Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Menghikmati Turki yang Tengah Berubah (1)

06 Feb 2017
Menghikmati Turki yang Tengah Berubah (1)

Iqbal Setyarso
Vice President - Communications Network ACT

 
Dari jendela kaca ruang sarapan Legacy Ottoman Hotel, Istanbul, keindahan selat Bosphorus‎ tak bisa diabaikan. Sesekali beberapa camar terbang mendekat, tak pernah takut pada manusia karena mereka tak pernah diusik. Remah-remah roti ditabur, mereka terbang mendekat menemani kami sarapan. Di selat Bosphorus, lalu-lalang kapal ferry, tetap ramai wisatawan meski tak seramai di musim semi. Cuaca masih dingin menjelang akhir Januari, membuat kami diuntungkan: sewa hotel dengan pemandangan seindah ini pun, masih dapat potongan harga karena kami pakai di luar musim wisata.

Hadir di Istanbul, saat suhu masih dingin - hari ini saya sedikit mimisan - ‎tentu bukan memburu wisata dengan harga miring. Ada tiga situasi mengesahkan perjalanan ini, setidaknya dalam perspektif komunikasi. Sebelum-sebelumnya, citra Turki sebagai destinasi wisata kelewat kental sehingga saya pribadi tak pernah berpikir akan kesana untuk penugasan lembaga. Karena saya belum merasa punya "pencapaian manajemen" tertentu untuk ke sana, selain belum menemukan "dalih manajemen". Tapi kali ini saya bisa memaparkannya dan lebih siap menjalani aktivitas di negeri taklukan Al-Fatih ini. 

Pertama, Indonesia sedang berubah. Terjadi krisis kemanusiaan yang hebat di dunia, terutama menimpa Islam (negara, maupun masyarakat muslimnya). Sekian negara berturut-turut dibuat gagal oleh penggerogotan internal maupun pengaruh eksternal yang menginginkan peran subordinatif ekonomi-politik, ‎dan umat Islam pun menjadi korbannya. Dalam konteks ini, tak bisa dipungkiri, ekonomi-politik telah "sukses" meluaskan skala krisis. Krisis kemanusiaan muncul sebagai ekses perilaku ekonomi-politik dunia, dan itu punya efek domino yang rembetannya kemana-mana, melintas batas negeri. Yang aktual dan berkepanjangan, tentu saja krisis Suriah, memasuki tahun keenam dan gelombang pengungsiannya menyebar ke banyak negara. 

Lalu apa yang dimaksud "Indonesia Berubah" sementara krisisnya terjadi di luar Indonesia?

Indonesia berubah menjadi empatik dan simpati, peduli dan berbuat konkret. Terjadi gelombang partisipasi kemanusiaan atas krisis yang menimpa masyarakat dunia (Islam). Krisis kemanusiaan global dan kiprah lembaga kemanusiaan, membawa "pemulihan jatidiri" bangsa Indonesia, setelah dilanda kehilangan kepekaan atas krisis dunia (Islam). Semangat menolong bangsa lain yang pernah ditunjukkan founding fathers negeri ini, kembali menyemangati bangsa Indonesia.

Seiring meningkatnya kelas menengah (muslim)‎ yang terdidik sekaligus berpenghasilan di atas rata-rata, meningkat pula tingkat partisipasi kemanusiaan baik sebagai filantropi maupun sebagai relawan. Perlahan tapi pasti, bendera merah putih berkibar di kantong-kantong krisis kemanusiaan dunia, termasuk di kawasan pengungsi‎ Suriah.‎ Kesadaran kelas menengah yang "baru" sekitar seperempat dari jumlah penduduk Indonesia, memberi warna tersendiri di jagat kemanusiaan. ‎Tingkat partisipasi publik untuk isu kemanusiaan terutama dunia Islam meningkat. Ini memperkuat dayabantu ACT di ranah global. Yang menarik, meski isu global meraih dukungan besar, bantuan kemanusiaan di Tanah Air juga masih berdatangan (semisal banjir dan longsor di Garut atau gempa di Aceh).

Kedua, Turki sedang berubah. ‎Dunia tahu, hampir semua pengambilalihan kekuasaan oleh kekuatan militer, sukses. Tapi tidak dengan Turki. Sejak lama civil society nya tumbuh dengan kesadaran baru, dengan kekuatan bersyukur yang besar terhadap pemerintahnya, sehingga menjadikan rakyat eksis sebagai kekuatan civil society. Bangsa maju, ditandai kapasitas berpikirnya yang maju.

Mengapa kudeta Turki gagal? Jawabannya, karena rakyat Turki cerdas dan kecerdasannya mengalahkan egonya. Kalangan spiritualnya (Islam, yang lama dibungkam dan disekulerkan rezim sebelumnya) cerdas, kalangan sekulernya pun cerdas. Kecerdasan sekuleris bertemu kecerdasan spiritual (multiple intelligence), menjadikan Turki selamat dari kudeta. Hal ini dikelola dengan baik oleh sosok leader yang berbuat konkret terhadap negerinya, nasionalisme Turki menjadikan bangsa Turki pemain utama negerinya, sekaligus menjadikan kekuatan asing benar-benar bekerja dengan aturan main yang tidak merugikan bangsa Turki. Maka, golongan manapun sepakat, mengunggulkan bangsa Turki menjadikan pemimpinnya didukung rakyat, baik yang (masih) sekuler maupun agamis. (bersambung)