Beranda > Berita Terbaru
Pemulihan Pascabencana

Inilah Kisah Para Pemuda Meunasah

21 Feb 2017
Inilah Kisah Para Pemuda Meunasah

ACTNews, PIDIE JAYA - Tak sulit mencari meunasah di Gampong Rhieng Krueng, salah satu gampong yang berada di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Cukup berjalan 50 meter dari gapura gampong, langkah kaki otomatis akan berhenti di gerbang muka meunasah yang menjadi kebanggaan warga Gampong Rhieng Krueng ini.
 
Jumat siang (17/2), suasana di sekitar Meunasah Rhieng Krueng cukup terbilang lengang; tak ada kegiatan sosial maupun keagamaan yang diselenggarakan di sana. Maklum, meunasah yang sebelumnya turut hancur diguncang gempa Desember silam, kini tengah dalam proses pembangunan ulang. Padahal sebelumnya, setiap sepekan sekali selalu ada kegiatan keagamaan maupun sosial yang diselenggarakan di sana, tak terkecuali kegiatan kepemudaan.
 
Bagi pemuda Gampong Rhieng Krueng, meunasah sudah seperti rumah kedua. Setiap sepekan sekali, mereka aktif mengadakan majelis taklim di meunasah. Malam minggu menjadi agenda mereka untuk mengaji, mempelajari riwayat nabi (Barzanji), fiqih Islam, ilmu tauhid, hingga berdzikir. Dari aktivitas tersebut, Gampong Rhieng Krueng banyak melahirkan pemuda-pemuda yang mahir dalam murrotal dan Barzanji.
 
Menurut Anwar (44), bendahara Gampong Rhieng Krueng, desanya kerap mengadakan perlombaan zikir, murrotal, dan Barzanji bagi anak-anak dan pemuda. Perlombaan tersebut biasanya digelar di meunasah. Mereka yang menjuarai lomba tak jarang mewakili gampong mereka untuk mengikuti lomba serupa di tingkat kabupaten dan provinsi.
 
“Di Pidie Jaya, kami memiliki Pekan Kebudayaan Pidie Jaya (PKPJ). Diadakannya setiap tiga tahun sekali. Nah, Rhieng Krueng selalu mengirimkan salah satu pemudanya untuk mengikuti kompetisi itu,” jelas Anwar.
 
Meunasah juga dimanfaatkan para pemuda di Gampong Rhieng Krueng untuk mengadakan Festival Anak Saleh. Bekerja sama dengan mahasiswa-mahasiswa KKN, festival tersebut tak pernah absen diadakan tiap tahunnya. Adalah Mahmud Rizki (27), ketua karang taruna setempat yang aktif menggerakkan teman-temannya untuk merealisasikan ide festival yang dicetuskan oleh sekelompok mahasiswa KKN di desanya tiga tahun silam.
 
Untuk Festival Anak Saleh, pesertanya terbuka bagi tingkat SD hingga SMP. “Sebelum festival diadakan, pemuda di sini dan para mahasiswa biasa kumpul di meunasah, kita bentuk panitianya dan tentukan lomba apa saja yang akan digelar,” ungkapnya.
 
Setiap tahun, Festival Anak Saleh selalu diminati anak-anak dan remaja. Selama beberapa hari, mereka berkompetisi untuk memenangkan sejumlah perlombaan seperti loba membaca Al Quran, lomba hafidz, dan lomba cerdas cermat. Namun, untuk saat ini, festival tersebut terpaksa ditiadakan dahulu karena kondisi meunasah yang masih dalam proses pembangunan.
 
Bukan hanya urusan perlombaan, mereka juga kerap terjun untuk mengurusi acara pernikahan warga, kegiatan maulid nabi dan Ramadhan, hingga aksi tanggap bencana. Pada 1997, banjir besar menerjang beberapa desa di Pidie Jaya, termasuk Rhieng Krueng. Para pemuda dibimbing oleh sejumlah tetua di sana mengadakan rapat darurat di meunasah untuk memberikan pertolongan pertama bagi warga desa.
 
“Waktu itu kita putuskan untuk mendirikan dapur umum di depan meunasah ini. Warga tidak bisa memasak di rumah karena terendam banjir, jadi satu-satunya pilihan adalah membuat dapur umum,” kenangnya.
 
Untuk pemuda Rhieng Krueng, Aksi Cepat Tanggap membangun kembali meunasah mereka yang runtuh dihantam gempa. Dalam jangka waktu sekitar dua bulan, agenda rutin mereka di meunasah akan aktif kembali. “Dengan keadaan ekonomi warga di sini yang cukup terpuruk selepas gempa, siapa yang tidak senang meunasahnya diperbaiki? Bangunannya baru, lagi,” tawa Anwar. []

Penulis: Dyah Sulistiowati