Beranda > Berita Terbaru
Tepian Negeri

"Sekolah Kami Serusuk Kebun Sawit"

12 Feb 2017

ACTNews, MUSI BANYUASIN - Dari ketinggian jelajah pesawat 30 ribu kaki, daratan Pulau Sumatera setelah Palembang sampai ke Jambi punya warna senada. Hanya hijau membentang. Dominan hutan lebat, tapi tak sedikit pula warna hijau itu adalah kebun sawit. Luasan kebun sawit itu tak main-main, setiap pemilik kebun biasanya punya lebih dari 20 hektare kebun sawit. Sumatera, begitu juga Pulau Kalimantan memang penuh dengan komoditas utama sawit.

Dari balik kebun-kebun sawit Sumatera Selatan dan Jambi inilah banyak lahir kampung-kampung baru. Kebanyakan, kampung-kampung baru itu diisi oleh pendatang, transmigran dari daerah lain yang berjarak tak terlalu jauh, dari Lampung misalnya. Demi lembaran rupiah, rela tinggal ke pelosok hutan, jauh dari ramainya kota. Menjadi buruh kelapa sawit, hidup apa adanya, bahkan tak ada aliran listrik yang mengalir.

Kondisi seperti itulah yang terasa betul di Kampung Bandar Jaya, Desa Mendis Jaya, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Dari tepian jalan lintas utama penghubung Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan, akses menuju kampung ini masih jauh tak terkira. Dari Simpang Trifika, masuk terus ke timur, membelah luasan kebun sawit ratusan hektare.

Saat pindah jalur dari tepi jalan lintas timur Sumatera masuk ke dalam jalur kebun sawit, masih ada jejak jalan sekira 25 sampai 30 kilometer lagi ke arah timur. Jangan kira akses jalannya baik, hanya tanah kaolin berwarna putih yang tak pernah akrab ketika hujan lebat turun. Kalau jalan licin sehabis hujan, perjalanan ke Bandar Jaya ditempuh dengan waktu 3 sampai 4 jam. Itu pun kalau ban mobil tak selip atau malah amblas ke rawa-rawa.

Kampung Bandar Jaya terhitung baru, belum ada satu dekade umurnya. Warga sini menyebut tahun 2010 ketika mereka pertama kali mereka pindah dari wilayah Kabupaten Lampung. Menariknya, bahasa sehari-hari Kampung Bandar Jaya adalah bahasa Sunda dan Jawa Tengah. Tidak ada pribumi Sumatera Selatan di kampung ini. Mereka adalah transmigran dari Provinsi Lampung, provinsi yang sekian dekade lalu juga pernah penuh karena diisi oleh transmigran dari Pulau Jawa.

“Kami ini Japung Mas, Jawa Lampung. Bapak saya dulu transmigran dari Cilacap, Ibu saya dari Tulungagung. Saya lahir di Lampung sebagai anak Jawa. Lalu saya ikut cara bapak saya untuk menyambung hidup, saya juga berpindah dari Lampung sampai hari ini di sini, di Bandar Jaya jadi buruh kelapa sawit,” kata Marjuki, lelaki 33 tahun dengan identitas KTP asal Lampung.

Kalau senja tiba, selepas Maghrib, kondisi Kampung Bandar Jaya gelap gulita, hanya suara mesin genset diesel yang berbunyi kencang. Karena jaraknya yang jauh sekali dari tepian jalan utama provinsi, Kampung Bandar Jaya tidak pernah berurusan dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Listrik yang mereka nyalakan hanya untuk menghidupkan lampu dan pengeras suara langgar atau musala. Listrik di rumah-rumah pun hanya menyala sejak jam 6 sampai jam 11 malam ketika semua sudah lelap dan genset dimatikan.
 
Sekolah di balik kebun sawit

Meski fasilitas hidup serba minim di kampung ini, puluhan anak-anaknya tetap bersekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Banyuasin memberikan izin pendirian sekolah dasar “meminjam” nama dan izin dari sekolah induk di Kampung Muara Medak, yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Kampung Bandar Jaya.

Karena izin masih pinjaman,  maka jadilah akhir November kemarin berdiri sebuah sekolah tiga ruang kelas dengan nama SDN Muara Medak “Kelas Jauh”. Walau pada kenyataannya, bangunan yang dipakai anak-anak Kampung Bandar Jaya ini masih jauh dari kata layak. Hanya berdinding kayu, debu dan serangga dari kebun sawit di sana sini. Sekolah dari papan “kayu” ini berdiri dari swadaya masyarakat Kampung Bandar Jaya. Urunan demi anak-anak mereka bisa sekolah

Dulu, sebelum SDN Muara Medak “Kelas Jauh” ini berdiri, anak-anak Kampung Bandar Jaya harus berangkat sekolah setelah subuh, diantar bapak atau ibu ke Kampung Muara Medak, juga dengan jalan penuh lumpur dan kubangan tak karuan.  “Dulu, misalnya kalau pagi itu hujan turun deras, ya anak-anak Bandar Jaya ndak mungkin masuk sekolah. Mana mungkin berani lewat jalan hancur parah macam gitu. Jauh pula ke Muara Medak satu jam pakai motor,” kata Ida, Ibu guru kelas 2 SDN Muara Medak “Kelas Jauh”.

Sejak November tahun 2015 lalu, sudah lebih dari setahun “bangunan” sekolah empat ruang kelas SDN Muara Medak “Kelas Jauh” digunakan sepanjang hari. Senin sampai Sabtu setiap ruang kelas riuh sejak pagi sampai sebelum adzan Dzuhur.

Tapi kalau hujan deras turun, kelas-kelas yang berjejer di sebelah kebun sawit itu pasti kebanjiran. “Kalau hujan deras sekali, airnya bisa masuk ke kelas. Kan dindingnya kayu. Airnya rembes dari kayu,” tutur Sendy, siswa kelas dua.

Cerita Sendy tentang ruang kelasnya yang kebanjiran mungkin sudah takkan terjadi lagi seminggu ke depan. Pasalnya sebuah bangunan sekolah baru berdinding tembok, berlantai keramik putih sudah hampir jadi 50% bagiannya. Bangunan sekolah baru ini berada tepat di sebelah bangunan lama. Masih di pinggiran kebun sawit yang mahaluas. 

Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkolaborasi dengan Program Cerah Hati dari motivator ulung Ippho Santosa sepakat membangun lagi sebuah bangunan sekolah permanen untuk Kampung Bandar Jaya. Dalam target waktu tiga minggu setelah peletakan batu pertama, SDN Muara Medak “Kelas Jauh” bakal punya bangunan sekolah baru, dua ruang kelas.  

Terselip jauh di balik ribuan hektare kebun sawit Musi Banyuasin, ada jiwa-jiwa muda generasi penerus yang tetap bersemangat mengisi pikirannya dengan belajar. Jauh dari gawai, jauh dari ingar-bingar kota yang seringkali tak ramah dengan perkembangan anak.

Sebuah bangunan sekolah baru jadi kado untuk mereka. Kado karena mereka tetap menjaga asa belajar untuk menggapai cita-cita. Meski nihil listrik siang dan malam, walau akses jalan ke kampung mereka lebih mirip kubangan kerbau berpuluh-puluh kilometer, anak-anak Bandar Jaya pantang surut belajar aksara dan angka serta mengasah akal.[]

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal