Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity - Save Syria

Asa dan Cinta dalam Sepotong Pita

01 Feb 2017
Asa dan Cinta dalam Sepotong Pita

ACTNews, Turki, KILIS - Makanan pokok adalah bagian penting dari suatu peradaban, sesuatu yang sudah membudaya dan mendarah-daging dalam berbagai masyarakat. Begitu pentingnya makanan, sampai-sampai sejarah membedakan perkembangan budaya dari masyarakat purbakala sampai modern menggunakan cara mengolah makanan sebagai salah satu kategorisasi. Makanan dalam sebuah kebudayaan, tak ubahnya satu titik dalam mata rantai, jika terganggu akan berujung pada akibat yang panjang.

Bila di sebagian besar negara Asia Tenggara bangga menyantap nasi sebagai makanan pokoknya, maka beda lagi dengan masyarakat Timur Tengah. Sumber karbohidrat mereka berupa roti dengan berbagai varian, roti pita menjadi pangan paling dominan.

Menariknya, roti pita dikenal dengan beberapa nama, ada roti khubz, flat bread, juga dikenal sebagai Syrian bread atau “roti Suriah.”

Benar, roti pita yang berbentuk bulat dan datar, bisa dikatakan pusat dari kebudayaan Suriah. Berabad-abad warga Suriah mengolah dan mengkonsumsi roti yang disebarkan petani-petani bangsa barat Mediterania ini.

Dalam bahasa Yunani, “pita” berarti “roti” atau “datar”. Cara mengolahnya sederhana, adonan roti dimasukkan dalam oven bersuhu tinggi, sampai adonan mengembang dan menciptakan ruangan di antara dua lapisannya, atau disebut “kantong”. Namun, roti pita juga bisa dibuat tanpa kantong (pocket-less pita). Warga Suriah bisa mengombinasikan roti pita dengan makanan lain, seperti hummus dan durum. Di saat krisis seperti sekarang ini, roti pita bisa digulung dan dimakan begitu saja.

Menyadari nilai strategis dari roti, di masa lalu pemerintah Suriah rupanya pernah berbaik hati menyubsidi roti dan juga bahan utamanya, yakni tepung, seperti dikutip dari munchies.vice.com. Subsidi ini jelas tujuannya agar semua rakyat Suriah bisa terpenuhi gizinya, tanpa perlu menilik berapa jumlah uang di kantong.

Namun, pentingnya roti juga menjadi bumerang bagi rakyat Suriah di masa krisis yang sedang terjadi. Pemerintah seketika menghentikan subsidi roti sehingga harga melonjak. Militer terlebih dulu menargetkan toko dan pabrik roti dalam serangannya, selain sekolah dan rumah sakit. Roti pita pun makin mahal di Suriah. Tak tertebus, karena nyaris nihil pabrik roti yang membuatnya.

Namun, di saat krisis pun masyarakat Suriah tetap bersikeras mempertahankan idealisme mereka tentang roti yang mereka makan. Sebabnya satu, gizi dari selembar roti pita itu luar biasa.

Dengan campuran tepung dari gandum utuh yang unik dan khas, roti pita Suriah mengandung lebih banyak protein daripada roti dari tepung putih biasa, dengan perbandingan 16% dan 12% dalam sepotong roti. Tidak banyak roti yang bisa menyaingi kandungan nutrisi roti pita, sebagai sumber zat besi dan kalsium yang rendah lemak dan gula. Selera akan roti yang ideal ini membuat pengungsi Suriah yang menetap di Turki enggan memakan roti Turki, yang biasanya hanya dibuat dari tepung putih biasa.

Akan tetapi, tekad masyarakat Suriah mempertahankan cita rasa roti pita sebagai budaya kuliner mereka juga memiliki efek positif. Beberapa warga Suriah yang sudah lebih dulu bangkit dari keterpurukan perang mulai membuat sendiri rotinya di pengungsian atau di bangunan rumah susun di kota dekat perbatasan Suriah-Turki. Mereka menjualnya, dengan klaim bahwa roti tersebut “seperti rasa di rumah.”

Rasa rindu akan kampung halaman yang damai biasanya membuat pengungsi Suriah lainnya membeli roti-roti tersebut daripada menerima roti bantuan.

Roti pita juga menumbuhkan kembali asa para pengungsi Suriah di tanah asing akan pekerjaan yang mereka butuhkan. Bila di Turki, pengungsi Suriah secara berdikari memproduksi roti dalam jumlah kecil, segelintir pengungsi Suriah di Yordania dan Kanada membuat serikat yang lebih masif dan mendirikan pabrik roti.

Mengutip dari media lokal Kanada, thewalrus.ca dan laman Telegraph, di Yordania dan Kanada tenaga kerja diserap dari pengungsi Suriah yang terus berdatangan. Dengan adanya kesempatan kerja, pengungsi Suriah bisa berhenti dependen pada bantuan. Sehingga segera setelah mereka mendapat status pengungsi dan izin kerja, mereka bisa membangun kembali hidup dari awal.

Menyadari pentingnya roti pita dalam kehidupan masyarakat Suriah, Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak Januari 2017 resmi menggulirkan operasional pabrik roti bersama mitra di Kota Kilis, tak jauh dari perbatasan Aleppo dan Turki.

Dengan tenaga 12 orang pekerja yang juga merupakan pengungsi Suriah, pabrik tersebut dapat menghasilkan 20.000 bungkus roti setiap harinya. Satu bungkus roti berisi 8 lembar roti pita. Jadi seara keseluruhan pabrik roti di perbatasan Kilis ini mampu memproduksi 160.000 lembar roti selama beroperasi sehari penuh!

Roti pita itu kemudian didistribusikan pada pengungsi-pengungsi Suriah di dalam Aleppo, juga di kota perbatasan Suriah lainnya yang bersekat dengan Turki. Roti Pita yang dihasilkan dari pabrik roti ACT ini gratis sepenuhnya, agar mereka tidak perlu lagi mengantre terlalu lama selagi menahan lapar. Jaminannya, roti yang dihasilkan pun komposisi dan rasanya semirip mungkin dengan roti pita khas Suriah.

Asap membubung dari atap pabrik roti di Kota Kilis. Setiap deru suara mesin roti dari pabrik ini bergemeretak, menyalakan lagi harapan para pengungsi Suriah.

Sebab, pada akhirnya mereka melihat kembali bumbung asap berbau harum. Bukan asap bekas bom atau tembakan yang meneteskan darah sanak-saudara mereka, melainkan asap yang membantu memastikan mereka meniti hidup, menatap masa depan.

Dan asap membumbung bersama dengan perjuangan untuk tetap melanjutkan hidup, melupakan duka konflik. []

Penulis: Esa Khairina Husen