Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Qatar, "Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe"

23 Feb 2017
Qatar,

N.Imam Akbari | Senior Vice President ACT
 
Muhibah kemanusiaan ACT ke beberapa kota di Qatar, 18-21 Februari‎ 2017 lalu memotret semangat dan fenomena tersendiri tentang negeri sejahtera di Timur Tengah ini, wabilkhusus pada elan filantropinya.


RASA syukur senantiasa melingkupi perjalanan kami untuk misi edukasi kemanusiaan. Dua ikhtiar yang kami sandang: bersua dengan diaspora Indonesia dan bersilaturahim dengan lembaga kemanusiaan Qatar. Dua misi ini, tertunai sudah, menjadi pembuka babak baru kemanusiaan ACT di Qatar.

Beberapa event ‎sudah diagendakan. Kami bawa "bintang" dalam muhibah kemanusiaan ini, antara lain Wakil Bupati Pidie Jaya, Aceh, Said Mulyadi, salah satu unsur Pemerintah Aceh Jaya. Beliau khusus menjelaskan dalam perspektif pemerintah ikhwal bencana gempa bumi yang menimpa rakyatnya. Berbeda dengan event serupa di tempat lain yang biasanya mengandalkan figur publik atau ustadz kondang, diaspora Indonesia maupun institusi kemanusiaan Qatar memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi jika sebuah pesan melibatkan unsur pemerintah terkait.

Benar saja. Pada event pertama dari rangkaian muhibah kali ini, ‎di Al-Khor, ACT mendapat sambutan hangat. Di kota inilah, diaspora Aceh terbanyak - bukan saja di Qatar bahkan di dunia, mencapai sekitar 4.000 keluarga. Event ini berlangsung lancar meski di luar gedung terjadi hujan badai. Turut hadir pada acara ini, Duta Besar RI Marsekal Madya (Purn) Muhammad Basri Sidehabi, yang datang dari Doha.‎ Berturut-turut event berikutnya setelah Al-Khor,di kota Wakra dan Doha. 

Muhibah ini demikian menyemangati, terlebih Qatar sendiri salah satu negara kaya dunia. Sekitar tiga jutaan penduduknya didominasi “IPB”; India-Pakistan-Bangladesh, 400‎ ribu Qatari, 300 ribu Filipino, 35 ribuan warga Indonesia (lima ribuan tenaga kerja Indonesia skillful dan berpendapatan tinggi hingga setara ratusan juta rupiah; sisanya berprofesi 'asisten domestik' - sebagiannya bermasalah sehingga ditampung di shelter KBRI)‎.
 
Duta Besar RI untuk Qatar Muhammad Said Sidehabi mengungkap peran filantropis Qatar, terutama untuk Indonesia. "Kami mengapresiasi Pemerintah Qatar atas kontribusi selama ini dalam membina hubungan bilateral RI-Qatar melalui diplomasi sosial budaya. Qatar aktif memberikan bantuan sosial dan pendidikan ke Indonesia khususnya pada bidang pengembangan dan pemulihan daerah yang terlanda bencana." Qatar juga bermaksud mendirikan rumah sakit di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi NAD yang luluh lantak akibat gempa pada 7 Desember 2016 lalu.
 
Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Duta Besar Indonesia untuk Qatar dengan Menteri Urusan Islam dan Waqaf Qatar, H.E. Dr. Ghaith Bin Mubarak Ali Omran Al-Kuwari pada 22 Februari 2017. Dalam pertemuan itu, Dubes Basri menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim moderat terbesar di dunia, dan saat ini semakin banyak masyarakat muslim Indonesia yang tertarik untuk menjadi penghafal Al Quran. 
 
Respon Menteri Ghaith Al Kuwari, "Persaudaraan dengan Indonesia telah terjalin lama dan Qatar selalu siap bekerjasama dalam isu-isu bilateral yang menjadi perhatian bersama, termasuk permasalahan terkait ummat Islam." Ini bukan ungkapan basa-basi, karena Qatar sendiri telah memberi banyak kemudahan bagi 40 ribuan komunitas Indonesia di Qatar dalam memperoleh pendidikan keagamaan, termasuk mendatangkan secara berkala ustadz kondang dari Indonesia untuk memberikan tausyiah kepada masyarakat Indonesia di sana. 
 
Sejak tahun 2004, Qatar mempekerjakan mutawwa (Imam dan Muadzin) asal Indonesia yang hingga kini berjumlah lebih dari 60 orang. Dubes RI untuk Qatar mengatakan, pihaknya mengundang Menteri Ghaith Al-Kuwari untuk berkunjung ke Indonesia guna melihat perkembangan Islam di negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di Dunia.

