Beranda > Berita Terbaru
Event

Satu Jam Bersama Kelas Kemanusiaan ACT

10 Feb 2017
Satu Jam Bersama Kelas Kemanusiaan ACT

 ACTNews, JAKARTA - Melihat luasnya pemberitaan media mengenai krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia, kita bisa tahu bagaimana masalah kemanusiaan berkembang menjadi lebih kompleks karena adanya variabel-variabel tertentu yang memicunya, seperti kepentingan politik dan ekonomi. Memang, di satu sisi, isu kemanusiaan yang sedang terjadi menjadi cermin yang memperlihatkan degradasi peradaban yang humanis. Namun di sisi lain, bencana kemanusiaan menjadi momen bagi masyarakat dunia untuk dapat mempertajam empati melalui aksi-aksi kepedulian.
 
Mengajak publik untuk lebih peka terhadap masalah kemanusiaan menjadi agenda bagi berbagai macam institusi kemanusiaan maupun non-kemanusiaan dunia. Tidak hanya publik dewasa, anak-anak pun diajak untuk lebih memahami permasalahan kemanusiaan yang sedang terjadi. Sebab, di usia dini lah kepekaan terhadap realitas sosial mudah dibentuk, sehingga para generasi muda tersebut mampu menjadi agen perubahan di masa mendatang.
 
Sekolah Mentari Bintaro menjadi salah satu institusi pendidikan yang peduli terhadap hal ini. Berupaya mengenalkan permasalahan kemanusiaan yang ada di Indonesia dan dunia kepada peserta didiknya, Sekolah Mentari mengundang Aksi Cepat Tanggap untuk berbagi pengalaman pada “kelas kemanusiaan” yang diselenggarakan pada Kamis (9/2). Dikemas dalam sesi yang fun, kelas kemanusiaan tersebut menyedot perhatian puluhan siswa kelas 5 yang kala itu menjadi peserta kelas.
 
Narasi mengenai keadaan masyarakat di daerah-daerah tertinggal di Indonesia dan wilayah konflik di penjuru dunia mengundang empati para siswa yang hadir. Kisah tentang kekeringan di Sumbawa, tentang minimnya akses edukasi di Alor, tentang kelaparan di Somalia, dan tentang kepengungsian di wilayah-wilayah konflik seperti Suriah, Palestina, Myanmar, dan Bangladesh (Rohingya).
 
“Aku baru tahu kalau ada wilayah di Indonesia yang namanya Alor, dan di sana ternyata teman-teman yang seumuran aku, sekolahnya masih susah,” ujar salah satu siswa saat tim ACT menceritakan kisah pendidikan di tepian negeri.
 
Dari sekian kisah perjalanan misi kemanusiaan yang pernah diemban oleh ACT, realitas masalah kepengungsian di negeri konflik Suriah dan kelaparan di Somalia sangat mengundang rasa penasaran mereka lebih jauh. Belasan pertanyaan dilontarkan, mulai dari penyebab masalah sosial dan kemanusiaan di wilayah-wilayah tersebut, bantuan apa saja yang dibutuhkan masyarakat di sana, hingga bagaimana caranya agar para siswa tersebut bisa menjadi relawan dan membantu saudara-saudara mereka yang membutuhkan.
 
“Aku mau menjadi seperti kakak dan om relawan itu,” ungkap Michael. “Aku juga ingin pergi ke sana dan membantu mereka. Kalau aku mau menjadi relawan, bisa kan?” tanya bocah oriental tersebut dengan sorot mata yang sungguh-sungguh.
 
Tidak hanya Michael, sejumlah siswa lainnya pun menunjukkan keinginan yang sama. Muhammad misalnya, anak laki-laki berkulit sawo matang tersebut ingin sekali pergi ke Zimbabwe untuk mengentaskan angka kelaparan di sana. Berbeda dengan Muhammad, Gwen sangat ingin untuk bisa ke Suriah dan menolong para pengungsi di sana.
 
“Kami, ACT, tentu sangat terkesan dengan niat tulus mereka untuk menjadi relawan dan membantu saudara-saudara mereka yang membutuhkan. Ini adalah fondasi awal dalam membentuk jiwa-jiwa humanis ke depannya,” ungkap Satria Nur Hidayat, perwakilan ACT yang kala itu menarasikan perjalanan kemanusiaan ACT di berbagai belahan dunia kepada peserta kelas kemanusiaan.
 
Kelas kemanusiaan merupakan bagian dari ragam kelas yang diselenggarakan oleh Sekolah Mentari Bintaro setiap enam bulan sekali. “Biasanya per semester, pihak sekolah menghadirkan organisasi-organisasi lain untuk berbagi kisah pengalaman kerja mereka kepada para murid di sini,” tutur Agustinus Wahyu, wali kelas 5 SD Sekolah Mentari Bintaro.
 
Diakui Wahyu, kelas kemanusiaan merupakan tema baru bagi program yang rutin diadakan per semester tersebut. “Saya rasa anak-anak perlu tahu mengenai keadaan dunia luar, bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang keadaannya begitu memprihatinkan. Ini penting untuk menumbuhkan empati dalam diri mereka,” ungkapnya.
 
Ia juga menambahkan, kelas kemanusiaan tersebut juga menjadi upaya sekolah dalam menumbuhkan sikap tanggung jawab, rasa syukur, dan kedermawanan para siswa. “Kami ingin mereka menghargai setiap apa pun yang mereka punya saat ini. Tidak hanya itu, kami juga ingin mengajak mereka untuk berbagi kepada sesama,” paparnya.
 
Satu jam bersama kelas kemanusiaan ACT begitu menginspirasi para siswa-siswi yang hadir kala itu. Dalam diskusi yang fun, para siswa begitu kritis menanggapi isu kemanusiaan yang ada.
 
“Tadi seru banget. Kelas kemanusiaan mengajak aku dan teman-teman menjadi the world changers. Kayaknya teman-temanku yang lain perlu ikutan deh, biar makin banyak yang menolong teman-teman jauh di sana yang butuh bantuan,” kata Bulan penuh semangat. []
 
Penulis: Dyah Sulistiowati