Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Kota-kota Pemancar Daya Hidup (2)

04 Feb 2017
Kota-kota Pemancar Daya Hidup (2)

Iqbal Setyarso
VP Communications Network ACT
 
Urban atau rural bagi Turki, secara umum tak kelewat beda dalam hal cara warga memperlakukan kotanya. Ada sikap yang serupa, tak peduli mereka ‘orang kota’ atau ‘orang desa’. Sikap ini menunjukkan kualitas kewargaan mereka. Salah satunya dalam soal menjaga kerapian dan kebersihan kota: sangat baik.
 
Menelusuri kota demi kota dalam perjalanan kemanusiaan ACT, memberi kesan positif soal pengelolaan kota. Sempat terbetik dibenak, setiap kota, “Seperti kota baru.” Salah satunya, karena kerapian tata kota, jalan lurus, perempatan siku, juga bersih. “Kita sering dengar, orang Turki itu ‘gila kebersihan’,” kata Andika Rachman, Kepala ACT Turki. Citra bersih ini, nyaris merata di seantero kota-kota di Turki.  Bahkan di “Kota Pengungsi” Reyhanli.
 
Reyhanlı, atau dalam bahasa Arab, ar-Rayḥānīyah, sebuah kota dan kabupaten dari Provinsi Hatay, di pantai Mediterania Turki, dekat perbatasan Suriah. Kota ini punya sejarah yang dinamis. Pernah punya nama İrtah dan Reyhaniye. Penghuni dominan Reyhanli, dalam rentang sejarahnya,  pada abad 16  dihuni Turki "muhacir" (muhajir, yang hijrah bersebab mengungsi), mereka suku Turki dari Rey. Pada abad ke-19, datang orang-orang dari Kaukasus dan Siprus.
 
Di masa modern ini, Reyhanli tak usai dari narasi krisis kemanusiaan. Tahun 2013 kota ini mengalami pemboman, dua bom mobil meledak di tanggal 11 Mei 2013 mengakibatkan 51 orang tewas, 140 lainnya luka-luka akibat ledakan itu. Ledakan itu terjadi di balai kota dan kantor pos, ledakan kedua hanya 15 menit setelah ledakan pertama. Orang-orang yang menolong korban ledakan pertama, terjebak ledakan bom kedua. Serangan ini dipandang sebagai tindakan teroris paling mematikan dalam sejarah Turki modern.
 
Reyhanli dipengaruhi iklim khas wilayah Mediterania, merupakan daerah pertanian yang sistem irigasi yang baik. Ada waduk yang menjaga kesinambungan perkebunan kapas hortikultura, gandum dan biji-bijian lain, juga peternakan sapi, domba dan kambing. Daging segar berkualitas, banyak dipasok dari Reyhanli. Reyhanli cukup dinamis kehidupannya, berkat posisinya di jalan utama İskenderun dan Aleppo. Jarak dengan perbatasan di Cilvegözü, hanya 5 kilometer (3 mil) selatan timur kota Reyhanlı, pos perbatasan darat Turki-Suriah tersibuk yang dilalui arus pengiriman barang dengan kontainer – baik barang perdagangan maupun bantuan kemanusiaan untuk pengungsi. 
 
Di Reyhanli, kami singgah berbelanja, sebelum menyapa kamp “terabai” di Harran. Reyhanli, menampung 230 ribu pengungsi Suriah yang diterima dengan terbuka. Sebagian pengungsi berharta, menyewa hunian di Reyhanli, membuka usaha terutama perdagangan dan usaha kecil. Salah satunya - sebut saja Muhammad Asy-Syria -  seorang enjiner yang berusaha bertahan hidup dengan membuka toko kebutuhan pangan.
 
