Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity

Hangatkan Gaza Kembali

23 Feb 2017
Hangatkan Gaza Kembali

ACTNews, GAZA – Tiga pekan sudah banjir merendam sejumlah daerah di Gaza. Dampaknya tidak main-main: sudah belasan jam listrik perumahan di seantero Gaza mati. Siang berganti malam, kota seluas 365 km persegi dan berpenghuni sekitar 2 juta jiwa itu lantas diselimuti kegelapan total.
 
Pembatasan listrik di Gaza memang bukan hal baru. Tetapi semakin lama semakin parah. Biasanya listrik menyala selama delapan jam sehari. Kini listrik hanya menyala selama tiga sampai empat jam, lalu padam berbelas-belas jam kemudian. Waktu menyalanya pun tidak tentu. Tak ayal, ketika listrik tiba-tiba menyala, orang yang sedang tertidur pun akan segera terbangun demi melakukan berbagai macam hajat hidup mereka yang membutuhkan listrik.
 
Beberapa hari terakhir, pemadaman listrik di Gaza berlangsung di malam hari. Setiap sudut kota tampak gelap, tak terkecuali rumah warga. Angin dingin masuk menyergap jiwa-jiwa yang meringkuk dibalik dinding yang hancur akibat hantaman bom. Di antara mereka, ada Yousef Al Na’mi dan 12 anggota keluarganya yang duduk berdesakan di rumah sempit mereka yang kebanjiran.
 
Di Gaza, musim dingin memang tidak dilalui dengan salju. Namun, hujan lebat dan sistem drainase yang buruk (sebagian besarnya rusak akibat serangan Israel 2014 lalu) menyebabkan banjir di sejumlah area di Jalur Gaza akhir-akhir ini. Ruas-ruas jalan dan puluhan rumah di Gaza City, Rafah, Khan Younis, Beit Hanoun, dan Jabaliya ikut menjadi korban. Di beberapa titik bahkan diperlukan tim penyelamat untuk mengevakuasi korban banjir dengan perahu kayu atau perahu karet. 
 
Bisa dibilang, kehidupan di Gaza tanpa banjir pun sudah sulit. Delapan puluh persen penduduknya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk sekadar memunuhi kebutuhan pangannya. Di Rafah misalnya, pekerja peternakan ayam di sana harus berjuang menerjang air setinggi pinggang orang dewasa untuk menyelamatkan ayam yang tersisa. Bagaimanapun juga, itu adalah sumber pencaharian sebagian orang yang masih beruntung untuk mempunyai pekerjaan di sana. 
 
Seperti cerita yang dilontarkan oleh Ummu Shadi. Suaminya tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, sehingga mereka tidak bisa memberi selimut atau pemanas. Ummu Shadi, seperti halnya Yousef Al Na’mi, adalah salah satu dari penerima manfaat program Winter Aid bulan lalu. 
 
ACT telah mendistribusikan selimut, baju hangat, dan pemanas untuk sekitar 100 keluarga di Gaza Desember silam, terutama mereka yang baru saja menjadi korban banjir. “Saya ingin berterima kasih kepada para donatur di Indonesia karena telah membantu kami dan telah memberikan kami selimut, penghangat, dan baju hangat untuk anak-anak saya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berlipat.” ucap bapak paruh baya itu sambil tersenyum.
 
Gaza terendam banjir dan udara musim dingin masih menyelimuti tiap sudut kota. Untuk mereka di Gaza, program musim dingin ACT belum selesai. Bulan ini insyaAllah ACT kembali akan mendistribusikan bantuan untuk masyarakat Gaza.
 
“InsyaAllah kita masih akan mengirimkan paket musim dingin untuk masyarakat Gaza. Jumlahnya sekitar tiga ratus lagi. Paket tersebut terdiri dari dua buah kasur, satu buah selimut, dan paket makanan yang terdiri dari sayur-sayuran. Hal ini karena selain membutuhkan bantuan selimut dan penghangat, mereka juga masih mengalami krisis pangan yang kian memburuk akibat banjir.” ucap Rudi Purnomo, Manager Global Humanity Response.
 
Rencananya, pekan depan ratusan paket musim dingin tersebut akan menyapa warga Gaza yang terdampak banjir. Cuaca boleh dingin, namun kepedulian yang terus mengalir bagi warga Gaza akan selalu hangatkan mereka. []
 
Penulis: Aisyah Darojati
Editor: Dyah Sulistiowati
Sumber Gambar: Hareetz & ACT