Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity - Save Syria

Setelah Aleppo, Serangan Udara Berlanjut ke Idlib

14 Feb 2017
Setelah Aleppo, Serangan Udara Berlanjut ke Idlib

ACTNews, IDLIB - Bagi sebagian besar penduduk Suriah, konflik yang terjadi sejak 2011 adalah sepotong memori kelam yang membekas selamanya. Sepotong episode yang masih menjadi realita hingga hari ini, dan entah sampai kapan. Bagi mereka, kengerian itu nyata. Penderitaan dan perjuangan untuk bertahan hidup hari demi hari adalah nyata―senyata hidup yang dijalani milyaran orang ’beruntung’ di belahan dunia yang lain.

Bagi jutaan pengungsi Suriah, teknologi Virtual Reality adalah sebuah ironi. Mereka tak perlu mengenakan alat bantu apapun untuk menyaksikan adegan baku tembak dengan latar reruntuhan gedung yang bolong akibat bom dan roket. Sementara banyak orang mencari desiran adrenalin dalam permainan di dunia maya, ratusan ribu pengungsi yang terjebak di negeri sendiri dapat dengan mudah menyapa maut, hari ini kehadirannya pekat di udara Idlib, sebuah provinsi tetangga Aleppo.

Kematian memang selalu hanya soal waktu, namun di tengah konflik berdarah yang tak kunjung usai, kematian adalah takdir pilu yang senantiasa mengintai di balik dinding-dinding rapuh Idlib. Provinsi ini tengah sesak: populasi pengungsi kian meningkat sekaligus menjadi pusat markas pihak oposisi. Hal ini menjadikan banyak pihak ketar-ketir, melihat perkembangan terakhir yang semakin menunjukkan bahwa Idlib adalah Aleppo selanjutnya.

Baru sepekan yang lalu, Idlib kembali menadahi hujan. Bukan, bukan jenis hujan yang disyukuri makhluk hidup. Yang menghujani Idlib adalah bom dari pesawat-pesawat tempur yang kompak menjatuhkan deretan ‘hadiah panas’ ke tengah pemukiman penduduk. Selasa (7/2), Reuters melaporkan setidaknya 30 orang tewas akibat serangan udara tersebut. Jumlah ini terus meningkat seiring ditemukannya lebih banyak korban yang tertimbun di balik reruntuhan gedung.

Menurut laporan dari The Syrian Observatory for Human Rights, setidaknya sepuluh serangan terjadi pada hari itu. Puluhan warga termasuk wanita dan anak-anak mengalami luka-luka. Kepala Observatory, Rami Abdel Rahman, menyatakan bahwa kemungkinan pesawat tempur yang menghujani barat laut Idlib dini hari itu adalah milik Rusia, sekutu rezim, atau Amerika. Pada hari yang sama, melalui laporan media Kementrian Pertahanan Rusia menyangkal tuduhan mengenai kepemilikan pesawat yang menyerang Idlib.

Minggu (12/2), serangan udara serupa kembali menghantam Idlib, kali ini di kota Al-Hbit di selatan. Tidak ada informasi jelas mengenai korban jiwa dalam serangan ini. Sama seperti sebelumnya, Rusia kembali diduga sebagai pihak yang mengirimkan pesawat tempurnya.
 
Aksi pengeboman sepekan terakhir ini merupakan yang terparah di Idlib dalam beberapa bulan terakhir. Lagi-lagi, yang menjadi korban adalah warga sipil. Tanpa peringatan, hari mereka yang sudah cukup kelabu terkoyak oleh bunyi pekak bom yang meledak. Relawan setempat sudah membangun hunian sementara untuk menampung korban luka-luka, namun persediaan medis sangat terbatas sementara banyak yang membutuhkan.
 
Siapapun yang masih memiliki simpati pasti tergugah mendengar kondisi Idlib yang kian memburuk. Ratusan ribu pengungsi yang bernaung di Idlib lantaran tidak punya pilihan kini semakin terhimpit tidak hanya dengan beban hidup dan keterbatasan sehari-hari, namun juga dengan hujan bom yang kian marak.
 
Masyarakat Indonesia tentu tidak melupakan Idlib. Bantuan demi bantuan kemanusiaan terus disalurkan. Pertengahan Januari lalu, Aksi Cepat Tanggap melalui mitra setempat telah mendistribusikan amanah kepedulian masyarakat Indonesia berupa ratusan paket pangan, selimut, dan pakaian musim dingin untuk ratusan keluarga di Idlib. Tidak hanya itu, bersama mitra di Turki, ACT juga mengoperasikan pabrik roti di Idlib agar senantiasa mampu menyuplai kebutuhan pangan bagi para pengungsi di sana.
 
Tentang krisis kemanusiaan di Idlib, warga dunia sejatinya hanya punya dua pilihan: terus menutup mata dan telinga hingga Idlib jatuh layaknya Aleppo, atau mengerahkan usaha semampunya, bahkan jika hanya dengan melangitkan doa. Walau raga tak mampu membersamai, senjata bernama doa harus terus terkirim, karena atas nama kemanusiaan, sejatinya setiap usaha memanusiakan manusia tidak pernah sia-sia.

Penulis: Mutsla Qanitah
Sumber Foto: Reuters