Beranda > Berita Terbaru
Emergency Response

Tim Medis ACT: Kualitas Air Sungai di Muara Gembong Semakin Memburuk

27 Feb 2017
Tim Medis ACT: Kualitas Air Sungai di Muara Gembong Semakin Memburuk

 
ACTNews, BEKASI – Karena letak geografisnya dekat dengan pantai, Desa Pantai Harapan Jaya/PHJ, Kecamatan Muara Gembong – Kabupaten Bekasi ini, kerap mengalami problem akibat air, baik kelangkaan air bersih maupun air banjir yang selalu menggenangi Desa tersebut.
 
Hal tersebut terungkap, ketika Tim Medis Aksi Cepat Tanggap/ACT menggelar Pelayanan Kesehatan Cuma-Cuma dan distribusi bantuan natura untuk warga Kampung Bulak dan Kampung Sungai Labuh, Desa PHJ, Kecamatan Muara Gembong, selama 2 hari, Sabtu-Minggu (25-26/2).       
 
Di bulan Februari 2017 ini, intensitas hujan terus mengguyur Kecamatan Muara Gembong dan sekitarnya, termasuk di kawasan hulu sungai di Karawang dan Purwakarta yang menyebabkan 3 sungai yang melintasi Kecamatan Muara Gembong yaitu: Sungai Bekasi, Sungai Ciherang dan Sungai Cibeel meluap, yang merendam ratusan rumah warga.  Ketiga sungai tersebut bermuara di Desa PHJ.  
 
Selama 3 minggu lamanya mereka harus menderita tinggal di tengah kepungan banjir, mereka terpaksa ‘mengakrabi’ genangan air banjir yang ‘bertamu’ di rumahnya. Tidak hanya pemukiman warga puluhan hektar tanah pertanian di desa tersebut terendam banjir. Para petani harus ‘gigit jari’ lahan pertaniannya gagal panen, akibat terendam banjir. Padahal 80 persen matapencaharian di desa tersebut adalah petani padi dan palawija.
 
Seperti yang dirasakan Syamsu (38), Petani kacang panjang dan ketimun ini seluruh lahan pertaniannya gagal panen, karena terendam banjir selama beberapa hari. “Dari tahun ke tahun saya mah cuma bertani saja tidak bekerja lainnya. Dengan gagal panen ini menyebabkan sumber penghasilan keluarga saya terganggu, terus terang saat ini saya bingung untuk mencukupi kebutuhan keluarga,”keluhnya.  
 
Saat ini genangan banjir di sebagian besar desa ini sudah surut, setelah sebelumnya selama 3 minggu lamanya warga Desa tersebut sempat terisolir akibat banjir. Hanya di beberapa titik  yang masih digenangi air banjir, seperti di Kampung Sungai Labuh misalnya, air banjir sedalam betis orang dewasa masih menggenangi kampung ini.
 
Air banjir juga masih menggenangi sekolah SDN Pantai Harapan Jaya 03 sedalam betis orang dewasa. Sehingga menyebabkan kegiatan belajar mengajar di sekolah ini diliburkan selama banjir, para siswa  di SD ini tidak sekolah selama 3 minggu.  
 
dr.Feby Wulandari, Tim Dokter ACT mengungkapkan ratusan pasien yang berobat selama 2 hari ini banyak mengeluhkan penyakit pasca-banjir, seperti: penyakit kulit (gatal-gatal, jamur dan bisul), batuk-batuk, dierae, sakit kepala dan penyakit lainnya. Namun yang sangat mengejutkan, banyak pasien korban banjir  yang mengalami penyakit bisul terutama anak-anak.    
 
“ Saya kaget, ternyata banyak pasien di desa ini yang mengalami sakit bisul,” ujarnya.
 
Setelah Tim ACTNews melakukan interview dengan sejumlah warga ternyata, terungkap bahwa penyebabnya adalah Sungai Ciherang yang melintasi Desa ini, kualitas airnya semakin memburuk.
 
Menurut Marca (40), Ketua RT 01/RW 08 Kampung Bulak, buruknya kualitas air sungai Ciherang tersebut akibat limbah industri yang dibuang ke sungai Ciherang yang menyebabkan warga gatal-gatal.
 
“Kualitas air sungai Ciherang tahun ini sangat buruk, terbukti warga saat banjir tahun ini banyak yang menderita penyakit bisul, di banjir tahun sebelumnya tidak ditemukan warga yang mengidap penyakit bisul yang begitu banyak seperti saat ini. Ini akibat pabrik industri di sekitar hulu di daerah Cikarang dan Karawang seperti pabrik minyak, pabrik kertas dan yang lainnya yang membuang limbahnya ke sungai ini,”keluhnya.    
 
Marca menambahkan warganya banyak yang mengalami gatal-gatal usai terkena luapa banjir dari Sungai Ciherang ini.  Hal tersebut diperburuk dengan kebiasaan pola hidup warga yang tidak sehat.
 
“Sanitasi di desa ini buruk sekali, warga biasa mandi, cuci dan buang hajat semuanya dilakukan di sungai, jarang sekali warga yang mempunyai MCK sendiri,”tutur dr.Feby Wulandari.   
 
Problem air tidak hanya dirasakan Desa PHJ di saat musi hujan, di saat musim kemarau juga warga Desa sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Letak perkampungan yang berada pinggiran pantai menyebabkan saat musim kemarau air laut memasuki sungai.
 
Masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani mengalami kesulitan untuk bertani karena sumber untuk pengairan yakni Sungai Ciherang airnya menjadi asin. Penyebabnya adalah air laut yang masuk dari hilir Sungai Ciherang dan naik sampai kampung Begedor dan Kampung Bulak. Padahal jika sedang tidak musim kemarau air kiriman dari hulu Sungai Ciherang dapat menjadi sumber pengairan pertanian di sekitar di Desa ini.
 
Permasalahan yang masih pelik di saat musim kemarau adalah sumber air minum dan memasak. Biasanya masyarakat Desa PHJ menggunakan air dari sungai. Ada juga yang menadah air hujan dan di simpan di drum-drum besar. Tentu saja air sungai tidak layak untuk kesehatan dan saat musim kemarau masyarakat mengalami kelangkaan sumber air. masalah lain yakni sumur-sumur warga berair keruh dan berasa asin. Contohnya sumur bor di Masjid Al Rasyid yang berasa asin. Tentu saja tidak layak konsumsi. Warga di desa ini hanya pasrah saja.
 
Semoga pihak terkait, baik aparat pemerintah setempat maupun elemen non pemerintah, mau peduli menyelesaikan problematika warga desa ini, karena bentuk kepedulian kita semua adalah solusi bagi mereka.[]   

Penulis: Muhajir Arif Rahmani