Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Islam, Politik dan Kemanusiaan

12 Feb 2017
Islam, Politik dan Kemanusiaan

Iqbal Setyarso | VP ACT Foundation
 
INDONESIA lahir melalui perjuangan, dan eksis dengan ikhtiar. Jelas, siapa lawan siapa kawan. Di bawah komando ulama, umat Islam bersatu melawan ‎anasir-anasir hitam dari waktu ke waktu. Setelah kekuatan bangsa penjajah, Indonesia membersihkan diri dari komunis-atheis, kapitalisme asing dan para kompradornya. Sampai kemudian, terjadi pembalikan sejarah.
 
Ya: kian nyata pembalikan sejarah sedang dimainkan anak-anak bangsa sendiri. Aparat dan birokrat, polisi pun sebagian politisi, berani menempatkan Islam: ulama dan tokoh-tokoh Islam, sebagai sasaran permusuhan, disokong pegiat media sosial anonim, menebar kabar bohong dari yang "ringan" sampai tuduhan serius kepada ulama sebagai pembohong, bahkan pelaku zina. Dalam Islam saja, saksi satu orang saja dari sebuah perzinaan, tak cukup menjatuhkan sanksi terhadap pezina, malah penuduhnyalah yang mendapat sanksi berat karena tak cukupnya saksi dan bukti. 
 
Ya: Indonesia memasuki masa di mana Islam secara terang-terangan diserang elit kekuasaan negeri ini. "Jalan demokrasi" sukses menaikkan orang-orang yang memusuhi umat Islam dan mulai menebar racun. Suara terbanyak negeri ini menjadi bulan-bulanan saat menyuarakan tekad memiliki pemimpin muslim. Padahal keyakinan ini dijamin konstitusi negeri ini, sudah ada jauh sebelum negeri ini berdiri, bahkan ‎menjadi kekuatan sehingga Indonesia ini maujud. Dasar negara Indonesia sila demi silanya didesain selaras dengan Iman-Islam dan mengayomi umat lain. Kekuatan penentu hadirnya Indonesia ini sudah mentoleransi umat lain hidup damai berdampingan,tapi kini  diganggu, digugat, melalui serangan fitnah kepada ulama. 
 
Ya: Indonesia memasuki masa di mana Islam, dipaksa bersikap gamblang; didesak mengekspresikan pembelaannya dengan jiwa-raga; dibuat berbulat-hati seperti  ketika menghadapi Kompeni,  melawan komunis, siap mati menghadapi. penista Islam, ulama dan kitab suci Al Quran. Mereka yang melawan Islam merasa kuat, hebat, berkuasa "hanya" karena bisa memenangi pemilihan umum dan mendudukkan kandidatnya di kursi kekuasaan. Mereka merasa bisa berbuat apapun karena mampu mengatur aparat, menguasai media massa, mengendalikan penegak hukum. Kekuatan yang tak ramah terhadap Islam dan ulama, tek henti mencerai-beraikan dan mengkerdilkan umat Islam.  
 
Ya: Indonesia memasuki masa-masa di mana yang tegas bersikap dan yang plin-plan dibuat terang; munafik dan lurus hati terpilah alamiah; yang cinta dunia tak peduli benar-salah, terpisah dari para pecinta ajaran perindu surga. Kian sedikit "orang-orang di persimpangan", kian besar jumlah yang sadar dan menyatu dalam barisan, sebagaimana semakin solid pula kekuatan yang memusuhi umat yang karena agamanya, bersedia mengorbankan jiwa raganya demi terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Politik, yang sejak sekian lama ternoda dengan kekuatan materi, aneka kepentingan ‎yang tak ramah dengan Islam dan penegakan aturan Islam, merasa menemukan momentum terbaiknya untuk berterus-terang memusuhi Islam, mencoba semua cara melemahkan ulama, menebar ketakutan kepada tokoh-tokoh ummat. Alih-alih menciutkan kekuatan Islam, meminggirkan dan mencerai-beraikan umat, secara masif umat Islam Indonesia bersatu, akal, hati, jiwa dan raganya, siap menghadapi semua serangan atas kemuliaan agama yang diyakini dan ulamanya.
 
Aksi Bela Islam - 112 yang terpaksa dijalankan setelah maraknya tekanan terhadap umat Islam dan ulama, momentum umat Islam keempatkalinya mengekspresikan kesabaran dan kebijakannya mengendalikan massa yang luar biasa besar tetap dengan ketertiban, seluruh nafas dan geraknya memuat ungkapan spiritual: doa dan peringatan untuk kembali ke jalan yang lurus.

Di sini kemanusiaan semua elemen bangsa diseru nyaring. Islam Indonesia yang direpresentasikan berbagai anak bangsa dari penjuru negri: Sumatra hingga Papua, sepakat: NKRI harga mati, jaga kebhinekaan, jangan teruskan memusuhi umat Islam. Kembalikan seluruh elemen formal negara pada koridornya: tegakkan hukum, bersikap adil dan jangan biarkan kekuatan asing mengadudomba anak-anak bangsa Indonesia.

Tanpa kesadaran itu terutama dari elit kekuasaan: birokrat, aparat dan politisi, kemanusiaan negeri ini menghadapi ancaman serius. Sadarlah, jadilah bagian anak-anak bangsa yang berakal sehat. Bersama menjaga keutuhan dan keamanan negeri ini dari benturan anak-anak bangsa sendiri. Salam kemanusiaan dan keindonesiaan, dari muslim Indonesia yang cinta damai.[]