Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Kota-kota Pemancar Daya Hidup (3)

05 Feb 2017
Kota-kota Pemancar Daya Hidup (3)

Iqbal Setyarso
VP Communications Network ACT
 
Paduan sejarah, wisata dan modernitas, menjadikan Mersin kawasan yang berwibawa sekaligus eksotis. Mematuhi kebijakan nasional Turki, dan ini amat strategis, jejak sejarah sebelum penaklukan Al-Fatih, tak dimusnahkan termasuk di kawasan ini. Masih eksis sejumlah situs sejarah yang tegak dan menjadi magnit wisatawan global.
 
Provinsi Mersin (Turki: Mersin ili) adalah sebuah provinsi di Turki selatan, di pantai Mediterania antara Antalya dan Adana. Ibukota provinsi adalah kota Mersin dan kota besar lainnya adalah Tarsus. Kota ini berpenduduk sekitar 1,647,899 jiwa dengan luas wilayah sekitar 100 km2. Mersin, lebih besar dan lebih modern dibanding Kilis. Di sini ACT bermitra dengan Al-Baraka, lembaga kemanusiaan yang memilih pendidikan untuk anak-anak pengungsi Suriah. Pendidikan, kata Husein Raihawi, Direktur Al-Baraka, adalah solusi menolong Suriah. “Generasi terdidik Suriah, meski hari ini hidupnya menumpang di negeri orang lain, masih punya harapan untuk menjalani masa depan lebih baik. Pendidikanlah, solusi perbaikan nasib anak-anak Suriah hari ini,” ujar lelaki paruh baya yang ramah tapi tegas ini.
 
ACT diajak berkunjung ke dua lokasi yang di kelola Al-Baraka, keduanya di Mersin. Di lokasi pertama, sebuah bangunan tiga lantai, lantai bawah berfungsi sebagai toko dan ruang pertemuan, lantai kedua dan tiga menjadi kantor Al-Baraka.  Di toko ini, ACT meresmikan Humanity Card pertama di luar Indonesia (disusul peluncuran Humanity Card di Bangladesh untuk pengungsi Myanmar dan penerima manfaat warga Bangladesh). Dengan kartu ini, penerima manfaat bisa berbelanja kebutuhan pokok dengan Humanity Card. Ini pilot project sekaligus piranti mengedukasi jagat kemanusiaan, tentang ikhtiar memuliakan penerima manfaat, diawali dengan 500 pemegang Humanity Card perdana.
 
Bagaimana penentuan 500 orang ini, padahal pengungsi di Mersin ini ada tak kurang dari 200 ribu jiwa?
 
“Kami temui langsung keluarga para pengungsi untuk bisa menetapkan prioritas keluarga mana yang layak memiliki 500 kartu ini,” jelas Hussein Raihawi.
 
Kriteria itu antara lain: keluarga yang tak punya kepala keluarga laki-laki, kalaupun kepala keluarganya laki-laki dipilih yang lanjut usia atau mereka yang difabel. Kami dilibas haru, di toko Al-Baraka di Mersin ini.
 
Saat seremoni penyerahan kartu, Al-Baraka menghadirkan perwakilan penerima kartu: pria tua, pun yang tunanetra, atau kaum ibu yang memimpin keluarga karena suaminya tak lagi di sisinya.
 
Seperti apa Provinsi Mersin? Daerah ini 87% dari kawasannya merupakan tanah pegunungan yang mengarah ke puncak berbatu Pegunungan Taurus pusat, puncak tertingginya Medetsiz (3.584 m) di kisaran Bolkar, sebagian areanya mengarah ke pusat Anatolia. Di jalur pantai, ada dataran yang panjang yang terbentuk dari tanah yang dibawa turun oleh sungai-sungai mengalir dari pegunungan. Kawasan ini subur. Sungai-sungai terbesarnya, Göksu dan Berdan (atau Tarsus, Cydnus kuno), ada sejumlah sungai kecil, bertemu di danau, waduk, dan laut Mediterania. Mersin sendiri punya garis pantai sepanjang 321 km, sebagian besar pantainya berpasir.
 
Iklim Mersin khas Mediterania: sangat panas dan sangat lembab di musim panas, hangat dan basah di musim dingin. Saat hujan musim dingin, bisa sangat lebat sehingga banjir merupakan masalah di banyak daerah di provinsi Mersin. Di sini, belum pernah ada salju di area pantainya meskipun daerah pegunungan tingginya bersalju. Kawasan permukiman maupun perkotaannya tertata rapi dan bersih. Filantropi, sudah menjadi budaya. Cukup sering kami menemukan drop box untuk memasukkan pakaian layak pakai, disiapkan di tepi-tepi jalan. Ada jadual dan petugas yang mengambil pakaian yang disumbangkan warga Mersin, mencuci, mengemasnya hingga siap didistribusikan secara terhormat untuk siapa saja yang memerlukannya. 
 
Provinsi Mersin sendiri punya 13 kabupaten, empat di antaranya terhubung dengan wilayah kotamadya yaitu Akdeniz, Mezitli, Toroslar dan Yenişehir. Kabupaten lainnya: Anamur, Aydıncık, Bozyazı, Çamlıyayla, Erdemli, Gülnar, Mut, Silifke, dan Tarsus.
 