‎Di Qatar, eksis sejumlah lembaga nonpemerintah yang besar, seperti Qatar Foundation, ROTA, RAF, Eid Charity, Qatar Red Crescent, Qatar Charity, Qatar Fund Development, dengan alokasi dana sosial sangat dahsyat. Kunjungan ke sejumlah kota di Qatar ini memantapkan keyakinan ACT, menilik kondisi dan atmosfer pemerintah dan masyarakatnya, negeri ini amat kondusif untuk membuka kantor perwakilan ACT/GIP di sana. 
 
Hal yang menguatkan optimisme kami, Kedubes dan komunitas-komunitas potensial diaspora juga mendukung kehadiran ACT. Aksi Cepat Tanggap memperoleh bantuan pula terkait ‎regulasi pembukaan perwakilan lembaga asing di Qatar. Sejumlah event dunia, biasa diselenggarakan di Qatar, sebagai bukti betapa negara ini memiliki stabilitas dan keamanan yang baik. Tahun 2022 misalnya, Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia. Kalau dibanding di sejumlah negara maju di Eropa, Qatar seperti negeri yang fasilitas umumnya amat terbatas. Misalnya transportasi umum, tidak dikembangkan di Qatar karena warganya sudah memiliki kendaraan pribadi.
 
Kemakmuran, berbanding lurus dengan filantropi. Itu terjadi di Qatar. ‎Dubes Basri mengamini. "Banyak bantuan termasuk untuk Indonesia, diberikan oleh lembaga-lembaga amal terakreditasi di Qatar, saat mendengar Indonesia terdampak bencana alam. Selama ini KBRI Doha telah memfasilitasi kiprah lembaga donor Qatar dalam berkegiatan di Indonesia antara lain Qatar Charity, EID Charity, RAF Charity, Sheikh Hamad bin Khalid Al Thani Foundation dan Awqaf Qatar," katanya. Basri ini juga menambahkan, kegiatan sosial yang dilakukan lembaga donor Qatar jarang memperoleh liputan media di Indonesia. "Sayangnya diplomasi sosial ini jarang terekspos," ungkap mantan anggota DPR ini. Setidaknya, artikel ini menunjukkan apresiasi atas kiprah sosial Pemerintah maupun lembaga sosial Qatar. Ya, Qatar - seperti pepatah Jawa, sepi ing pamrih rame ing gawe; berkarya tanpa pamrih.

Terkait kunjungannya ke Qatar, Wakil Bupati Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi NAD, Said Mulyadi Ali, mengatakan,"Tim survey Qatar Charity telah mengunjungi tiga lokasi di Pidie Jaya untuk mencari lokasi pendirian rumah sakit sebagai kontribusi sosial masyarakat Qatar."

Pejabat KBRI Doha, Boy Dharmawan juga mengungkapkan, Qatar Charity (QC) banyak memberikan bantuan bagi daerah bencana. Pada 2016, QC mengucurkan 741 proyek di Indonesia antara lain pembangunan 24 masjid, 7 pusat pelayanan masyarakat, 3 sekolah, 10 rumah dan 646 sumur gali dan 51 proyek penghasil income. Sejak beroperasi di Indonesia pada 2004, QC telah melaksanakan 5.802 proyek bantuan di berbagai propinsi.

Lembaga amal Qatar lainnya, seperti Eid Charity juga aktif memberikan bantuan. Pada awal Februari 2017, Eid Charity meresmikan dua panti asuhan untuk anak-anak yatim piatu, masing-masing senilai Rp 8,2 Milyar Rp. 8,8 Milyar. Panti asuhan tersebut dinamai Sheikha Mariam binti Jassim bin Ali al Thani dan Sheikh Abdullah bin Khalid bin Hamad al Thani terletak di Bogor. Panti ini diresmikan oleh Duta Besar Qatar untuk Indonesia, Ahmed bin Jasim al Hamar, Direktur Eksekutif Proyek Luar Negeri, Eid Charity, Sheikh Abdullah bin Mohammed al Naama. Untuk mempermudah menyalurkan bantuan, General Manager Eid Charity, Ali A. Al Suwaidi mengatakan pada 13 Februari 2017 lalu bahwa Eid Charity akan membuka kantor cabang di Indonesia.

Makin dermawan, makin filantropis. Ini nyata bagi Qatar. Seiring dengan itu pula, dengan doa Anda, ACT pun berencana membuka perwakilan di Doha, Qatar. ‎Bismillah, semoga Allah mudahkan rencana baik ini. Muhibah singkat di Qatar, telah memberi energi berkarya tersendiri. Catatan ini baru satu sisi. Sisi lainnya, pada saatnya akan diungkap Super Volunteer ACT lainnya, misalnya Mbak Peggy Melati Sukma yang sudah membersamai ACT sejak beberapa tahun lamanya.[]