Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Menghikmati Turki yang Tengah Berubah (2)

10 Feb 2017
Menghikmati Turki yang Tengah Berubah (2)

Iqbal Setyarso
Vice President - Communications Network ACT

 
Perubahan, karena berlangsung gradual dan menghunjam nalar, memberi kekuatan tersendiri bagi sebuah bangsa. Pelajaran tentang proses, kearifan dan konsistansi merawat kebangsaan, menjadi simpul penghayatan atas Turki. Di sisi kemanusiaan melingkupi anasir sekuler dan spiritual. Mengedepankan kemaslahatan umum tanpa mengoyak sendiri spiritual yang eksis di tengah sebagian rakyat Turki, menjadikan negeri fenomenal ini selalu menarik dipelajari.

Andhika Rachman, Kepala ACT Turki yang juga analis Turki yang mumpuni berkat masa studi dan pengalaman membaca yang intens, menukil pandangan Rușen Çakir - intelektual Turki, tentang fenomena pascakudeta yang digagalkan masyarakat. Siapa yang menggagalkan kudeta, dan menyelamatkan negara jatuh ke rezim militer?

Masyarakat Turki yang agamis, yang menyerukan penyelamatan negara dengan mengajak kaum muslimin Turki mencegah kudeta, melawan militer yang hendak menjatuhkan pemerintah. Lalu Çakir berkomentar,"Lihatlah, orang-orang yang kalian anggap bodoh dalam urusan kebangsaan Turki, terbukti mereka terdepan menolong menyelamatkan negaranya." 

Statemen selaras, disampaikan ahli fikih, Hayrattin Kamaran lewat harian Turki Yeni Safak. Kata Hayrattin,"Penolong Turki ini, orang-orang yang terdidik di  majelis-majelis ilmu dan memperoleh pendidikan gerakan Islam. Jangan anggap pendidikan pergerakan Islam tidak berarti untuk keutuhan negara Turki."

Setidaknya, kata Andika, fenomena kaum agamis konkret membentengi negeri dari pengambilan kekuasaan paksa ini - juga berkat nasihat kaum agamis melalui media massa, rakyat Turki sekuler sadar dan bergerak hari kedua, setelah kaum agamis lebih dulu mengambil peran, bahkan sebagian diantaranya syahid, berpulang karena berjuang menegakkan kebenaran. 

"Pemerintah Turki mengapresiasi penyelamatnya. Jembatan Bosphorus misalnya, di mana puluhan warga sipil yang berhadapan dengan kekuatan militer pengkudeta, tewas ditembak, membuat pemerintah mengubahnya namanya menjadi Jembatan 15 Juli, hari ketika bentrokan itu terjadi. Begitupula dengan terminal Bayranpasha, demi mengenang rakyat Turki pembela pemerintah, Erdogan mengganti namanya menjadi Demokrasi Otogari (Terminal Demokrasi)," jelas Andika.

Ungkapan ini juga memperoleh konfirmasi akurat dari Vice President IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri İnsani Yardım Vakfı), lembaga nonpemerintah terbesar Turki, Yasar Kutluay, saat menerima rombongan ACT Pusat dipimpin ‎Presiden ACT Ahyudin. "Saat ini, Turki tengah berubah setelah berpuluh tahun kaum muslimin terasing dari pemerintahnya. Menguatnya hubungan pemerintah dengan umat Islam terbukti menguatkan Turki, dan ini menjadikan kami sebagai lembaga nonpemerintah memiliki tekad menjadikanTurki penolong sesama umat yang didzalimi di manapun di dunia ini," ungkapnya.  

Ya, spiritualitas bukan ancaman kesatuan negeri Turki. Spiritualitas masyarakat sipil Turki menyelamatkan negara dari penguasaan pihak manapun kecuali bagi rakyat Turki. Menjadi spiritual tak mengubah mereka anarkis apalagi tidak cerdas. Spiritualitas rakyat Turki mampu memahami arah kebijakan pemerintahnya, bukan fanatis buta.

Selaras perkembangan di Indonesia sendiri, di mana ACT berpusat dan bertekad menebar manfaat bagi masyarakat Indonesia - meneladani founding fathers negeri ini ketika menolong menyuarakan negara-negara terjajah Asia-Afrika, ‎tak keliru belajar dari bangsa besar Turki, yang berani mengurusi pengungsi dan menyantuni mereka: berlombanya masyarakat sipil  (direpresentasikan dengan hebat, salah satunya oleh IHH) dan pemerintah pada Era Kepemimpinan Erdogan ini, menjadi bangsa humanis. 

Misi Tim ACT Pusat di Turki kali ini, memastikan hadirnya program monumental di Turki bersama ‎mitra di Turki terutama IHH, membuka perwakilan Turki dengan tujuan meluaskan peran global ACT bagi kemanusiaan, sekaligus menjadi wahana penguatan kapasitas bersama antara kedua bangsa humanis ini.

Bedanya, di Indonesia, umat Islam dan organisasi Islam yang sedang bangkit dan bersatu melawan penistaan ajarannya - dan itu berpotensi memicu krisis kemanusiaan - nampaknya butuh waktu beberapa tahap - untuk meyakinkan pemerintah agar sadar kembali ke jalan konstitusional, jalan kebangsaan dan jalan kemanusiaan.

Pemerintah saat ini sangat memerlukan pengejawantahan "jas merah" - jangan sekali-kali melupakan sejarah", seperti pernah diteriakkan Bung Karno. Semoga, pertautan dengan Turki plus sokongan cerdas rakyatnya, menjadikan Indonesia: rakyat maupun pemerintahnya cukup cerdas untuk tidak membenturkan sesama rakyat yang akhirnya menjadi tertawaan pihak-pihak asing. 

Pertautan yang kami rintis, semoga mencegah Indonesia tidak menunjukkan kedunguannya sampai negeri‎ yang kaya sumber alam, penduduknya religius, sejarah perjuangannya melawan dominasi asing begitu hebat ditandai banyak makam pahlawan di seantero negeri, hanya jadi subordinat asing.

InsyaAllah, perlu waktu saja sampai semua sadar sehingga bangsa ini tetap utuh, humanis dan cerdas. Bersama elemen manapun, kita jaga agar pelaku kekuasaan dan pejuang kemanusiaan sama-sama dikenang anak-anak bangsa kelak sebagai pihak yang layak dikenang dan dihormati, bukan dihujat karena menjadi perusak keutuhan dan kemandirian bangsa. (Selesai)