Beranda > Berita Terbaru
Pemulihan Pascabencana

"Di Meunasah, Kami Rutin Bermajelis Taklim"

22 Feb 2017

ACTNews, PIDIE JAYA - Sebagai provinsi yang dijuluki sebagai Serambi Mekkah, Aceh mempertontonkan bagaimana nilai-nilai Islam begitu menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. Jika ditanya ibadah apa yang paling sering dilakukan, seluruh masyarakat Aceh kompak menjawab: salat dan mengaji. Dengan tingginya frekuensi ibadah tersebut, tak heran jika banyak ditemukan masjid atau bahkan meunasah (masjid kecil).
 
Di setiap kampung atau desa sendiri, meunasah menjadi rumah ibadah yang paling banyak ditemukan. Umumnya, satu kampung memiliki satu meunasah. Namun, ada juga beberapa kampung yang mempunyai dua meunasah. Di meunasah inilah, warga salat berjamaah dan mengaji. Kegiatan mengaji bahkan menjadi aktivitas yang dirasa wajib diikuti oleh seluruh warga, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.
 
“Di sini kita menyebutnya majelis taklim. Ibu-ibu dan bapak-bapak punya jadwal majelis taklimnya sendiri,” ungkap Zulkifli, asisten imam Meunasah Meue.
 
Frekuensi majelis taklim di setiap meunasah pun variatif, ada yang dua kali pertemuan dalam sepekan, ada pula yang hanya satu kali dalam sepekan. Yang pasti, setiap pekannya, meunasah tak pernah absen dari kegiatan majelis taklim.
 
Ketika mengunjungi 10 meunasah terdampak gempa di Pidie Jaya pada Jumat (17/2), ACTNews berkesempatan melihat langsung kegiatan majelis taklim ibu rumah tangga yang diadakan di Meunasah Gampong Sawang, Kecamatan Bandar baru, Pidie Jaya. Di sana, pembangunan meunasah hasil swasembada warga lokal sempat terhenti akibat gempa. Bahkan, beberapa bagian dinding retak dan hancur akibat guncangan keras gempa bumi Desember lalu.
 
Karena kondisi bangunan yang masih belum sempurna, mereka melangsungkan majelis taklim di meunasah tua yang terletak 100 meter dari lokasi meunasah baru yang rusak. Selama dua jam, sejumlah ibu rumah tangga khusyuk menyimak kajian yang disampaikan oleh seorang ustadz di bangunan panggung khas Aceh.
 
“Iya, tadi kami belajar soal fiqih dan tauhid. Memang kalau setiap majelis taklim, dua topik itu selalu dipelajari. Nanti di akhir majelis, kami berdzikir dan shalawatan,” tutur Syamsyiah (62).
 
Syamsyiah dan para ibu lainnya biasa mengikuti majelis taklim setiap hari selasa dan jumat siang. Selain majelis taklim, ia dan kawan-kawannya juga kadang mengikuti kegiatan wirid (pembacaan surat Yasin) di meunasah.
 
Sudah beberapa bulan para ibu anggota majelis taklim menunggu meunasah mereka rampung dibangun. Kerusakan meunasah yang diakibatkan oleh guncangan gempa sempat membuat mereka sedih. Bagaimana tidak, mereka harus rela menunggu lebih lama lagi karena bagian-bagian meunasah yang rusak harus segera diperbaiki. Belum lagi mereka dan seluruh warga lainnya harus menyisihkan lebih banyak dana untuk memperbaiki bagian meunasah yang rusak.
 
“Sekarang sudah mulai lagi renovasi meunasahnya. Alhamdulillah ACT mau bantu. InsyaAllah ya, paling sebentar lagi sudah bisa mengaji di sana,” ungkapnya.

 
Wujud Syukur Kami 
 
Di Gampong Grong Grong Krueng, kaum ibu sangat bersyukur dengan dengan rekonstruksi meunasah mereka. Saat diberitahu meunasah mereka akan dibangun ulang, mereka sangat menyambut baik rencana ACT.
 
“Senang sekali pokoknya, soalnya itu yang kami tunggu-tunggu,” ujar Risa (36), salah satu warga Gampong Grong Grong Krueng.
 
Sebagai ungkapan rasa syukur, Risa dan ibu rumah tangga lainnya rutin menyediakan panganan ringan bagi para pekerja konstruksi meunasah mereka. Setiap harinya, dua warga secara bergilir bertugas untuk membuat kudapan seperti timpan (kue tradisional khas Aceh) dan kolak.
 
“Ini seperti apa ya, kita kan sudah dibantu, ya apa salahnya menyediakan makanan kecil untuk para tukang. Saling berbagi lah,” jelas Risa.
 
Banyak yang bilang, satu kebaikan yang ditunaikan akan berdampak pada kebaikan-kebaikan lainnya. Inilah kiranya yang tergambar pada masyarakat Grong Grong Krueng ketika mengetahui tak lama lagi mereka akan punya meunasah baru. []
 
Penulis: Dyah Sulistiowati