Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity-Save ROHINGYA

SOS Rohingya X (3): Kini Rohingya Miliki Hunian Hijau dan Layak

28 Feb 2017
SOS Rohingya X (3): Kini Rohingya Miliki Hunian Hijau dan Layak

ACTNews, Bangladesh, CHITTAGONG - Keterbatasan menjadi satu kata yang terus melekat pada diri pengungsi. Hari demi hari mereka lalui dengan keterbatasan perlindungan, gerak, sandang, pangan, dan papan. Masih tentang ratusan ribu pengungsi Rohingya yang berlindung di perbatasan Myanmar-Bangladesh, keterbatasan itu nampak dengan gamblangnya.
 
Akhir Desember lalu, saat Tim SOS for Rohingya X menyambangi beberapa titik lokasi kamp pengungsian di Bangladesh, wujud keterbatasan itu terpampang nyata pada kondisi tempat tinggal mereka. Dalam hunian sementara yang terbatas jumlahnya, lebih dari 65 ribu pengungsi baru hidup berdesakan dengan para pengungsi lama. 
 
“Buruk, sangat buruk. Hunian sementara mereka kebanyakan berdinding bambu dan beratap rumbia dan beberapa terbuat dari seng. Satu bangunan一tanpa ventilasi一bisa berisi dua hingga tiga keluarga. Selokan dangkal berlumpur melintas di beberapa bagian belakang hunian tersebut. Jarang kami temui MCK; rata-rata mereka melakukan aktivitas mandi, cuci, kakus di sungai,” ungkap Bambang Triyono, salah satu anggota Tim SOS for Rohingya IX yang menyambangi lokasi kamp pengungsian di Bangladesh dua bulan lalu.
 
Melihat kondisi memprihatinkan tersebut, rencana bantuan jangka panjang untuk penyediaan shelter atau hunian sementara bagi para pengungsi Rohingya pun disusun. Lima unit hunian mulai dibangun awal Januari lalu. Adalah Abdullah Al Nouman Beg, kepala daerah Dohazari yang telah berbaik hati menyewakan lahan miliknya untuk kepentingan pembangunan hunian sementara.
 
Rabu (1/2), Abdullah kembali menemani Tim SOS for Rohingya X mengunjungi lokasi pembangunan lima unit shelter tersebut. Bukan lagi sekadar kerangka atau fondasi bangunan, unit-unit shelter tersebut sudah berwujud tempat tinggal. Hunian seluas 3,5 m x 7,5 m itu terdiri dari tiga ruang: ruang tamu, kamar tidur, serta dapur. Warna cat  hijau menyelimuti dinding seng kelima hunian sementara itu. Tak lupa jendela kecil terpasang rapi di depan setiap hunian sebagai ruang sirkulasi udara.
 
Dengan selesainya proses pembangunan, lima unit hunian sementara tersebut akhirnya diresmikan. Ada lima keluarga yang akan menempati hunian baru itu. “Mereka adalah para pengungsi Rohingya lama maupun baru yang sangat membutuhkan, termasuk janda. Dan satu unit hanya untuk satu keluarga, jadi tidak perlu berdesak-desakan seperti yang kami lihat di beberapa lokasi kamp pengungsian,” ungkap Faisol, salah satu Tim SOS for Rohingya X. 
 
Faisol juga menambahkan, kelima unit hunian sementara merupakan tahap awal dari rencanan jangka panjang ACT untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi pengungsi Rohingya di Dohazari. Rencananya, total hunian yang akan dibangun adalah sekitar 100 unit. 
 
Abdullah sendiri mengaku senang dapat menyewakan sebagian lahannya untuk dijadikan tempat bernaung para pengungsi. Menurutnya, bagaimana pun juga mereka adalah manusia dan tempat tinggal sudah pasti menjadi kebutuhan utama.
 
Sementara itu, Muhammad beserta istri dan anak laki-lakinya sangat bersyukur dengan bantuan hunian yang ia terima. Sebagai pengungsi Rohingya baru, ia mengaku kesulitan mendapat tempat bernaung yang layak bagi keluarganya.
 
“Ini seperti mendapat dua rezeki sekaligus. Pertama saya diberi tunjangan guru oleh ACT. Dan sekarang juga ada shelter. Alhamdulillah wasyukurillah, semoga Allah membalas kebaikan ACT dan masyarakat Indonesia,” ungkap salah satu guru pengungsi anak tersebut penuh syukur.
 
 
Dukungan Penuh dari KBRI Dhaka
 
Humanity Card, Teacher Sponsorship, dan Integrated Community Shelter menjadi tiga program bantuan jangka panjang ACT untuk para pengungsi Rohingya. Insan Nurrohman selaku pimpinan Tim SOS for Rohingya X mengungkapkan, tiga program tersebut menjadi komitmen ACT untuk memuliakan pengungsi Rohingya yang hingga kini masih dilabeli sebagai etnis paling teraniaya di dunia.
 
Hal ini pula yang ia sampaikan kepada Inggris, Head of Commision KBRI Dhaka dalam lawatan tim ke kantor kedubes tersebut pada Kamis (2/2). Kunjungan singkat itu mendapat sambutan hangat dari Inggris dan beberapa staff KBRI. Mengetahui bahwa Indonesia memiliki lembaga kemanusiaan yang begitu peduli dengan nasib para pengungsi Rohingya di Bangladesh, Inggris mengaku bersyukur.
 
“Sungguh, apa yang Bapak-Bapak lakukan di sini一menolong sesama umat manusia一merupakan tugas yang begitu mulia. Saya atas nama Pemerintah Indonesia, sangat berterima kasih,” ujar Inggris.
 
Ia juga sangat mendukung penuh kegiatan-kegiatan kemanusiaan ACT di Bangladesh. Harapannya, silaturrahim dan kerja sama antara KBRI Dhaka dan ACT di bidang kemanusiaan tetap terus berlanjut di masa mendatang. []
 
 
Penulis: Mutsla Qanitah
Editor: Dyah Sulistiowati