Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Kota-kota Pemancar Daya Hidup (1)

02 Feb 2017
Kota-kota Pemancar Daya Hidup (1)

Iqbal Setyarso
VP Communications Network ACT
 
Pekan yang padat, ditambah cuaca masih dingin, menjadi tantangan tersendiri bagi kami  dari Indonesia, beraktivitas di Turki. Bersyukur, orang-orang, manajemen kota-kotanya, pun sejarah peradabannya, menyuntikkan energi tersendiri sehingga sejumlah hal yang ditargetkan, tertunaikan, dalam perjalanan kemanusiaan akhir Januari 2017.
 
Orang-orang Turki yang bersinggungan dengan ACT, sungguh, menyuguhkan performa hubungan yang khas. Mereka responsif, teratur, biasa menghadapi keragaman, sehingga hampir tidak mengekspresikan sikap berlebihan. Kadang, sikap "teratur" ini kelewat kaku, akibatnya, mereka enggan melayani tuntutan improvisasi yang menjadi kebutuhan mitra.
 
Seorang relawan ACT, mahasiswa Istanbul University asal Lhokseumawe, Said Mukaffiy, saya rasa karena 'darah muda'nya, sempat kurang sreg lantaran‎ partner kami lebih sering mengatakan "tidak bisa", untuk beberapa proses pendokumentasian yang diperlukan ACT. "Kalau sudah begitu, kita harus beberapa kali menegaskan, itu sangat penting bagi ACT. Apalagi kerjasama kita mencakup nilai yang besar dan jangka panjang," ungkapnya.
 
Ya, sahabat-sahabat Turki - meskipun perlu waktu beradaptasi dengan gaya ACT: kerja cepat, rincian sejumlah item sekaligus terutama terkait report visual dan administratif, mulai "terinternalisasi" kerja ala ACT. "Saya pernah membantu lembaga lain, mereka tidak banyak menuntut untuk akurasi aksinya. Tapi dengan ACT, wah, mula-mula berat tapi saya suka, ACT berusaha bekerja beneran, kalo cari mitra, dicari yang terbaik. Kalau harus belanja langsung, tim pusat terlibat serius sekali. Budaya itu yang saya tegaskan ke mitra kita di Turki. Bahwa ACT akan banyak terlibat di proses aksinya," kata Said.

"ACT menurut saya, bagus. Cara kerjanya membuat dirinya disegani. Termasuk oleh mitra kita di Turki," lanjut mahasiswa yang tengah merancang usaha bersama beberapa kawannya di Aceh ini. Singkat kata, ACT dengan personal lokal di Turki sudah 'nyambung'. Kesefahaman, melancarkan proses kreatif ke depan. "Dan ACT jagonya, untuk berkreasi," ujar Said, lajang yang hanya senyum saat ditanya soal jodoh.
 
Saya paparkan tentang beberapa kota di Turki, di mana kami singgah menginap, atau terjun mengimplementasikan sejumlah program. Dalam kepungan suhu luar antara 6 - 9 derajat Celsius, bahkan jelang kami kembali ke Jakarta, berhadapan dengan rintik salju, bandara Istanbul pun dipenuhi bongkaran salju, tim ACT tetap bersemangat menuntaskan beberapa hal, mobilitas tinggi ke beberapa kota. Ini menjadi mungkin, salah satunya, karena energi yang terancar dari kota-kota ini.
 
Pertama, Kilis. Kota perkebunan yang menonjol dengan zaitunnya. Di sini, kami menginap, setelah melakukan asesmen dan implementasi bantuan‎ di titik-titik pengungsian yang terabai bantuan reguler; sekaligus merencanakan program 'sedekah pangan' dengan layanan kendaraan khusus yang bergerak membagi makanan ke kantong-kantong yang tak terurus lembaga manapun.
 
"Kita rencanakan, mengajak donor mendonasikan bantuan pangan untuk Ramadhan. Dengan memberi dana lebih cepat, tim lokal bisa menyiapkan mitra lokal secara optimal, dan memetakan penerima manfaat lebih rapi lagi," ujar Yana Hermain, VP Operational ACT yang tak absen mengikuti aktivitas di lapangan.
 
Kalau program ini sukses meraih dukungan besar, Reyhanli menjadi wilayah sasaran utama. Di sini, ada daerah bernama Harran, salah satu spot pengungsian terabai, berdiri alakadarnya, dan salah satu tenda di Harran ini hidup Hala, bocah lima tahun yang beberapa kali menjalani operasi kelainan usus dan dalam proses pemulihan. 
 
KILIS, tepatnya Kilis ili (Turki) atau provinsi Kilis, di  selatan-tengah Turki, berbatasan langsung dengan Suriah. Wilayah ini bertaut dengan bagian selatan provinsi Gaziantep dan dibentuk pada tahun 1994. Kota Kilis sendiri rumah bagi sekitar 67  persen dari penduduk provinsi Kilis, kota-kota dan desa-desa lainnya di provinsi ini sangat kecil. Ini kota tua pertanian, di kaki bukit selatan barat yang dialiri sungai Efrat yang mata airnya mengalir dari Pegunungan Taurus. Kilis, kawasan pertanan yang subur, 68 persen tanah Kilis, lahan tani dan kebun.

Komoditi andalan Kilis antara lain buah zaitun, gandum, barley dan tembakau, selain anggur. Kota berpenduduk 123,135 ini, pemasok 4 persen total produksi anggur Turki. Kawasan ini dipengaruhi iklim laut Mediterania yakni 60 – 80 km areanya. Saat musim dingin suhu rata-rata 4 sampai 7 derajat Celcius, sedangkan di musim panas suhu tidak jatuh di bawah 25 derajat Celcius. Perjalanan dari Kilis, jika terus ke arah selatan, akan masuk kota Halep atau Aleppo, Suriah.

Kilis sebagai kabupaten, punya empat kecamatan: Kilis (sebagai ibukota kabupaten), Elbeyli, Musabeyli dan Polateli. Inilah kota yang penduduknya amat bangga dengan kotanya. Di sebuah resto dengan suasana kota tua yang memajang potret-potret lama pemandangan Kilis, dipajang tulisan dengan berpigura dalam bahasa Turki yang artinya, ”Semua bahan makanan yang kami sajikan di sini diproduksi di Kilis.”  Warga juga bangga mengungkapkan sejumlah tokoh Turki dari Kilis.

Ada mantan kepala staf militer Turki Jenderal Dogan Güreş yang kemudian menjadi Anggota Parlemen untuk Kilis; Jenderal Militer İzettin İyigün (1938); kolumnis dan juri kontes kecantikan Hıncal Uluç (1939); dokter hewan sekaligus penyair, Seyfettin Başcıllar (1930-2002). Di hotel tempat kami menginap saja, dipajang produk olahan untuk oleh-oleh: minyak, sabun,sampoo, berbahan utama buah zaitun dari Kilis.

Di Kilis ACT bermitra dengan IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri ve İnsani Yardım Vakfı) juga, ACT punya mitra pabrik roti, selain yang lebih besar di Idlib, sudah masuk wilayah Suriah. Bicara pelintasan perbatasan, perjuangan besar dan perlu kesabaran. Saat kami di sana, ada berpuluh kontainer harus antri di luar perbatasan Suriah-Turki dari wilayah kota Kilis. Kontainer itu juga termasuk milik pelaku bisnis, karena sejatinya aktivitas perdagangan juga masih berlangsung meskipun iramanya melambat karena krisis politik belum kunjung berakhir. (bersambung)