Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity-Save ROHINGYA

SOS Rohingya X (1): Humanity Card Muliakan Muslim Rohingya

13 Feb 2017
SOS Rohingya X (1): Humanity Card Muliakan Muslim Rohingya

ACTNews, Bangladesh, CHITTAGONG - Tiga bulan pascaoperasi militer di Maungdaw, Myanmar, nasib ratusan ribu pengungsi Muslim Rohingya belum menemukan titik terang, tak terkecuali mereka yang mencoba bertahan hidup di Bangladesh. Di Chittagong, kota yang berbatasan langsung dengan Myanmar, jumlah kamp pengungsian resmi dan tidak resmi terus bertambah seiring dengan meningkatnya pengungsi yang mencoba mencari perlindungan di perbatasan Myanmar-Bangladesh.
 
Pemberitaan mengenai nasib ratusan ribu Muslim Rohingya di sana bisa dibilang mulai surut. Namun, bukan berarti krisis kemanusiaan yang menimpa mereka juga turut mereda. Di desa-desa perbatasan yang terletak di kota industri Chittagong, para pengungsi lama dan baru masih harus berjuang hidup di tengah kondisi kamp pengungsian yang jauh dari kata layak.
 
Masih teringat bagaimana memprihatinkannya kondisi mereka ketika Tim SOS Rohingya for Rohingya IX menyambangi kamp-kamp pengungsian Rohingya di Chittagong dua bulan lalu. Bangunan semi permanen dengan jumlah ventilasi yang minim, kurangnya akses listrik, dan buruknya sanitasi sekitar kamp menjadi “hal wajar” bagi para pengungsi. Belum lagi setiap harinya mereka harus berjibaku dengan urusan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya yang tak kalah penting, seperti kebutuhan pangan.
 
Kondisi memprihatinkan tersebut nyatanya masih berlangsung hingga detik ini. Bantuan demi bantuan kemanusiaan ACT, melalui Tim SOS for Rohingya, memang tak luput tersampaikan bagi para pengungsi yang mendiami daerah-daerah perbatasan Myanmar-Bangladesh tersebut. Namun demikian, demi peningkatan kualitas hidup para pengungsi, tentu dibutuhkan program bantuan jangka panjang yang bersifat menyeluruh.
 
Misi kemanusiaan ACT untuk Rohingya, etnis yang didapuk PBB sebagai etnis paling teraniaya di dunia, masih berlanjut. Bukan bantuan pangan seperti biasanya, kini ada Program Humanity Card bagi ratusan pengungsi Rohingya yang tersebar di Chittagong, Bangladesh.
 
 
Humanity Card Muliakan Muslim Rohingya
 
Welcome back, Brother,” sapa Abdullah Al Nouman Beg ketika Tim SOS for Rohingya X tiba di Dohazari, Chittagong, pada Senin (30/1).
 
Abdullah merupakan seorang Kepala Pemerintahan wilayah Dohazari yang beberapa bulan lalu menemani Tim SOS for Rohingya IX untuk mengunjungi lokasi-lokasi kamp pengungsian di sekitar Chittagong. Tidak hanya itu, sebelumnya beliau juga telah berbaik hati membantu terlaksananya pendistribusian paket pangan bagi para pengungsi Rohingya di wilayah perbatasan. 
 
Bersama Abdullah dan mitra lokal, tim bergerak dari Chittagong menuju Dohazari, salah satu desa di perbatasan yang menampung ribuan pengungsi Rohingya.  Arakan Highway yang menghubungkan Chittagong dan Dohazari tampak tak lagi asing. Setelah menempuh dua jam perjalanan darat, tim dan Abdullah tiba di sebuah toko sembako tak jauh dari lokasi kamp pengungsian.
 
Di toko itulah, program Humanity Card bagi pengungsi Rohingya di Dohazari resmi diluncurkan. Dari dalam toko tersebut, berbagai kebutuhan pokok tersedia, mulai dari kebutuhan pangan organik maupun kemasan. Sementara itu, puluhan pengungsi Rohingya menunggu dengan tertib di halaman mini market, tak sabar untuk berbelanja kebutuhan pokok menggunakan Humanity Card. 
 
Setelah sebelumnya diluncurkan di Jakarta pada akhir Desember silam, Humanity Card kini juga menyapa para pengungsi Rohingya. Tak ada perbedaan signifikan antara Humanity Card bagi masyarakat prasejahtera di Jabodetabek dan bagi pengungsi Rohingya. Secara fisik, perbedaan mendasar hanya pada warna kartu saja.
 
“Fungsinya tetap sama. Para pengungsi yang memiliki HC bisa berbelanja secara cuma-cuma di toko atau mini market yang telah bekerja sama dengan program HC. Setiap bulannya, HC mereka akan ditop-up dengan nominal tertentu,” ungkap Mohammad Faisol Amrullah, salah satu anggota Tim SOS for Rohingya X.
 
Tidak hanya di Dohazari, Humanity Card juga didistribusikan kepada ratusan pengungsi Rohingya di Patiya. Secara total, jumlah pengungsi yang mendapatkan manfaat dari Humanity Card adalah sebanyak 500 jiwa. “Tidak hanya pengungsi lama, HC juga menyasar pengungsi baru. Kebanyakan dari mereka adalah para janda dan pengungsi yang begitu miskin,” tambah Faisol. 
 
Hari itu (31/1), tidak semua pengungsi langsung berbelanja di toko yang bekerja sama dengan Humanity Card-Aksi Cepat Tanggap. Hanya sekitar 30 pengungsi di Dohazari yang berbelanja pada Senin siang itu di toko milik Mohammad Syed Noor. Salah satunya adalah Amirah (bukan nama yang sebenarnya), seorang ibu berusia sekitar 50 tahun yang berbelanja menggunakan Humanity Card.
 
Dengan kartu HC yang dimilikinya, Amirah bisa membeli sejumlah kebutuhan pokok untuk keluarganya. Di meja kasir, Syed Noor meyerahkan beberapa bungkus besar yang berisi barang-barang belanjaan Amirah, seperti 3 kilo bawang merah, 5 liter minyak sayur, 3 kilo kentang,2 kilo adas, 2 kilo cabai kering, dan 2 kilo garam. Tak lupa satu karung beras seberat 25 kilogram berdiri kokoh di sampingnya. 
 
“Alhamdulillah, ini banyak sekali. Terima kasih ACT dan Indonesia. Semoga Allah membalas kebaikan kalian,” ucapnya dalam bahasa lokal.
 
Satu per satu mereka meninggalkan toko milik Syed Noor, membawa berbungkus-bungkus belanjaan yang baru saja dikemas secara rapi oleh sang pemilik toko. Mulai saat itu, para pengungsi bisa berbelanja layaknya warga berpunya, tanpa perlu khawatir beban biaya. Semoga ikhtiar memuliakan penerima manfaat bisa terus berjalan.
 
(bersambung)
 
Penulis: Dyah Sulistiowati