Beranda > Berita Terbaru
Social Development

Jalan Panjang Menutrisi Negeri Kaya yang Kurang Gizi

31 Jan 2017
Jalan Panjang Menutrisi Negeri Kaya yang Kurang Gizi

ACTNews, JAKARTA - Apa yang berlalu dipikiran kita saat mendengar kata gizi? Boleh jadi jargon populer “4 Sehat 5 Sempurna,” tiba-tiba terlintas. Mulai dari nasi, ikan, sayuran, buah, dan susu adalah makanan yang mengandung zat untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Tak perlu berdebat panjang, niscaya setiap orang yang sejak dini konsisten menyeimbangkan jenis makanan bergizi, akan terjaga dari penyakit hingga dewasa. Sementara sebaliknya, hambatan pertumbuhan berupa kurang gizi bahkan kelebihan gizi (obesitas) sejak balita akan berpengaruh pada perkembangan fisik maupun mental sampai dewasa.

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 melaporkan bahwa 18,8 % balita usia 0-5,9 bulan mengalami kurang gizi dan 29% mengalami stunting (tubuh pendek) akibat kurang gizi menahun. Sementara itu, ada pula 1,6% balita mengalami obesitas.

Negeri ini sesungguhnya kaya akan sumber pangan, akan tetapi mengapa masih saja angka kurang gizi membubung di berbagai daerah?

Belum lagi jika menyimak angka dari Data Badan Ketahanan Pangan Nasional. Angka rawan pangan Indonesia tercatat 27,5 persen. Bagaimana bisa memulai pola hidup sehat jika angka kerawanan pangan saja masih di atas satu perempat dari jumlah populasi Indonesia?

Belum lewat sepekan kemarin, Indonesia melewati 25 Januari sebagai Hari Gizi Nasional. Hari Gizi yang nyatanya terlewat begitu saja, bisa dibilang tanpa perubahan dan gerakan yang berarti dalam skala nasional. Sampai kapan kita hanya berdiam diri menengok tetangga sebelah yang rupanya bayinya berumur sebulan, menangis terus tak karuan, kurus tak bertenaga?

Bengkel Gizi Terpadu, jalan panjang menutrisi gizi.

Tentunya, masalah gizi ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan satu kali kegiatan saja, misalnya dengan membagi paket gizi di satu titik, kemudian tidak kembali lagi dan melupakan apa yang sudah dilakukan. Perlu tahapan yang tekun dan berkesinambungan hingga menampakkan hasil nyata.

Berangkat dari prinsip tersebut, Aksi Cepat Tanggap sudah sekian tahun terakhir mewujudkannya dalam aksi nyata melalui Program BeGiTu (Bengkel Gizi Terpadu). Program ini digulirkan untuk membentuk masyarakat Sehat dan Mandiri melalui proses rehabilitasi gizi buruk secara terpadu, partisipatif dan berbasis sumber daya lokal.

Bengkel Gizi Terpadu pun merintis terbentuknya desa binaan atau komunitas binaan ACT, dengan berkolaborasi dengan berbagai mitra. Targetnya, masyarakat di dalamnya bisa menjadi masyarakat yang mandiri dari sisi ekonomi, kesehatan dan bidang lainnya.

Sepanjang beberapa tahun terakhir, tanpa perlu menunggu perayaan Hari Gizi Nasional – yang sering kali sonder aksi nasional dan sonder makna – aksi BeGiTu terus berjalan setiap hitungan pekan, bertahap hitungan bulan.

“Aksi itu dilaksanakan dalam 3 alur, yaitu pemulihan gizi terpadu, edukasi, dan pemberdayaan komunitas. Pemulihan gizi terpadu dilakukan dengan menugaskan relawan dan kader gizi untuk intervensi gizi dan intervensi medis,” ungkap Nurjannatunnaim, Koordinator Lapangan dari Divisi Community Development ACT.

Intervensi gizi yang dilakukan berupa konsultasi gizi yang diikuti pemberian paket pangan bergizi. Bentuknya bermacam bahan pangan siap olah, mulai susu, kacang hijau, biskuit, telur, buah, dll. Kemudian ada pula penyedian makanan tambahan bagi anak dan keluarga gizi buruk.

Sedangkan, Intervensi medis adalah pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat dan multi vitamin secara berkala (2 pekan sekali). Selain itu, ada perawatan intensif dirujuk di rumah sakit terdekat untuk kondisi khusus, seperti penderita gizi buruk parah dengan penyakit penyerta yang berat.

Tak sampai disitu, edukasi berkelanjutan juga menjadi program BeGiTu ACT. Pelatihan dan Penyuluhan terkait gizi dan kesehatan keluarga secara umum diagendakan rutin terutama untuk relawan lokal dan ibu dari anak penderita gizi buruk.  Tahap ketiga berupa pemberdayaan, di mana ACT bersama mitra membentuk kelompok usaha mitra mandiri.

Sudah lebih tujuh tahun perjalanan BeGiTu, Sejak tahun 2009 lalu sudah ada 5 desa yang ternutrisi manfaat program ini. Nur berkisah, Ia dan timnya sudah rutin mengedukasi perbaikan gizi di Desa Jagabita, Kec Parung Panjang, Kab Bogor; Pangadegan, Kec Pasar Kemis, Kab Tangerang; Jatimulya, Kec Tambun Selatan , Kab Bekasi; Pondok cabe, Kec Pamulang, Kota Tangsel; dan Desa Karang tengah, Kec Pagedangan, Kab Tangerang. 

Nur menambahkan, rata-rata daerah tersebut juga mengalami sanitasi tak layak, kekurangan air bersih. Selain edukasi gizi, pendekatan sanitasi juga dilakukan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Apalagi, masalah gizi bukan hanya soal makanannya tetapi juga kebersihan lingkungan.

“Program BeGiTu bukan hanya bergerak mengatasi problem gizi tapi membantu masyarakat mengenali permasalahan pada keluarganya,” tutur Nur.

Tiga hari pasca Hari Gizi Nasional kemarin, BeGiTu kembali melebarkan manfaatnya. Sabtu (28/01), ACT bermitra dengan AIA group membuka pusat rehabilitasi gizi BeGiTu di Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kabupaten Cilegon.

Berbeda dengan program BeGiTu di desa-desa sebelumnya yang harus meminjam aula kelurahan untuk melakukan penyuluhan, di Desa Kepuh aksi dipusatkan di bangunan baru yang disebut warga sebagai Pondok Bersalin Desa (Polindes). Tahun 2016 lalu ACT inisiasi bangunan polindes Desa Kepuh, warga Kepuh tak perlu lagi jalan jauh untuk sekadar periksa kesehatan mereka apalagi untuk urusan persalinan.

“Selama 6 bulan ke depan kami akan adakan konsultasi gizi setiap dua pekan sekali dengan pendampingan 3 bidan praktik mandiri di Kepuh. Berbulan sudah berlalu, malah sampai sekarang 5 desa binaan BeGiTu masih mendapat pendampingan, edukasi dan pemberdayaan. Sampai warga mandiri dari sisi kesehatan maupun ekonomi,” jelas Nur.

Warga Kepuh sudah merasakan manfaatnya. Sabtu (28/1) itu seratusan ibu dan balita Kepuh didorong mengikuti layanan gratis kesehatan seperti penimbangan dan pendataan berat badan serta pengetahuan perawatan anak usia.

“Setelah pemeriksaan, ibu dan balitanya dapat paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT), juga ada pengenalan fungsi dan cara pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS),” ujar Nur.

Hari Gizi Nasional memang sudah terlewat, tapi jalan panjang itu masih menunggu. Ada tugas untuk menjaga nutrisi gizi generasi kekinian negeri ini. Menunggu sambil terus bergerak.

Menunggu masa di mana akan lebih banyak lagi ayah yang dimudahkan rezekinya, bukan untuk membeli sepuntung rokok, melainkan segelas susu dan makanan bergizi untuk anak-anak mereka.

Sementara di sisi lain, Program BeGiTu terus berikhtiar bergerak untuk menutrisi manfaatnya ke seluruh Indonesia. In shaa Allah.

Penulis: Tsurayya Fajri Islami