Orang-orang seperti Muhammad Asy-Syiria ini, cukup banyak. Mereka berkeahlian, dan profesional di negerinya sebelum porak-poranda karena konflik. Konflik membuat banyak tenaga berkeahlian, menjalani hidup penuh cobaan. Pekerjaan yang sesuai keahlian, belum bisa menerima mereka ketika mereka ini berstatus pengungsi. Mereka pemegang kartu pengungsi, sebagai kartu identitas baru, hal yang membuat lapangan kerja yang sesuai untuk mereka, tertutup.
 
Profesi “tercepat” yang memungkinkan pengungsi berkeahlian ini bisa hidup dan berpenghasilan, ya berwirausaha. Maka kalau berkeliling di Reyhanli, kita akan mudah menemukan toko yang pemiliknya belum fasih berbahasa Turki, sebagian bisa berbahasa Inggris, tapi bahasa Arab lebih lancar. Mereka ada yang dokter, insiyur teknik sipil atau teknik industri, tapi hanya bisa bertahan sebagai pedagang bahan pokok, pengusaha toko mainan anak, toko pakaian, bahkan pembuat makanan olahan tradisional. “Misalnya, perkedel bulgur khas Suriah, bagian dalamnya berisi daging giling dengan bumbu yang khas. Dalam bahasa Turki, kue ini namanya içli köfte,” jelas Andika Rachman, pimpinan ACT Turki.
 
Pelajaran menarik dari Reyhanli, dari sisi warga kota: pengungsi bukan beban, terlebih saat para pengungsi itu memiliki kemauan kuat untuk kembali. Mereka mewakili karakter yang pas dengan kata ‘urbane’ yang bermakna ‘sopan-santun’. Akhlak mulia, menjadikan interaksi “pengungsi” dan “bukan pengungsi”berjalan baik.
 
Dari sisi pengungsi sendiri, mereka menunjukkan karakter utama menjaga kehormatan. Mereka hidup sebagai warga yang sanggup bertahan hidup, tabah menjalani semua kemungkinan, pantang menyerah selama punya kemampuan berusaha.  Kemiskinan lantaran menjadi pengungsi, tak membuat mereka kehilangan harga diri. Sebagai contoh, ketika Tim SOS Syria XII berkunjung ke kawasan kamp terabai di pinggiran Reyhanli, tepatnya di Harran, seorang pria tua yang masih gagah menemui kami yang sudah masuk mobil, di belakangnya ada beberapa pria lainnya. Ia sodorkan selembar uang senilai 100 Dollar AS. Ia yakin, itu uang kami yang terjatuh.
 
“Benar, Mas, itu jatuh dari kantong saya,” ujar Bambang Triyono, salah satu tim kami. “Ya, itu uang kami. Tapi, silakan, untuk Anda dan yang paling membutuhkan ya.”
 
Barulah bapak tua itu tersenyum dan bersyukur. Tangannya menengadah mendoakan kami. Hati saya bergetar. Mereka memang susah, tapi kesusahan tak menggugurkan akhlaknya. Mereka konsisten menjaga kehormatan. Saat kami siap-siap pergi, di tepi jalan sudah berkerumun banyak pengungsi dari tenda-tenda yang bersebaran di Harran. Mereka hanya bertanya dengan pandangan berharap, “Adakah sesuatu untuk kami?” Bambang Triyono melongokkan kepala dari mobil, “Ya. Kami akan kembali. Hari ini kami belum menyiapkan sesuatu untuk kalian.”   Kami berlalu meninggalkan kamp terabai di Harran dengan masygul.
 
“Siapkan kendaraan pangan untuk mereka. Lakukan distribusi paket pangan secepatnya ya! Mereka hanya pegang kartu kontrol pemerintah, tapi belum tersantuni. Pemerintah Turki saya kira juga sudah sangat hebat melayani ratusan ribu pengungsi di wilayah Turki, sehingga yang di sini belum terbantu,” ujar Ahyudin, Presiden ACT.
 
Siap! ACT Turki bersiap melayani bantuan pangan di blank spot area di Reyhanli, mendukung keberlangsungan hidup para pengungsi berakhlak mulia ini. (bersambung) []