Beranda > Berita Terbaru
Pemulihan Pascabencana

Dari Pati, Brebes, sampai Demak, Aksi Kesehatan Gratis Sepanjang Pantura

27 Feb 2017
Dari Pati, Brebes, sampai Demak, Aksi Kesehatan Gratis Sepanjang Pantura

ACTNews, SEMARANG - Bulan Februari ini menjadi momen kelabu dalam catatan bencana di Pulau Jawa. Dari wilayah Jawa Timur, Jawa Barat sampai ke titik sentral di Jawa Tengah bencana alam datang seperti bersahutan. Hujan lebat pemicunya, banjir terjadi meluas di mana-mana.

Pekan lalu sebelum banjir Jakarta dan banjir Jawa Barat ramai diberitakan, berderet catatan bencana menerjang wilayah Jawa Tengah. Sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, darurat bencana banjir terjadi di Pati, Demak, Kudus, Semarang, sampai ke Brebes.

Setelah melewati proses darurat bencana, pemulihan menunggu untuk diselesaikan. Kebanyakan pemulihan korban banjir berfokus pada keluhan kesehatan yang diderita hampir sebagian besar korban banjir. Menyikapi tantangan ini, Tim Aksi Cepat Tanggap Jawa Tengah bergerak bergerilya.

Menyusuri Pantura Jawa Tengah, dari mulai Pati, Kudus, Demak, Semarang Kota, hingga Brebes relawan dokter dan tim ACT Jawa Tengah menggelar aksi kesehatan gratis, Pelayanan Kesehatan di fase recovery berlangsung berhari-hari, gerilya dari Kota Pati sampai di lokasi banjir Brebes, tepian Pantura batas Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Trauma healing di Kudus

Mulai dari Kota Kudus. Dari jalur Pantura Kudus-Juwana sekitar pertengah Februari lalu tim ACT Jawa Tengah mendapat informasi tentang meluapnya aliran sungai yang mengalir dari wilayah Kudus ke Juwana. Pemukiman di Desa Jati Wetan, meliputi Dukuh Tanggulangin, Gendok, dan Barusan terendam banjir. Hampir seratus warga mengungsi selama 4 hari sampai banjir benar-benar surut.

Di titik ini, tim ACT Jawa Tengah, terdiri dari Giyanto, Aprian, Andhar, Irfan, dan Emma bertahan beberapa hari bantu pulihkan korban banjir. Aksi trauma healing digelar di Balai Desa Jati Wetan, lokasi satu-satunya posko pengungsian. Dongeng dikisahkan oleh Aprian, cerita tentang boneka lucu cici dan tiger sejenak melupakan duka banjir anak-anak Desa Jati Wetan, Kudus.

Pemulihan Kesehatan gratis di banjir Kali Gawe, Semarang

Hanya berselang hari dari kejadian banjir Kudus, gerilya tim ACT Jawa Tengah bersambung kembali. Tiga kelurahan di Kecamatan Gayamsari yakni Kelurahan Sawah Besar, Kali Gawe, dan Tambak Rejo tenggelam banjir setinggi lutut orang dewasa. Tim ACT Jawa Tengah dilengkapi dengan kawan-kawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) merespons banjir Semarang ini sejak tahap emergency.

Hampir dinihari pukul 23.00 tim rescue meniti perahu karet lewat gang-gang, evakuasi warga prioritas utama sampai adzan subuh bergema. Paginya, tim pemulihan bergantian datang membagikan nasi sarapan pagi untuk warga yang terjebak banjir. Sementara di saat yang bersamaan tim lainnya terdiri dari Giyanto, Nia, Nurul, dan Sugeng bergerak ke rumah-rumah warga membersihkan lumpur sisa banjir semalam.

Untuk banjir di wilayah Sawah Besar dan Kali Gawe, Semarang, ACT Jawa Tengah juga melanjutkan pemulihan dengan mendisitribusikan puluhan paket sembako langsung dari pintu ke pintu.

Sepekan berikutnya, ada aksi pelayanan kesehatan gratis masih di Kali Gawe, Semarang, Jawa Tengah. Ahad (19/2) dengan lima orang satu tim, termasuk perawat, dokter dan apoteker bergerak menuju lokasi banjir di Kali Gawe. Air banjir memang sudah surut tapi sisa-sisa nelangsa masih terasa jelas. Kebanyakan korban banjir mengeluhkan kesehatannya yang belum pulih selepas banjir.

Mulai dari badan pegal, pusing, batuk pilek, gangguan pencernaan, demam, sakit gigi, susah tidur, asam urat, kolesterol tinggi sampai gejala TBC berderet keluhan warga korban banjir. Sampai tengah hari, satu persatu warga datang dan pergi ke titik pelayanan kesehatan gratis ACT. Puluhan warga keluar dari posko pelayanan kesehatan sembari menenteng hasil diagnosis dokter juga sebungkus obat-obatan.

Pemulihan banjir Brebes hingga tuntas

Banjir belum berakhir, cerita banjir berlanjut kembali. Kamis dinihari (16/2) banjir meneruskan kisahnya di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dari Semarang, 180 kilometer ke barat menuju Brebes, tim ACT Jawa Tengah bergegas menuju Brebes. Ketika malam pertama banjir datang, kurang lebih 2550 jiwa warga di 6 desa mengungsi ke GOR Sasana Krida Adikarsa Brebes.

Merespons banjir Brebes, ACT Jawa Tengah dilengkapi dengan tim ACT yang datang dari Jakarta memfokuskan aksi ke titik Limbang Kulon, wilayah terakhir yang masih terendam banjir sampai berhari-hari berikutnya.

Di Limbangan Kulon, aksi lengkap dimulai dari evakuasi warga korban banjir, pembersihan wilayah bantaran sungai dan lumpur banjir di dalam rumah warga, distribusi bantuan logistik dan makanan siap saji, trauma healing untuk anak-anak korban banjir. Sampai pada urusan pemulihan petani bawang terdampak banjir, dan pembentukan tim relawan rescue wilayah Brebes.

Satu hal yang unik, dalam momen trauma healing, tim ACT Jawa Tengah berinisiatif mengajak anak-anak ikut keliling dengan perahu karet, menyusuri titik-titik yang masih terendam banjir. Tentu dengan pelampung yang terpasang di badan si kecil, tim mengajarkan ke anak-anak jiwa kerelawanan sejak dini, sekaligus memulihkan sedih mereka karena buku, dan semua seragam sekolah basah terendam banjir

12 hari banjir di Demak tanpa bantuan kesehatan sama sekali

Dari lokasi banjir Brebes, gerilya pemulihan dampak banjir masih berlanjut. Fokus utama pemulihan tetap pada urusan kesehatan. Melompat lagi ke timur, 206 kilometer dari Brebes ke Kota Demak, tepian Pantura. Ahad (26/2) aksi pelayanan kesehatan gratis digelar oleh relawan ACT dan MRI di Desa Lengkong, Kecamatan Sayung, Demak. Beberapa hari sebelumnya, Desa ini sempat terendam banjir berhari-hari.

Sepaket tim terdiri dari 6 dokter, 2 perawat, dan 1 apoteker berkolaborasi dengan Lazis Nurul Barqi, dan PT. Indonesia Power gulirkan aksi pelayanan kesehatan sampai tengah hari.
Sudah 12 hari sejak banjir menenggelamkan Desa Lengkong - Demak warga hanya bisa menahan keluhan sakit mereka tanpa bisa berobat. Kedatangan tim Pelayanan Kesehatan Gratis tentu disambut antusias.

Seperti yang diutarakan oleh Mbah Munawaroh berusia 51 tahun. Rasa syukur yang Ia utarakan tulus sekali. “Alhamdulillah, kulo bungah mbak, saged nderek priksa, gratis teras angsal obat, (Saya senang sekali mbak, bisa periksa kesehatan, gratis dan dapat obat pula),” kata Mbah Munawaroh kepada salah satu dokter ACT.

Sehari-hari, Munawaroh tinggal di Desa Lengkong bersama anak pertamanya. Keseharian Mbah Munawaroh hanya sebagai buruh pencari pakan kambing. Siang kemarin, beliau bersama dua orang cucunya tergopoh datang ke meja pendaftaran yang hampir tutup.

Mbah Munawaroh berkata bahwa Ia sedang demam, cucunya juga ikut tertular demam pasca banjir kemarin. Apalagi sang cucu baru saja terkena sakit campak, makin parah ketika banjir menerjang rumahnya. Dari sorot mata Mbah Munawaroh, ucapan terima kasih yang Ia ucap tulus. Melupakan semua lelah tim pelayanan kesehatan ACT.

Aksi gerilya pemulihan banjir dan pelayanan kesehatan gratis selama berminggu-minggu sementara berakhir di Demak. Namun bukan berarti kisah ini berhenti begitu saja. Masih ada program lanjutan, pemulihan kesehatan lainnya di titik banjir lain. Prinsip Total Disaster Management berlaku di sini. []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal