Beranda > Berita Terbaru
Tepian Negeri

Lembaran Surat dari Anak-anak Kelapa Sawit

23 Feb 2017
Lembaran Surat dari Anak-anak Kelapa Sawit

ACTNews, MUSI BANYUASIN - Angan anak-anak Kampung Bandar Jaya itu sederhana saja; punya sekolah bagus, lalu menjadi orang kaya dan punya kebun sawit luas.

Hilangnya kehadiran televisi, internet, bahkan gawai canggih berlayar sentuh di kampung tanpa listrik ini sama sekali tidak membuat rutinitas hidup anak-anak Kampung Bandar Jaya berubah menjadi suntuk. Hari-hari mereka penuh dengan kesederhanaan dan permainan seru di antara rimba kebun sawit. Misalnya saja, meski hujan lebat, lumpur di sebelah kebun sawit tetap bisa menjadi lapangan bola yang seru.

Dari hari-hari dan hal-hal sederhana itulah mereka mencipta ulang mimpi dan cita-cita. Mimpi sederhana yang dimulai dari satu hal; ingin punya sekolah bagus, tidak lagi berdinding papan kayu, tidak lagi banjir kalau hujan deras tanpa ampun mengguyur sekolah mereka.

Mereka sadar satu hal, tanpa melewati proses belajar yang tekun, cita-cita sesederhana apapun sulit tercapai.

Jauh di pelosok kebun sawit, jauh dari tepian jalan lintas Bayung Lincir-Jambi, sekira dua jam – tiga jam perjalanan lewat jalur tempur berlumpur, si anak-anak Kampung Bandar Jaya ini menyimpan mimpi mereka sepanjang malam. Mimpi itu kemudian yang menggerakkan semangat tiap pagi untuk berangkat ke sekolah. Menyapa kawan dan ibu-bapak guru di dalam ruang kelas sederhana, berdinding papan, dan berlantai semen.

Sampai ketika sebuah kado istimewa datang ke Kampung Bandar Jaya. Sebuah bangunan sekolah baru akan dibikin untuk mereka! Si anak-anak kelapa sawit bakal melihat mimpi mereka terkabul di depan mata.  

Hari itu, Selasa (14/2) mimpi anak-anak Kampung Bandar Jaya sebentar lagi terpenuhi. Sebuah bangunan gagah berdiri hampir rampung, ruang kelas baru, dari Aksi Cepat Tanggap dan Cerah Hati.

Sementara menunggu mimpi itu terkabul, ACTNews mencoba mengintip lebih jauh tentang apa yang tersembunyi dalam hati kecil mereka. Siang itu, di antara jam pelajaran, kami meminta anak-anak di dalam ruang kelas tiga untuk menuliskan dan menggambarkan perasaan apa yang mereka sembunyikan, kalimat apa yang bakal mereka ucapkan ketika ruang kelas baru itu rampung.

Kebetulan saat itu, sembilan orang anak kelas 3 SDN Muara Medak Kelas Jauh sedang menandaskan waktu jam pelajaran Bahasa Indonesia. Lembaran surat yang mereka tulis bertutur apa adanya. Penuh emosi bahagia di tiap baris kalimatnya.

“Terima kasih ACT dan Cerah Hati. Sudah memberikan bangunan yang cukup besar dan juga bangunannya tidak papan lagi. Sekolah kita menjadi indah. Sebentar lagi bangunan akan jadi. Sebentar lagi penaikan kelas. Kelas tiga akan pindah kelas 4 (empat). Murid/siswa senang sudah punya bangunan cukup besar. Terima kasih ACT Cerah Hati sudah membantu kita semua. Terimakasih, da-da-da.
 – Dari Misbakhul Anam. Semoga Alangkahmu (langkahmu, -red) Baik.”


Lembaran yang lain memuat barisan paragraf yang berbeda. Tapi tetap tulus apa adanya.

“Terima kasih ACT dan Cerah Hati. Berkat bantuan gedung sekolah dan dindingnya tidak papan lagi, tetapi tembok. Lantainya keramik, bangunannya tidak bocor lagi. Jendelanya kaca dan murid-murid pun senang karena bangunannya cukup besar dan indah. Terima kasih ACT dan Cerah Hati, kalian semua sudah membantu sekolah kami. – Dari Jaga Bayu.”

Di surat yang lain, emosi bahagia pun tertulis polos sekali.

“Terima kasih ACT dan Cerah Hati. Terima kasih telah membangun sekolah kami. Sekolah itu menjadi baru. Kami akan janji menempati sekolah itu untuk kelas empat. Dan gedung itu dindingnya menjadi tembok. Terima kasih ACT. Kami cuma bisa bilang seperti itu. da-dah. – Dari Agus Ali Mustofa.” 

Tiga lembar surat dari si anak-anak kelapa sawit. Tutur kata di lembaran surat itu tertulis apa adanya. Tentang rasa bahagia akhirnya mimpi itu bisa terpenuhi. Mimpi sederhana ingin punya ruang kelas baru, ingin bersekolah di bangunan yang bagus seperti kawan-kawan mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Hari in, pekan ketiga Februari 2017, bangunan kelas baru itu sudah rampung. Warnanya hijau, putih,dan merah, cerah meski tersembunyi di balik rimbunan kebun kelapa sawit. Temboknya kokoh bukan lagi papan. Lantainya juga tak lagi semen. Ada ubin putih yang dingin, bersih, dan nyaman untuk belajar sembari lesehan. Jendela dan pintunya juga dari kayu terbaik.

Untuk Misbakhul Anam, Jaga Bayu, Agus Ali Mustofa, juga kawan-kawan mereka yang lain, sekolah ini menjadi ladang baru untuk memanen mimpi. Setinggi langit, seluas kebun sawit ribuan hektare. []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal