Beranda > Berita Terbaru
#IndonesiaDaruratBencana

Banjir Bandang, Bangka Barat Terisolir, dan 3 Jembatan Putus

30 Jan 2017
Banjir Bandang, Bangka Barat Terisolir, dan 3 Jembatan Putus

ACTNews, BANGKA BARAT - Minggu pagi, (29/1) bukan menjadi hari yang cerah untuk warga Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Awan kelabu pekat sekali sudah menutup langit Bangka sejak subuh. “Bangka sedang waspada bang, cuaca ngeri sekali, hujan pasti deras” kata Eko Gunawan, pria yang menjadi leader kawan-kawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) wilayah Bangka. Lewat layanan pesan whatsapp, di grup koordinasi MRI Bangka, Eko meminta tim relawan Bangka untuk bersiap segala kemungkinan setelah hujan lebat.  

Apa yang dikhawatirkan benar saja terjadi, Sejak Minggu pagi (29/1) sampai hari ini Senin (30/1) banjir bandang mengepung wilayah Bangka Barat. Rilisan data terbaru dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut, sejumlah wilayah di Kecamatan Muntok diterjang banjir sejak Minggu Subuh sekitar pukul 05.00 pagi.

Lebih buruk lagi, banjir bandang sampai membuat wilayah Muntok terisolasi total. Tiga jembatan penghubung utama lintasan Muntok, Bangka Barat menuju ke Kota Pangkal Pinang tidak bisa dilewati. Tiga jembatan putus diterjang banjir di Desa Mayang, Desa Belo Laut, dan Desa Air Belo.  

Padahal Jembatan di Desa Mayang merupakan penghubung utama antara Pelabuhan Muntok dengan daerah-daerah lain di Pulau Bangka. Pelabuhan Muntok jadi pintu gerbang bahan pangan dari Sumatera masuk ke Bangka.

“Jembatan putus sejak hari Minggu pagi di jalur utama Desa Mayang, Kecamatan Simpang Teritip. Akses ke Mentok harus memutar jauh lewat Desa Kundi, atau lewat Desa Belo Laut,” kata Ridho salah satu relawan MRI Bangka.

Namun rupanya jalan alternatif ke Mentok lewat Belo laut pun terputus. sebuah jembatan desa di Belo Laut Minggu (29/1) kemarin juga habis diterjang luapan sungai. “Alternatif ke Mentok lewat Belo Laut Cuma bisa dilewati berjalan kaki atau sepeda motor, jembatan darurat sudah dibangun pakai tumpukan pohon kelapa,” tambah Ridho.

Sementara itu, luapan banjir bandang di Muntok diperkirakan merendam ratusan rumah. Banjir sampai dua meter merendam Desa Tanjung laut, Teluk Rubah, dan Kampung Ulu di Kelurahan Tanjung. Banjir juga dikabarkan menerjang Kelurahan Sungai Daeng, meliputi Desa Culung dan Desa Belo, Kecamatan Muntok.

Sutopo memperkirakan hitungan awal ada hampir 2000 jiwa mengungsi karena banjir bandang Muntok. 524 jiwa warga mengungsi asal Kelurahan Tanjung, 200 jiwa asal Kampung Ulu, 97 jiwa asal Teluk Rubiah, 140 jiwa dari Gang Sadar, 56 jiwa dari Pasar Tengah.

Kemudian data sementara di Kelurahan Sungai Daeng banjir membuat 227 jiwa mengungsi. Paling parah di Desa Belo Laut, tiga dusun yang mengungsi berjumlah 703 jiwa.
Sampai pagi ini, ratusan kendaraan masih terjebak kemacetan panjang menuju Muntok. Akses memutar sulit dilalui. Muntok bisa dibilang belum bisa dicapai bantuan.

“Satu-satunya akses ke Muntok yang bisa dilalui mobil lewat Desa Kundi. Ada jembatan kayu yang lebih kuat untuk dilewati mobil. Tapi semua macet karena antrean di jembatan darurat. Kami malam tadi menyeberang ke Muntok antre 4 jam di jembatan darurat Desa Kundi,” kata Eko dihubungi via telepon, Senin (30/1).

Eko mengatakan, sejak semalam tadi Tim MRI Bangka sudah mencoba berbagai macam alternatif menuju Muntok, lewat jalan alternatif berlumpur tebal, berkendara tanpa istirahat sama sekali. “Pagi ini Kami sudah sampai di Muntok, prioritas kumpulkan data tentang kebutuhan mendesak pengungsi. Catatan awal kami menyebut 4 desa di Muntok paling parah diterjang banjir. Hampir seperti banjir bandang Garut beberapa bulan kemarin. Dua desa di Muntok masih terendam hari ini.” pungkasnya menutup telepon.

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal