Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity

Ketika Ketulusan Filantropi Dikriminalisasikan

26 Feb 2017
Ketika Ketulusan Filantropi Dikriminalisasikan

ACTNews, JAKARTA - Menjalankan misi kemanusiaan ke negara-negara konflik tidak begitu saja terlepas dari krikil rintangan. Di negara dengan tingkat krisis kemanusiaan dan isu politik yang tinggi, Suriah misalnya, segala bentuk intervensi luar menjadi hal yang begitu sensitif. Tak terkecuali dengan berbagai upaya penyaluran bantuan kemanusiaan.
 
Di negeri yang sedang di ambang kehancuran itu, upaya pendistribusian bantuan kemanusiaan dari sejumlah lembaga kemanusiaan dunia kerap dilabeli sebagai dukungan terhadap aksi terorisme yang dilancarkan oleh pihak-pihak tertentu. Prasangka atau tudingan yang lemah akan bukti tersebut tentu sangat disayangkan. 
 
“Sebagai insan kemanusiaan, jelas kami menyayangkan (tuduhan ini). Ironis sekali kalau sebuah keinginan membantu sesama di wilayah yang mungkin punya kerentanan dengan isu tertentu, lalu otomatis langsung dikaitkan dengan terorisme,” jelas Senior Vice President of Global Partnership Communication Aksi Cepat Tanggap, Imam Akbari, Jum’at (24/2).
 
Menurut Imam, mengaitkan bantuan kemanusiaan dengan terorisme dapat membunuh semangat kerelawanan. Hal ini dapat melemahkan semangat membantu sesama. “Tentu tidak bijak, bahkan berbahaya. Ini bisa menghancurkan semangat filantropi dan kerelawanan,” tambahnya.
 
Lebih jauh Imam menjelaskan, sebagai makhluk sosial, manusia punya kewajiban membantu sesamanya yang sedang berada dalam kesulitan. Islam mengajarkan pengikutnya untuk berbagi. Bahkan, dalam hadis, umat Islam diminta untuk memperbanyak kuah ketika memasak agar bisa membagikan masakannya kepada para tetangga.
 
“Ini menunjukkan betapa Islam sangat mengajarkan kita berkhidmat kepada tetangga kita. Seberapa besar kita bisa berkontribusi memikirkan masalah yang tak hanya ada di dalam negeri tapi juga global. Ini amanat dalam Pembukaan UUD 45, ikut serta menjaga perdamaian dunia,” tuturnya.
 
Aksi Cepat Tanggap, imbuh Imam, sangat meyakini bahwa diplomasi kemanusiaan sesungguhnya mampu meredam konflik. Memberi kontribusi pada kemanusiaan adalah bagian dari soft diplomacy. Ia mengingatkan, kemerdekaan Indonesia pun tidak lepas dari dukungan negara lain. Bagaimana saat Indonesia memproklamirkan diri, bangsa Palestina, Mesir, dan negara-negara dunia lainnya bukan hanya mengakui tapi juga memberi bantuan.
 
“Ini gambaran betapa kita tidak bisa hidup sendiri. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia tak  bisa hanya memikirkan diri sendiri,” terangnya.
 
Soal bantuan ke Turki, Imam menilai IHH sangat kompeten dalam pendampingan pengungsi. Selain itu,  IHH juga NGO terbesar di turki. Meskipun sangat dekat dengan pemerintah Turki, tapi IHH berusaha tetap netral dan menjaga jarak dengan poliitik. “IHH sangat mewanti-wanti terhadap lembaga mitranya dari luar negeri, yang secara kondisi tidak mungkin masuk Suriah,” jelasnya.
 
Ia lantas melanjutkan, sikap memukul rata bantuan ke pengungsi Suriah terkait dengan ISIS adalah cara berpikir yang tidak tepat. Hal ini bisa menganggu eksistensi lembaga kemanusiaan yang selama ini telah mengharumkan nama bangsa di pentas internasional.
 
“(Tuduhan) itu bisa mengganggu aktivitas kemanusiaan dan semangat filantropi. Ini harus didudukkan secara proporsional karena bahayanya ini bisa memadamkan semangat orang untuk membantu. Orang jadi takut dan terintimidasi untuk membantu. Kalau sudah begitu, apakah mereka yang menuduh itu siap menanggung ini semua?” Imam menanyakan.
 
Selama 12 tahun keberadaannya, ACT telah banyak berkiprah di ranah global dengan menjalankan banyak misi kemanusiaan. Bendera merah putih dikibarkan di 60 negara dalam setiap aksi kemanusiaan yang ditunaikan. 
 
Sejumlah kantor cabang baru juga terus dibuka, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Di Turki misalnya, ACT baru saja membuka kantor cabang baru dengan memperkerjakan profesional lokal. Ke depannya, ACT juga berencana untuk membuka cabang baru di Qatar sebagai komitmen lembaga untuk terus melebarkan semangat filantropi dan kerelawanan di dunia melalui misi-misi kemanusiannya.
 
“Jadi sungguh ironi kalau kemudian, sebuah ketulusan kemanusiaan dinodai dengan kriminalisasi,” pungkasnya. []
 
Editor: Dyah Sulistiowati