Beranda > Berita Terbaru
Tepian Negeri

"Cukup Tiga Minggu, Aku Punya Sekolah Baru"

13 Feb 2017

ACTNews, MUSI BANYUASIN - Satu per satu perubahan itu makin terlihat. Dari yang sebelumnya hanya fondasi batu di atas lahan kelapa sawit, perlahan tembok itu menjadi sekat-sekat. Langit-langit bangunan sudah terpasang, begitu pula atap sudah terpacak. Tinggal melapisi tembok dengan lapisan semen yang lebih halus, kemudian lantai menunggu terpasang keramik. Lalu berikutnya pasang jendela kaca, pintu dan cat warna untuk tembok di luar dan di dalam. 
 
Terakhir urusan pacak monumen marmer putih bertuliskan SDN Muara Medak (Kelas Jauh), ditambah sedikit keterangan: Pendidikan Tepian Negeri Aksi Cepat Tanggap dan Cerah Hati Ippho Santosa. 

Ya, begitulah sekira runtutan proses pembangunan gedung sekolah baru SDN Muara Medak, Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin. Di balik ratusan hektare lahan perkebunan sawit, sebuah gedung sekolah baru sudah hampir jadi. 

Berapa lama seluruh proses dilakukan? Untuk urusan pembangunan Sekolah Tepian Negeri, rentang waktu yang ditargetkan tidak boleh lebih dari 3 minggu.   

Wuih seminggu lagi aku punya sekolah baru kak,” kata Apin, siswa kelas dua SDN Muara Medak (Kelas Jauh).

Ahad kemarin (12/2) pembangunan gedung sekolah baru SDN Muara Medak (Kelas Jauh) sudah mencapai 60 persen. Ahad kemarin pula menjadi hitungan hari ke-11 sejak pertama kali fondasi terpacak. Jika hujan lebat dan angin kencang tak lagi turun sepanjang hari, bisa dipastikan proses
pembangunan gedung sekolah Apin dan kawan-kawannya tinggal menyisakan sekira satu minggu lagi.

Dede Abdul Rochman, selaku kepala proyek pembangunan gedung baru SDN Muara Medak (Kelas Jauh) punya strategi khusus untuk mempercepat proses pembangunan. Ia tak pernah melewatkan tahapan awal sosialisasi dengan warga sekitar. 

“Kuncinya ada di tahap awal. Kita datang ke kampung orang. Kita mau bantu bangun sekolah. Kita ajak warga terutama yang laki-laki untuk ikut gotong royong setiap hari. Bapak RT yang menentukan jadwal siapa warga yang bakal turun tangan bantu bangun sekolah hari ini, besok, dan seterusnya. Kan ini bangun sekolah juga untuk anak-anak, kita gerak bareng-bareng dengan warga selesaikan bangunan sekolah secepat yang kita bisa,” jelasnya. 

Selain melibatkan tenaga belasan warga lokal, Dede juga membawa empat orang pekerja bangunan andalannya. Dede sudah punya tim sendiri yang bergantian berkeliling ke satu titik terpencil ke titik terpencil lainnya, bergantian membangun sekolah Tepian Negeri selama setahun ke belakang. 

“Kalau ini di untuk SDN Muara Medak Kampung Bandar Jaya saya bawa empat orang tukang ahli bangunan dari Tasik Kota. Mereka semua tetangga dekat satu kampung dengan saya. Kalau di total mah semua kawan tetangga yang saya ajak bangun sekolah Tepian Negeri sudah hampir 50 orang. Dari NTT, Sulawesi Utara, sampai ke Jambi,” kisah Dede. 

Satu prinsip dengan tenaga ahli bangunan satu kampung membuat Dede pun mudah mengajak kawan-kawannya itu ngebut untuk selesaikan bangunan sekolah. 

“Komitmen mereka luar biasa. Jam kerja mereka mulai dari jam 7 pagi. Istirahat shalat dzuhur dan Ashar. Lalu sore semua beranjak shalat Maghrib. Setelah itu mereka balik lagi bekerja sampai pukul 22.00 malam. Semua tenaga dikeluarkan biar bangunan sekolah baru lekas dipakai anak-anak Kampung Bandar Jaya,” tutur Dede. 

Tinggal satu minggu lagi sampai anak-anak Bandar Jaya punya sekolah baru. Sampai hampir tengah malam proses pembangunan dikebut hingga tenaga terakhir. Dalam gelap, tembok-tembok bata ditutup plester semen. Kemudian dilapisi lagi dengan acian semen halus. Esok masih ada pekerjaan plafon dan keramik yang akan diselesaikan sampai seminggu ke depan. 

Ahad malam tadi (12/2) Dede sampai memanggil warga lokal dari Jambi ahli bekam, didatangkan langsung ke kampung Bandar Jaya yang terpencil jauh di balik kebun sawit. 

“Tukang-tukang hebat ini perlu dibekam untuk bersihkan darahnya. Biar semua capek keluar. Makin fit mereka, makin cepat bangunan sekolah ini selesai, makin bahagia anak-anak Bandar Jaya,” pungkasnya. []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal