Beranda > Berita Terbaru
Tepian Negeri

Ikhtiar Menjaga Akidah "Anak-anak Kelapa Sawit"

14 Feb 2017
Ikhtiar Menjaga Akidah

ACTNews, MUSI BANYUASIN - Dengung suara mesin genset diesel mulai bersahutan. Lampu-lampu di tiap rumah perlahan menyala redup. Sementara di tengah kampung, selagi menunggu waktu azan Maghrib, pelantam suara (speaker) dari pucuk atap Musola Kampung Bandar Jaya lantang melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Senja di kampung ini terasa sekali makin hidup dan semarak ketika listrik mulai mengalir dari putaran mesin genset diesel.

Saat senja itu pula, rumah-rumah mulai ramai dengan aktivitas. Si Ibu sibuk di dapur siapkan makan malam. Si Bapak baru saja pulang dari panen kebun kelapa sawit. Senyampang si anak baru saja pulang mengaji, berjalan santai lewat jalan berlumpur di tepi kebun sawit, mencantol tas punggung berisi Al-Quran, juga peci yang kelewat butut dan baju koko yang hampir pudar warnanya.

Kampung ini, Kampung Bandar Jaya, Kecamatan Bayung Lencir, Kab. Musi Banyuasin memang jauh terpencil dari ingar-bingar kota. Namun di Kampung ini pula, ikhtiar untuk menjaga akidah warga terutama anak-anak selalu terjaga sepanjang hari. Sekira 50 kepala keluarga di kampung ini kompak betul menjaga anak-anaknya tidak terlepas dari rutinitas mengaji.

Si anak-anak Kelapa Sawit Kampung Bandar Jaya selalu bersemangat untuk mengulang hafalan mereka, mengaji di waktu-waktu jelang senja, terus berlanjut mengaji kembali di langgar seusai shalat Maghrib berjamaah.

Lupakan sejenak senja di Bandar Jaya, semua berawal sejak pagi di dalam ruang kelas SDN Muara Medak (Kelas Jauh). Anak-anak kelapa sawit ini selalu memulai kelas dengan mengulang kembali hafalan-hafalan surat-surat pendek. Dari bilik kayu ruang kelas 1 sampai kelas 3, anak-anak ini membuka pelajaran diawali dengan pengulangan hafalan, kemudian doa memulai belajar lalu ucap salam ke Ibu atau Bapak guru di muka kelas.  

Sepulang sekolah, serupa anak-anak seusia sekolah dasar lainnya. Mereka kembali ke rumah, rebahkan badan sembari menghabiskan makan siang di rumah masing-masing. Kemudian setelah Ashar, anak-anak Kampung Bandar Jaya kembali ramai berjalan beriring melewati jalur setapak kebun sawit, masing-masing-masing sudah menggendong Alquran di balik tasnya.

Dari jalan lintas kebun sawit itu mereka berbelok di simpangan pertama, sekira 100 meter dari simpangan itu, sebuah bangunan sederhana beratap seng dan berlantai semen menjadi tempat mereka mengaji sepanjang sore.

Abdurrahim lelaki transmigran Jawa-Lampung berusia 35 tahun mendapat tugas sebagai pengajar ngaji di sore itu, Senin (13/2). Bersama Istrinya Ia membimbing tak kurang dari 30 anak-anak Bandar Jaya mengaji Iqro sampai Alquran. Kata Abdurrahim, pengajar ngaji di kampung ini ada 12 orang. Bergantian seminggu mendapat giliran sekali.

Murid-murid mengaji Abdurrahim pun beragam, ada yang baru duduk di kelas 1 SD sudah lancar membaca ayat-ayat meski sedikit pemalu melantunkan suaranya, ada pula yang sudah kelas 3 SD tapi tak malu untuk terus mengulang dan mengulang kembali lembaran Iqro sebagai pengantar sebelum membaca Al Quran.

“Ya prinsipnya, selama anak mengaji itu masih mau berangkat, kita ndak boleh menolak untuk ngajarin mereka. Keinginan mereka untuk mengaji harus dimulai dari hati. Malah sekarang ini kalau hujan deras, anak-anak rela basah kuyup datang ke langgar ini, se-capai apapun Saya, ndak boleh menolak. Ikhlas lahir batin,” katanya mengisahkan.

Kalau bukan karena kekompakan Kampung Bandar Jaya, bisa jadi langgar tempat untuk anak-anak mengaji ini tidak pernah semarak, bahkan mungkin tidak pernah berdiri di atas lahan gambut kebun sawit. Abdurrahim mengisahkan, dulu sejak tahun 2011 anak-anak kalau mengaji mengisi rumahnya.

“Tapi ya mau bagaimana, gubuk saya sempit kecil ndak mungkin tampung semua anak-anak kampung ini,” tutur lelaki berdarah Tulungagung anak seorang transmigran Jawa-Lampung ini.

Warga Bandar Jaya pun tidak berdiam diri. Dari seorang penghuni Kampung, saudagar toko kelontong di Bandar Jaya asal Palembang, berakad mewakafkan sebidang tanahnya di tepi jalan untuk dijadikan tempat anak-anak mengaji. “Baru beberapa bulan ini, tempat mengaji anak-anak lebih luas. Mereka makin semangat datang mengaji ke sini.”

Tidak berhenti di situ, kesibukan anak-anak Bandar Jaya kembali direpetisi, tak jauh Alquran, tak jauh dari menjaga akidah mereka. Dari selepas shalat Maghrib ditunaikan di Musola Kampung Bandar Jaya, Ustadz Komaruddin, sesepuh kampung sekaligus Imam Musola masih menyempatkan untuk membimbing anak-anak mengaji lagi sampai kumandang adzan Isya.
Artinya, dalam satu hari, ada dua kali kesempatan anak-anak Bandar Jaya sejenak mengaji juga belajar mengeja huruf-huruf Hijaiyah dari buku Iqro.

Merekam ulang tentang waktu-waktu senja di Bandar Jaya mengingatkan tentang suasana desa santri di dalam sebuah kompleks pondok pesantren. Senja-senjanya diisi dengan lantunan Alquran dan semangat untuk belajar mengaji. Namun kenyataannya cerita ini tidak bermuara di sebuah pondok pesantren, cerita ini tentang si anak-anak kelapa sawit. Si anak-anak Kampung Bandar Jaya yang selalu dekat dengan musala dan langgar tempat mengaji.

Sementara itu, redup matahari Maghrib di Bandar Jaya belum menyurutkan semangat pekerja bangunan Sekolah Tepian Negeri ACT dan Cerah Hati. Persis di sebelah bangunan sekolah dasar anak-anak Kelapa Sawit, SDN Muara Medak (Kelas Jauh), ada bangunan baru yang sedang dikebut pengerjaannya pagi, siang sampai pukul 11 malam jelang dinihari.

Ruang kelas baru SDN Muara Medak (Kelas Jauh) adalah sebaik-baiknya kado untuk mereka anak-anak kelapa sawit yang terus merapal ayat-ayat dan mengaji sepanjang hari.

Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui keinginan hambanya. []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal