Beranda > Berita Terbaru
#SEDEKAHPANGAN

Mencegah Kerentanan Pangan di Wilayah Gagal Panen

26 Jan 2017
Mencegah Kerentanan Pangan di Wilayah Gagal Panen

ACTNews, TOLITOLI – Kemiskinan merupakan cikal bakal dari timbulnya kerentanan pangan yang bisa menyebabkan kelaparan. Ada berbagai faktor mengapa kemiskinan itu terjadi, diantaranya: pengangguran akibat minimnya lapangan pekerjaan, karena bencana alam, bencana kemanusiaan seperti peperangan, dan faktor-faktor lainnya.               
 
Di Indonesia jumlah penduduk miskin pada tahun 2014 sudah mencapai 27.727.780 jiwa. Sedangkan pada tahun 2015 mencapai 28.513.570 jiwa. Jumlah penduduk miskin di Indonesia bertambah dari tahun 2014 -2015 sebanyak 785.790 jiwa.
 
Aksi Cepat Tanggap/ACT merupakan lembaga kemanusiaan global yang fokus mengabdi diranah kemanusiaan dan kebencanaan, melalui berbagai programnya terus berusaha mengentaskan seluruh penyakit sosial tersebut.
 
Salahsatunya dengan Program Sedekah Pangan yang implementasinya sering beriringan dengan program-program ACT lainnya, seperti misalnya dengan Program 100 Tepian Negeri. ACT  mencoba membantu Pemerintah Indonesia dalam pengentasan kemiskinan, kerentanan pangan dan kelaparan.          
Program Sedekah Pangan merupakan program ACT dalam pemberian makanan kepada masyarakat rawan pangan atau upaya penyelamatan masyarakat terdampak kelaparan. Salahsatu wilayah yang menjadi perhatian dan sasaran dari program ini adalah wilayah-wilayah terpencil  di Indonesia timur, selain menyasar di wilayah kumuh perkotaan di Indonesia.   
 
Implementasi program terkini yang sudah dilakukan Tim Implementator Program Sedekah Pangan ACT adalah pendistribusian sejumlah Paket Sedekah Pangan di beberapa desa di Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli - Provinsi  Sulawesi Tengah, pada Rabu (25/1).    
 
Menurut Dede Abdul Rochman (Implemantator Program Sedekah Pangan ACT), beberapa desa yang menjadi sasaran distribusi Paket Sedekah Pangan di Kecamatan Lampasio, merupakan kawasan tertinggal di Kabupaten Tolitoli. Sebagian besar desa-desa di Kecamatan ini bermatapencaharian sebagai buruh tani dan petani, yang sebagian wilayahnya merupakan kawasan transmigrasi dari pulau Jawa dan Bali.

“Sejak terjadinya wabah hama pada tanaman coklat di beberapa desa di Kecamatan ini, para petani coklat sudah tidak bisa mengandalkan perkebunan coklat lagi untuk bertahan hidupnya, dimana sebelumnya coklat menjadi andalan mereka. Dengan musibah tersebut kini hidup mereka mengalami kesulitan ekonomi dan banyak diantaranya yang jatuh miskin,”jelasnya.     
 
Banyak para petani dan buruh tani di beberapa desa di Kecamatan  Lampasio bekerja serabutan, pasca-wabah hama yang menimpa tanaman coklatnya. Penderitaan warga Kecamatan Lampasio semakin lengkap dengan buruknya keadaan akses jalan atau transportasi jalan raya yang menghubungkan desa mereka ke Kota Tolitoli, yang menjadi pusat perekonomian di Kabupaten ini.
 
“Kami mendistribusikan sejumlah Paket Sedekah Pangan di beberapa  Desa di Kecamatan Lampasio diantaranya di Desa Lampasio, Desa Agomatanang, Desa bambalaga dan  Desa Salusu Lanang. Di Desa Lampasio kami juga telah membangun sekolah MTs.Al-Hidayah. Alhamdulillah warga sangat bahagia mendapatkan paket yang kami distribusikan,” tutur Dede.
 
Seperti yang diungkapkan Supardi (53), warga Desa Salusu Lanang yang kebun coklatnya mengalami gagal panen. Ia bahagia keluarganya mendapatkan Paket Sedekah Pangan dari ACT. Karena saat ini hidupnya tengah mengalami kesulitan ekonomi akibat kebun coklatnya mengalami gagal panen.           
 
Sukruka mappoji ri puan alla taala. Mannia mattarimakasi laddeka lao  ri ACT engkana bantuang nalangi ri tau salusu lanang. Tennapo ACT menre dallena. Nariamasei rupian Allah taalah. (Saya bersyukur kepada Allah dan berterimaksih sekali kepada ACT atas bantuan paket sedekah pangan yang diberikan kepada keluarga saya dan warga Salusu Lanang. Semoga program-program ACT selalu  diridlai Allah),”pungkasnya, dengan menggunakan bahasa daerah (bugis). []

Penulis: Muhajir Arif Rahmani