Beranda > Berita Terbaru
Kolom

Kemanusiaan di Media Sosial

26 Feb 2017
Kemanusiaan di Media Sosial

Iqbal Setyarso
Vice President ‎ACT
 
 
Ngobrol Kemanusiaan, sebuah event kasual untuk substansi yang serius, diselenggarakan oleh ACT Foundation, pada Sabtu (25/2) di Jakarta. Momentum ini menghadirkan pegiat media sosial, blogger, dan pegiat komunitas di dunia maya. Tak cukup media massa, media sosialpun ranah yang perlu "ditulari" semangat berkemanusiaan.
 
 
ACT meyakini, pegiat dunia maya ini merupakan kumpulan entitas ‎sosial yang memiliki potensi untuk berkontribusi luas mengedukasi kemanusiaan. Kalau ACT menyapa masyarakat media sosial, bukan karena mereka tidak humanis. ACT ingin memberi alternatif berkemanusiaan sistemik,  jalan perolehan asupan informasi dan kemudahan mengaktivasi. Gagasan kemanusiaan - salah satunya dengan ACT - dan memiliki motivasi kuat mereproduksi informasi kemanusiaan di dunia maya.
 
Sejauh ini, aktivitas media sosial ACT sendiri menunjukkan traffic yang meningkat. Pada kurun Januari-Desember 2016, akun Facebook-nya ‎membukukan statistik: tercapai 1.400 posts, tambahan 97.157 likes, serta 140 juta impressions dan 2,6 juta engagements
 
Dalam kurun‎ yang sama, statistik akun Twitter ACT menunjukkan lembaga ini telah berkicau sebanyak 44.900 tweets, memiliki tambahan 45.070 followers, 62,6 juta impressions, dan 750 ribu engangements.  Sementara itu, akun yang lebih baru juga mengalami pertumbuhan. Pada Instagram @ACTforHumanity, ‎tercatat 1.080 posts, tambahan 30.000 followers, dengan lebih dari 130 ribu engangements
 
‎Sampai 24 Februari lalu, akun Facebook AksiCepatTanggap mencapai 240‎ ribu fans, akun Twitter @ACTforHumanity 325 ribu followers, akun Instagram @ACTfor Humanity meraih 49.818 followers. Ini capaian dengan ikhtiar mandiri, belum banyak melibatkan secara khusus pegiat medsos di Indonesia, ‎baik di Jakarta apalagi di enam cabang ACT lainnya dan dan juga empat cabang baru yang sedang disiapkan tahun ini juga. 
 
Melibatkan pegiat medsos dalam kancah kemanusiaan‎ ditilik dari sisi ACT, cukup jelas: ACT bermaksud meluaskan capaiannya, bukan semata kuantitatif donasi. Donasi hanya efek, lebih dari itu, kemanusiaan bukanlah "donasi" semata, karena ACT tidak ingin memosisikan diri sebagai pelaku utama kemanusiaan. Mengutip statemen Ahyudin, Presiden ACT, "Ukuran sukses ACT bukan saat ia bisa melakoni semuanya, melainkan saat bisa menggerakkan partisipasi masyarakat, baik domestik - di Indonesia, maupun dunia."
 
Event Ngobrol Kemanusiaan, nampak sesuatu yang dirindukan. Karenanya secara sadar ACT melakukannya selektif. Maka, kalau ada pegiat medsos bertanya, bahkan menggugat karena tak diundang, ini karena mereka boleh jadi dipandang sudah mantap berkemanusiaan. Atau, dalam daftar undangan berikutnya. Diskusi singkat dari event yang hanya berdurasi sekitar dua jam, menuai pertanyaan yang bergradasi: dari pertanyaan dengan isu parenting sebagai isu sosial, sampai isu "menuntut" ACT lebih intens terjun mengedukasi seluas-luasnya semua skill yang dibutuhkan masyarakat untuk siap dengan segala bentuk krisis kemanusiaan.
 
Mengharukan, membahagiakan bahwa event ini bisa menangkap kebutuhan itu. Tapi, sudah saatnya event semacam ini‎ menjadi mandat banyak pihak - bukan hanya ACT. Dan untuk itu, Indonesia boleh menanti kelahiran institusi baru Global Philanthropy Institute (GPI), diinisiasi ACT khusus mengemban misi edukasi filantropi - bukan sekadar skill penanggulangan kemanusiaan. Kemanusiaan, diselesaikan dua pilar: philanthropy (kedermawanan) dan volunteerism (kerelawanan). Dan GPI, sedsng digodog untuk menjadi satu dedikasi ACT untuk negeri ini dan dunia. []