Di lokasi kedua – masih di Mersin, Al-Baraka mengajak kami mengunjungi kantor sekaligus area program mereka. “Kami berkonsentrasi pada urusan pendidikan. Di sini, ada aktivitas pendidikan Al-Quran untuk anak-anak pengungsi usia dini sampai usia remaja. Selain itu, kami siapkan laboratorium bahasa sebagai penunjang kursus bahasa Turki,” jelas Hussein. Di lantai dasar, anak-anak belajar Al-Quran, di lantai kedua, ada laboratorium bahasa. Bahasa Turki, menjadi tools penting bagi generasi pengungsi Suriah di Turki, karena mereka rata-rata belum menguasai bahasa Turki. “Kursus bahasa di luar, mereka harus membayar. Di sini, gratis,” jelas Hussein.
 
Ikhtiar memulihkan peradaban, tengah dijalin serius di sini, di Mersin, untuk masa depan generasi Suriah yang lebih baik. Bekal Al Quran dan kapasitas bahasa, memodali anak-anak pengungsi ini mewujudkan impian terbaik mereka. Di Mersin, ACT membantu pembiayaan gaji para guru yang mengabdi di yayasan Al-Baraka. Usai kunjungan di kantor Al-Baraka ini, Hussein mengajak ACT menikmati pemandangan pantai Mediterania di Mezitli. 
 
Mezitli, sebuah kota di Greater Mersin – warga Turki menyebutnya büyükşehir. Mersin sendiri, satu dari tigapuluh pusat metropolitan di Turki. Saat ini di Mersin ada empat kotamadya selain Greater Mersin. Mersin melestarikan jejak kebudayaan lama, termasuk reruntuhan kota Yunani kuno Soli, orang-orang Roma menganti namanya Pompeii sebagai Pompeipolis, di Mezitli.
 
Soli berturut-turut dikuasai Rhodes, Kekaisaran Persia (Achaemenids), lalu Kerajaan Macedonia, Kekaisaran Seleukia, Kekaisaran Romawi dan penggantinya Kekaisaran Bizantium. Pasca gempa besar tahun 528, kota ini kehilangan kejayaan. Jejak fisiknya, berserak dan sebagian masih dilestarikan hingga saat ini. Pada abad ke-20 awal, tinggallah sebuah desa kecil di utara Soli, dinamai "Mezitoğlu" (dalam sebutan etnis Oghuz).
 
Pembangunan perkotaan di wilayah setidaknya terjadi dalam dua periode. Pertama, tahun 1968 dan secara pesat mengubah kawasan ini menjadi cukup padat karena pesatnya perkembangan populasi penduduknya. Kedua, tahun 2008, saat Kabupaten Mezitli membangun kota-kotanya simultan dengan pembangunan Provinsi Mersin, dan strukturnya kotanya belum banyak berubah sampai hari ini. Turki secara umum, memperlihatkan dinamika pembangunan yang amat beraturan. Pemekaran fisik kota, tidak kelewat sering, sehingga suasana centang-perenang tidak menjadi pemandangan musiman yang menghambat lalulintas warga termasuk mengusik aktivitas perekonomiannya.
 
Sekilas tentang beberapa kota di Turki, menunjukkan manajemen perkotaan Turki. Pertama, Turki tidak membuang masa lalu, karena sejarah bahkan yang berusia ribuan tahun, masih dirawat sebagai magnit wisata dan pendidikan peradaban. Ini membekalkan keyakinan, bangsa besar bangsa yang sarat dengan pasang-surut sejarah peradaban. Kedua, Turki merawat mindset dengan mengoptimalkan setiap perencanaannya yang tidak “bongkar-pasang”. Yang dirancang diwujudkan dengan kualitas implementasi terbaik, ini menjadi sebab semua prasarana fisik kota tahan bertahun-tahun lamanya.
 
Manajemen yang konsisten dijalankan berkelanjutan, membuat pemerintah dan rakyat Turki terbiasa merawat keteraturan. Konsistensi melahirkan disiplin, disiplin meneguhkan efisiensi, efisiensi menopang semua hal menjadi ekonomis dan rakyat pun hidup berkecukupan. Semua warga bangsa menikmati hidup teratur dan terjangkau. Wajah manajerial perkotaan (mungkin juga perdesaannya, wilayah yang belum sempat kami telusuri), terwakili dengan melihat bagaimana Istanbul dikelola. Terkesan dengan pengelolaan Istanbul? Begitulah Turki mengurus kota-kota lainnya.
 
Pembukaan kantor ACT Turki di kawasan Fatih Sulukule, Istanbul - tepatnya di Karagumruk Mahallesi (F-4), Ahmet Galip Pașa Sokak – memuat harapan besar ACT pun akan menyerap energi positif Turki.
 
Jauh sebelum ACT memutuskan memilih lokasi ini,  Mehmet Gülsatar, aktivis sejumlah organisasi pendidikan Islam yang juga pengelola usaha event organizer di Istanbul, memprediksi, kawasan Karagümrük – Fatih ini suatu saat akan menjadi kawasan perkantoran lembaga sosial. “Prediksi itu, terbukti,” ujar Andika Rachman, Kepala ACT Turki yang sudah lama berkawan dengan Gülsatar. Mendahului ACT, beberapa organisasi nonprofit berkantor di kawasan ini. (selesai)