Beranda > Berita Terbaru
Pemulihan Pascabencana

Ada Sidang Kecil di Meunasah Grong Grong Krueng

19 Feb 2017
Ada Sidang Kecil di Meunasah Grong Grong Krueng

ACTNews, PIDIE JAYA – Melintasi sepanjang Jalan Banda Aceh-Medan, Kabupaten Pidie Jaya, tak sulit menemukan masjid dan meunasah. Tengok sisi kiri dan kanan jalan, setiap 200 hingga 500 meter sekali, mata akan dengan mudahnya menangkap rupa dua bangunan tersebut. Banyak di antara masjid dan meunasah itu yang sedang dalam tahap rekonstruksi maupun renovasi. Ya, sejak gempa berkekuatan 6,5 SR menghantam Pidie Jaya Desember lalu, ratusan masjid dan meunasah mengalami kerusakan ringan hingga total, sehingga memerlukan perbaikan.  

Beberapa hari kemarin, Kamis dini hari (16/2) gempa 5,5 SR sempat mengguncang kembali Kabupaten Pidie Jaya selama dua kali dalam selang waktu beberapa menit. Ada kekhawatiran di benak warga bahwa gempa tersebut akan berdampak pada pembangunan masjid dan meunasah mereka. Namun, syukur terucap ketika mengetahui tak ada dampak kerusakan yang berarti. Hingga kini, proses rekonstruksi dan renovasi rumah ibadah yang telah menjadi napas kehidupan masyarakat Aceh ini terus berjalan.

Menyusuri Gampong Grong Grong Krueng, salah satu kampung yang terletak di Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, konstruksi meunasah warga yang tengah dibangun ulang oleh ACT sejak Desember lalu, masih kokoh berdiri menunggu dirampungkan. Dari dalam bangunan meunasah, Ridwan Abdullah (55), Keuchik atau Kepala Gampong Grong Grong Krueng sedang memonitor jalannya proses pembangunan.

Di tengah perjumpaannya dengan Tim ACTNews pada Kamis (16/2), Ridwan berkisah betapa dirinya sempat khawatir jika gempa beberapa jam sebelumnya akan merusak bagian kerangka meunasah. “Lihat, Alhamdulillah masih utuh,” tunjuknya pada konstruksi bangunan meunasah.

Bagi Ridwan, meunasah yang pertama kali dibangun pada 2008 tersebut menyimpan banyak sejarah kegiatan warganya. Sebagai Kepala Gampong, Ia dan sederet perangkat gampong (kampung –red) lainnya sering menggunakan meunasah tersebut untuk musyawarah warga.

“Musyawarahnya macam-macam. Di sini kan mayoritas penduduknya petani, jadi yang namanya rapat tani itu lumayan sering diadakan. Saya, Kejruen Blang (perangkat gampong yang mengurus masalah tani), dan warga berkumpul untuk bahas masalah irigasi, putuskan kapan tanam padi, panen, sama kenduri hasil panen. Kalau kenduri itu kadang kita sampai potong kerbau besar,” kenang Ridwan.

Lima puluh meter di depan konstruksi meunasah, Ridwan menunjukkan pelataran kecil berukuran 4x2 meter persegi. Di sana, ada seperangkat peralatan memasak seperti tungku, blangong (wajan besar berdiamer 60 cm), dan dandang setinggi 100 cm yang sebagian besar lapisan luarnya sudah menghitam. Keuchik Grong Grong Krueng menjelaskan, area itu biasa digunakan sebagai dapur umum ketika ada kenduri panen ataupun kenduri anak rantau yang pulang ke kampung halamannya.

“Kita masak besar di sana untuk kenduri panen. Anak gampong sini yang pulang merantau juga biasanya potong kambing atau lembu dan dimasak di dapur terbuka itu. Pernah waktu itu dia (salah satu anak kampung yang merantau –red) menyembelih dua ekor kambing di sini. Lalu masakannya dihidangkan kepada warga yang ramai-ramai kumpul di meunasah ini,” ungkapnya.
 
Ada Sidang Kecil di Meunasah

Meunasah Grong Grong Krueng memang terbilang aktif digunakan sebagai pusat kegiatan warga setempat, termasuk para perangkat pemerintahan tingkat gampong. Bahkan, di meunasah itulah hukum-hukum adat di Gampong Grong Grong Krueng dibuat.

