Beranda > Berita Terbaru
Emergency Response

Drama Ibu Hamil Tiga Hari Dikepung Banjir Brebes

19 Feb 2017
Drama Ibu Hamil Tiga Hari Dikepung Banjir Brebes

ACTNews, BREBES - Sampai dengan malam ini, Minggu (19/2) hujan deras masih saja mendominasi cuaca di sepanjang jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah. Lebatnya hujan berarti bertambahnya kekhawatiran warga Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Pasalnya sejak tiga hari terakhir, hujan lebat di sepanjang Pantura membikin luapan banjir tak terkira di wilayah Brebes. Beberapa pihak menyebut banjir di Februari tahun 2017 ini menjadi banjir terbesar dan terluas di Brebes sejak bertahun-tahun terakhir.

Selama 48 jam terakhir ini pula, perjuangan tim respons bencana Aksi Cepat Tanggap di Brebes terus berlanjut. Sepanjang malam tadi, Sabtu (19/4) sepaket tim dari Disaster Emergency Respons (DER) - ACT ditambah punggawa tak kenal pamrih dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) regional Jawa Tengah melawan dingin melintasi genangan banjir.

Istirahat malam mungkin sudah dilupakan sejenak, ada perahu karet yang terus berputar mengelilingi gang-gang sempit sejak malam sampai pagi. Perahu karet sangat dibutuhkan untuk evakuasi ratusan keluarga yang masih terjebak di dalam rumah masing-masing.

Sampai Sabtu pagi sekira pukul 08.00 WIB, banyak cerita direkam oleh tim ACT dari lokasi banjir Brebes. Kusmayadi selaku leader dari tim DER dan MRI sudah memimpin arahan sejak pagi buta. Agendanya masih serupa: menggerakkan tim untuk evakuasi warga, ditambah dengan distribusi sejumlah paket logistik. Dengan perahu karet dan perlengkapan rescue lengkap tim memulai pergerakan di wilayah Kelurahan Limbangan Wetan dan Limbangan Kulon, dua terdampak banjir Brebes paling parah.

“Tiidak terhitung berapa kali tim melakukan evakuasi warga. Baik warga yang sakit, atau yang akan mengambil logistik makanan keluar dari rumah,” kata Kusmayadi di Kelurahan Limbangan Wetan.

Dari kisah yang dituturkan sejumlah tim, sungguh tak ada kata lelah yang dirasakan mereka. “Capek itu hilang kalau melihat senyum merekah dari warga yang kami bantu. mereka ucapkan terimakasih. bahkan kemudian mendoakan kami agar selalu diberikan kekuatan untuk dapat terus membantu,” kata salah Daryadi salah satu punggawa DER.

Tentang evakuasi di tengah banjir menyisakan sedikit potongan cerita heroik. Sabtu sore (18/2) hari, saat tubuh sebagian tim relawan mulai lelah dan kedinginan, seorang pria memanggil tim dari kejauhan. Ia memasang wajah memohon bantuan agar dapat mengevakuasi Istrinya yang tengah hamil. Pria itu mengenalkan diri bernama Joko (25 tahun).
“Seketika itu pula Kami bergerak menuju rumah yang dituju. Sang istri telah menunggu kami di depan rumah yang terendam banjir tersebut dengan wajah penuh harap,” tutur Kusmayadi.

Dengan sigap tim membantu Anis (21 tahun) menaiki perahu. Kandungannya tampak mulai membesar. Main menyulitkan tim untuk menghindari hal yang tidak diinginkan ketika mengevakuasi Anis.

“Karena sedang mengandung 5 bulan, Mbak Anis terlihat kepayahan sekali untuk naik ke atas perahu karet. Sudah berhari-hari mbak Anis terjebak di dalam rumah. Karena kekompakan tim, Mbak Anis dapat menaiki Perahu dan kami antar keluar dari wilayah banjir,” lanjut Kusmayadi.

Ya, Ibu Hamil itu bernama Anis, kelahiran tahun 1995, masih cukup muda untuk seorang calon Ibu. Beliau bersama suami adalah salah satu warga Kelurahan Limbangan Wetan yang Rumahnya tenggelam karena banjir.

Menurut penuturan Sang Suami, Ia dan Istri sudah 3 hari hanya bisa berdiam di tempat yang lebih tinggi di dalam rumahnya. Banjir belum juga surut membuat Joko tak berani mengevakuasi istrinya seorang diri. Pasangan petani bawang itu hanya bisa pasrah sampai akhirnya tim evakuasi DER dan MRI datang.

“Kami mengantarkan Mbak Anis dengan sangat hati-hati, bisa saja perahu karet limbung dan terbalik karena gelombang air banjir yang cenderung tidak stabil. Fokus kami ke Mbak Anis dan si Jabang Bayi. Bayi. Evakuasi belum terlambat sebelum Mbak Anis kedinginan karena terlalu lama menunggu banjir surut,” pungkas Kusmayadi.

Kurang lebih 30 menit perjalanan tim mengantarkan Anis menuju pinggiran kampung yang memiliki dataran sedikit lebih tinggi. Anis memutuskan mengungsi di rumah sang mertua di Banjarejo sampai banjir surut.

Bagi Joko dan Anis juga si jabang bayi, usai sudah drama tiga hari dikepung banjir Brebes. Tim datang disaat yang tepat untuk mengevakuasi Anis dan calon bayinya keluar dari nestapa air bah.

Apalagi sampai malam ini listrik masih padam total di seluruh wilayah terdampak banjir. Tidak terbayang bagaimana nelangsa tiga hari dalam gelap Joko dan Anis bertahan di dalam rumah yang tenggelam banjir dalam kondisi hamil dan berisiko tinggi kedinginan.

Sementara itu, Minggu malam (19/2) beberapa titik di Brebes masih dikepung banjir. Selama hujan lebat terus mengguyur sepanjang Pantura, banjir akan naik turun sukar ditebak. Kebutuhan mendesak paling dibutuhkan berupa bantuan logistik makanan, selimut, pakaian layak pakai, susu bayi, dan obat-obatan. []
 

Penulis: Kusmayadi
Editor: Shulhan Syamsur Rijal