Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity

Deru Kelaparan Afrika

26 Feb 2017
Deru Kelaparan Afrika

ACTNews, JAKARTA - Semakin ke sini, bumi semakin memperlihatkan kekontrasan perilaku cuaca di berbagai negara. Di sejumlah besar negara di Eropa, badai salju tak henti-hentinya menghempas Benua Biru tersebut pada awal Januari silam. Sementara di Indonesia sendiri, curah hujan begitu tinggi hingga merendam banyak kota di berbagai provinsi. Ironinya, limpahan air ini tidak menyapa negara-negara di Afrika, benua yang identik dengan masalah kekeringan.
 
World Food Program menyebutkan fenomena El Nino yang mengintai Afrika selama dua tahun belakangan ini masih terus berlanjut. Kegagalan panen yang berimbas pada kerawanan pangan tak bisa dielakkan lagi seiring dengan kekeringan yang hampir melanda seluruh wilayah selatan Afrika. Southern African Development System (SADC) melaporkan, sebanyak 16 juta jiwa di tujuh negara di kawasan selatan Afrika membutuhkan bantuan kemanusiaan akibat tingginya krisis pangan di negara-negara tersebut. Kondisi tersebut diperkirakan terus berlanjut hingga caturwulan pertama di 2017.
 
Kelaparan nyata terlihat di Zimbabwe, salah satu dari tujuh negara terdampak. Sebanyak 4 juta jiwa atau 40% dari total penduduknya mengalami kelaparan akut hingga gizi buruk. Deru kelaparan juga terdengar dari Malawi, di mana 6,7 juta rakyatnya berada dalam jurang kerawanan pangan. Sementara itu, belasan juta penduduk terdampak lainnya menyebar di Lesotho, Madagaskar, Mozambiq, Swaziland, dan Zambia.
 
Lebih buruk lagi, tingkat kelaparan tersebut melambung tinggi di negara-negara terdampak konflik di Afrika. Pertengahan Februari lalu, PBB menyatakan kelaparan hebat tengah melanda Sudan Selatan, negara di bagian timur laut Afrika yang sudah dalam kemelut perang saudara sejak 2013.
 
Kelaparan akut yang mewabah di Sudan Selatan tidak sesederhana yang dibayangkan. Penyebabnya bukan lagi kekeringan, namun lebih kepada perang saudara yang telah menahun serta kolapsnya sistem ekonomi di negara yang baru meraih kemerdekaan pada 2011 tersebut. Joyce Luma, Kepala Perwakilan WFP di Sudan Selatan bahkan menyebut bencana kelaparan tersebut sebagai “man-made famine”, atau bencana kelaparan yang murni disebabkan oleh ulah manusia.
 
PBB lantas menyodorkan data yang telah dihimpunnya, yang menyatakan bahwa setidaknya 100 ribu jiwa, atau 1:3 keluarga di negara tersebut tengah dilanda kelaparan akut. Sementara 4,9 juta penduduk lainnya juga terancam memiliki nasib yang sama sehingga bantuan kemanusiaan berupa pangan dan dukungan asupan gizi amat dibutuhkan.
 
“Jika kita tidak segera bertindak, korban kelaparan tersebut—termasuk 250 ribu anak di antaranya—terancam tewas dalam beberapa bulan ke depan,” ungkap Jeremy Hopkins, Kepala Perwakilan PBB untuk Masalah Anak di Sudan Selatan.
 
Selain Sudan Selatan, PBB juga mengumumkan, negara-negara tetangga Sudan Selatan lainnya, seperti Nigeria, Somalia, dan Yaman, terancam berada di jurang kerawanan pangan yang sama. Krisis pangan di Nigeria menyeret 14 juta jiwa warganya ke dalam kelaparan massal, tak terkecuali ratusan ribu anak-anak yang tengah menderita gizi buruk akut.
 
Di Somalia sendiri sebanyak 6 juta jiwa atau separuh dari total jumlah penduduknya mengalami nasib serupa. Jika tidak ada aksi responsif, bencana kelaparan yang menewaskan 260 ribu jiwa di negara tersebut pada kurun waktu 2010-2012 dapat terulang lagi. 
 
Fakta mengenai puluhan juta jiwa yang beresiko kelaparan di empat negara terdampak konflik tersebut dan belasan negara di Afrika lainnya membuka mata masyarakat global, bahwa dunia nyatanya sedang dalam krisis pangan yang hebat. PBB bahkan memohon agar seluruh lembaga kemanusiaan dan seluruh masyarakat untuk menggulirkan lebih banyak bantuan kemanusian, khususnya pangan, sesegera mungkin.
 
Sekali lagi, dunia menampakkan kekontrasannya. Bukan hanya tentang perbedaan cuaca yang ekstrim, namun juga tentang perbedaan kondisi sosial. Sebagian dari kita dicukupkan nikmat pangannya, sebagian yang lain justru mengendap dalam massifnya krisis pangan dunia. Deru kelaparan terus bergemuruh. Dengan kondisi seperti ini, apakah kita sebagai bagian dari masyarakat global hanya bisa berdiam diri saja?
 
Editor: Dyah Sulistiowati
Sumber Foto: The Guardian, BBC