Di sana, hukum adat gampong dirancang dan diputuskan oleh Keuchik, Teuha Peut (tetua gampong yang mengurusi masalah hukum adat) dan Teuhalapat (asisten Teuha Peut).  Prosesnya tentu melalui musyawarah perangkat pemerintahan gampong yang diadakan di meunasah. Setelah mereka memutuskan peraturan/hukum adat baru, mereka mengundang seluruh warga gampong untuk hadir di meunasah untuk mendengarkan sosialisasi hukum adat yang beru ditetapkan.

“Misalnya, gampong kita punya Peraturan No. 5 yang berbunyi, ‘lembu tidak diperbolehkan berkeliaran di jalan karena dikhawatirkan akan memakan tanaman padi di sawah warga,’” jelas Anwar (43), Kepala Urusan Pemerintahan Gampong Grong Grong Krueng yang kala itu ikut berkumpul di pelataran meunasah.

Segala bentuk persengketaan dan pelanggaran hukum adat umumnya juga diselesaikan secara kekeluargaan. Meunasah lagi-lagi menjadi tempat mereka untuk penyelesaian perkara hukum adat tersebut.

“Dulu pernah ada yang ketahuan berjudi, sedangkan perjudian itu melanggar hukum adat kami yang selaras dengan hukum syariah. Si warga akhirnya dibawa ke meunasah. Pak Keuchik dan Teuha Peut beri dia pilihan: mau langsung dibawa ke polisi atau mengerjakan pembersihan lingkungan di gampong.  Itu sebagai peringatan agar dia jera,” lanjut Anwar.

Tentang hukum adat, Keuchik Ridwan amat menjunjung tinggi hal itu di gampongnya. Ia Iantas melantunkan dua baris sajak yang diakuinya sebagai filosofi hukum adat di Aceh yang sudah ada sejak zaman Sultan Iskandar Muda.

Adat Bak Po Teumeureuhom, Hukum Bak Syiah kuala. Qanun Bak Putroe Phang, Reusam Bak Laksamana (Adat berada pada raja/sultan, hukum berada pada ulama, perundang-undangan berada pada cendekiawan, pertahanan dan keamanan berada pada laksamana),” lantun Keuchik Ridwan dengan logat Acehnya yang begitu kental.

Sejak meunasah yang ia dan warga bangun secara swasembada itu hancur diguncang gempa, kegiatan musyawarah warga dan perangkat pemerintahan gampong untuk sementara ini dilakukan di Kantor Keuchik. Untuk kegiatan ibadah salat sendiri, dirinya dan warga gampong melaksanakannya di meunasah panggung yang terletak di depan meunasah yang tengah dibangun ulang.

Meunasah panggung tersebut terbilang tua dan hampir sudah tidak layak pakai. Dibangun pada 1969, meunasah tradisional milik warga Gampong Grong Grong Krueng itu dipertahankan keberadaannya oleh para tetua setempat mengingat nilai sejarahnya yang kuat.

Tak terasa pembangunan ulang Meunasah Grong Grong Krueng telah 50 persen rampung. Meunasah dengan desain tahan gempa tersebut sudah memiliki dinding yang solid dan lubang jendela serta pintu. Keuchik Ridwan tak sabar menanti selesainya pembangunan meunasah gampongnya. Katanya, sudah banyak agenda kegiatan yang akan dilaksanakan di meunasah baru itu.

“Kalau sudah benar-benar selesai nanti, kami mau adakan kenduri untuk meunasah baru ini. Rencananya akan menyembelih kambing atau lembu. Lalu nanti pengajian ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda, dan anak-anak juga akan dipindahkan lagi ke meunasah ini,” ungkapnya girang.

Bulan Mei menjelang Ramadhan, InsyaAllah warga Gampong Grong Grong Krueng akan punya bangunan meunasah baru. Ramadhan pertama di meunasah baru, Keuchik Ridwan sudah punya rencana.

"Setiap hari, buka puasa bersama tidak boleh absen. Nanti kalau ini (meunasah -red) sudah beres, akan dimusyawarahkan panitianya," tambahnya, tak lupa mengajak kami, ACTNews untuk mengunjungi gampongnya ketika Ramadhan tiba nanti. []

Penulis Dyah Sulistiowati