalam kondisi serba tanggap darurat, aktivitasnya lebih banyak menguras fisik. Tapi hari itu Mas Irul langsung turun tangan ikut bersih-bersih lumpur Puskesmas Paruga, padahal beliau baru saja tiba. Bahkan Mas Irul sempat memberikan bantuan logisitk untuk warga, secara khusus bantuan itu Ia bawa sendiri dari Jawa,” kenang Juhdy.

Esok harinya, hari kedua mas Irul di Kota Bima, beliau ikut aksi tim medis pelayanan kesehatan di SDN 16 Kota Bima. “Sepulang dari itu, Mas Irul mengeluhkan rasa sakit pada perutnya. Saya hanya bilang mungkin salah makan. Tapi beliau menjawab tidak apa-apa. Malamnya kondisi Mas Irul berubah semakin sulit, Ia lima kali buang air besar. Akhirnya kami memutuskan untuk menginfus Mas Irul,” kata Juhdy.

Sampai 24 jam berikutnya, kondisi Mas Irul masih pucat namun beliau meminta untuk dicabut saja selang infusnya. “Pagi itu juga, setelah infus dilepas, Mas Irul langsung turun ikut aksi tim bersih-bersih di kawasan Penatoi. Dengan troli Mas Irul bolak-balik angkut lumpur. Tidak ada sedikitpun wajah lelah. Sesekali teman-teman menggoda, tapi beliau hanya tersenyum ramah sekali,” lanjut Juhdy berkisah.

Namun, mengingat kondisi Mas Irul yang belum sepenuhnya pulih, Mas Irul akhirnya memilih untuk pulang lebih awal kembali ke Banyuwangi.

Sampai akhirnya beberapa hari lalu, Juhdy mendapat kabar Mas Irul dirawat di rumah sakit karena dugaan gejala tipus. “Saya pikir hanya karena kelelahan, tapi rupanya Allah berkehendak lain.”

Saat-saat terakhir ketika dirawat di rumah sakit, Mas Irul pun sempat memberikan kenangan tak terlupa untuk Agung. Jumat (20/1) satu pekan lalu, adalah momen penutup Agung dengarkan suara beliau.

Pagi itu, Agung bercerita Ia menerima telepon dari Mas Irul. “Isinya permohonan doa agar selalu diberikan kekuatan dan kesembuhan. Dengar tegar pula beliau berkata kesiapannya untuk diamputasi tangan kirinya bila itu memang pilihan terbaik yang dilakukan oleh dokter, tidak ada kata ragu yang diucapkan Mas Irul,” kenang Agung.

Sepuluh tahun silam, Mas Irul pernah mengalami kecelakaan. Sesuai prediksi dokter, berawal dari kecelakaan itu mulai tumbuh sebuah tumor di tangan kirinya. Dari tumor kemudian perlahan menghantam tubuhnya selama bertahun-tahun terakhir. Sampai akhirnya paru-paru Mas Irul makin rapuh menggoyahkan kondisi fisik beliau.

Meski sakit menahun, Agung pun masih mengingat dengan jelas perjuangan kawannya itu bergegas menggunakan motor bebek kesayangan beliau, pergi menunaikan tugas-tugas dakwah lintas Kecamatan Kalibaru sampai ke Banyuwangi.

“Jarak 60km sampai 70km terasa dekat bagi Mas Irul, naik motor menyelesaikan panggilan tugas dakwah bahkan bila hujan maupun malam hari sekalipun,” kenangnya.
Puncaknya saat dikirim ke Bima kemarin, walau sudah ada tanda-tanda kurang sehat, Mas Irul tetap berazam untuk berangkat hingga kemudian kondisinya makin melemah. “Beliau harus pulang lebih awal, dan akhirnya kabar duka itu datang,” ungkap Agung.

Selamat jalan Mas Irul, mujahid relawan dakwah yang tangguh bukan main. Pengabdian dan ikhtiarmu sudah usai. Doakan Kami, kawan-kawanmu bisa meneruskan semangat dan cita-citamu. Semoga di lain hari negeri ini dapat memunculkan lagi relawan-relawan dengan dedikasi dan pengabdian luar biasa seperti dirimu.

“Selamat jalan sahabat, ragamu beristirahat, tapi semangat mu akan selalu menjadi sumber motivasi dan penyemangat kami, para relawan di indonesia,” pungkas Agung menutup kenangan baik dengan Mas Irul. []

Penulis: Khairul Juhdy dan M.R. Warang Agung
Editor: Shulhan Syamsur Rijal